20150713

(Katanya) Kalau Pakaianmu Sopan, Kamu Tidak Akan Diganggu

Nenek saya dulu gemar bercerita. Katanya, di bulan puasa seperti ini, semua setan diikat di neraka. Tak satupun yang bisa berkeliaran di bumi. Kenapa begitu, Nek? tanya saya yang waktu itu masih TK. Supaya manusia bisa khusyuk beribadah dan tidak berbuat jahat, jawabnya. 


Lalu saya-yang saat itu memang tergolong ceriwis-bertanya lagi, kapan mereka dibebaskan? Di malam takbiran, kata Nenek. Itulah sebabnya di hari Lebaran kamu makan kue banyak sekali sampai sakit perut, setan sudah masuk ke perutmu, kata Nenek sambil tertawa. Saya cemberut.

Bertahun-tahun kemudian-bahkan setelah Nenek tiada-saya masih percaya pada kisah itu. Saya bahkan menahan keinginan untuk menghabiskan kue Lebaran di rumah Tante saya karena takut setanlah yang akan menikmati kue-kue lezat itu sambil bersantai di lambung saya.



Sembilan belas tahun bernapas dan saya percaya dunia adalah tempat yang paling aman ketika bulan puasa.  Lalu, keyakinan saya yang dogmatis itu runtuh ketika saya tinggal sendirian.

Begini ceritanya.


Di minggu kedua bulan puasa tahun ini, saya terpaksa harus pergi ke kantor polisi. Bukan karena terlibat kriminalitas, tapi saya harus mengurus surat kehilangan untuk kartu ATM saya. Selesai dari sana, saya memutuskan pulang naik KRL meskipun hanya satu stasiun karena saya kebetulan sedang tak punya uang kecil untuk membayar angkot. 


Ketika saya berjalan melewati ITC Depok menuju stasiun Depok Baru, sekelompok laki-laki tiba-tiba melakukan catcalling. (To catcall: to make a whistle, shout, or comment of a sexual nature to a woman passing by).


"Mau kemana, Neng?" teriak seorang dari mereka.

"Sini, Abang anterin pulang," kata temannya yang lain-padahal jelas dia bukan tukang ojek. 
Yang lain bahkan melontarkan catcall yang lebih melecehkan dengan berteriak, "Pssst, pssst, Neng manis amat sih!"

Saya hanya tertunduk. Berjalan cepat-cepat. Dan takut.


Padahal hari itu saya berpakaian amat sangat layak; celana jeans, baju hampir selutut yang menutupi bokong, dan kerudung. But, they kept catcalling me. 


Itu kejadian pertama.


Yang kedua, terjadi dua hari yang lalu. Saat itu, saya hendak membeli makanan sahur di warung dekat kost. Saya keluar dengan memakai pakaian tidur berupa kaus oblong dan celana selutut, tidak berkerudung. Kenapa? Ya, karena saya ingin saja. 


Di perjalanan pulang, tiba-tiba ada segerombolan laki-laki yang duduk di atas motornya. Entah mereka mau SOTR atau apa, saya tak tahu. Dan lagi, di bulan puasa yang suci ini, di tengah-tengah ayat-ayat yang dikumandangkan untuk membangunkan orang sahur, they catcalled me. Again, in my very decent constume. 


"Abis beli makan apa, Cantik?" 

"Mau Abang temenin gak, makannya?" teriak mereka. 

Saya tertunduk. Berjalan cepat-cepat. Takut dan kesal. Sejak hari itu, saya tak percaya bulan puasa adalah bulan paling aman. Sejak hari itu, saya kepingin sekali bilang pada Nenek, "Nek, peraturan Tuhan sudah ganti! Sekarang setan tak lagi dikurung di bulan puasa."



***


Dua kejadian itulah yang membuat saya selalu meragukan pendapat orang-orang radikal yang menganggap perempuan dilecehkan karena pakaian yang kami kenakan tak senonoh. Like, hey, I got my very very very decent costumes and being catcalled anyway. 



Maka menurut saya-yang kerap kali jadi korban catcalling dan sama sekali tidak bangga karenanya-pakaian bukan variabel penentu. It's on their brain, though. 


Lalu, sebagian dari Anda yang merasa jenius akan berkomentar, "Tuh kan, pakai pakaian sopan aja di-catcalling, apalagi lo pakai rok seksi!"


Sekilas, argumen seperti itu terlihat masuk akal. Tapi, berkata seperti itu sama saja dengan berkata, "Tuh kan, pakai Waze aja masih nyasar, apalagi gak pakai Waze!" Sebuah komentar yang kelihatan logis tapi tak solutif. Pernyataan itu tak menyelesaikan persoalan mengapa Waze masih bisa membuat orang nyasar, atau apa kelemahan Waze sebenarnya sampai bisa membuat orang nyasar. 


Dalam kasus saya, komentar "Tuh kan, pakai pakaian sopan aja di-catcalling, apalagi lo pakai rok seksi!" tidak akan menjawab pertanyaan mengapa saya tetap di-catcalling walaupun saya berpakaian sopan. Atau...apa yang salah dengan laki-laki di masyarakat kita sehingga tetap melakukan catcalling terhadap perempuan, terlepas dari seberapa tertutup busana yang kami pakai. 

Komentar "Tuh kan, pakai pakaian sopan aja di-catcalling, apalagi lo pakai rok seksi!" hanyalah bentuk legitimasi bahwa laki-laki adalah makhluk yang hanya disetir nafsu sehingga tak bisa menahan diri ketika melihat perempuan, makanya perempuan harus mati-matian menutupi. Anda, para laki-laki, merasa seperti itukah? 


Jika Anda tidak merasa seperti itu, yuk, jangan pernah lakukan catcalling. It scares us. Semanis apapun ucapan yang kalian teriakkan di jalan kepada perempuan, percayalah, kami tak pernah merasa tersanjung karenanya. Malah, saya selalu merasa ingin menonjok laki-laki yang melakukan catcalling. Namun, ada perasaan takut nantinya kalian akan melakukan hal yang lebih buruk lagi dari sekedar catcalling jika kami melawan. 


Please, throwing a catcall to a girl in the street is not cool at all. You just make us put a "jerk" label on yourself. Mungkin sebagian laki-laki hanya berdalih "iseng doang", tapi bukankah mash banyak kegiatan iseng lain yang bisa dilakukan sekaligus tidak mengobjektifikasi manusia lain?

And after all, why can't you, men, leave us, women, alone in peace and safe? Is it too much to ask for?


Dan untuk perempuan, let's be brave. I promised myself that next time I get catcalled, I'll throw a heavy stone to them...and run away!




13072015
3:01 pm
I have some articles to be done here in Fabelio, but I can't help myself to write this first. 



20150531

Saya Ingin Menjadi (Seperti) Marissa Mayer!

Gambar diambil dari sini


Perempuan. Muda. CEO. Tiga kata itu melekat pada diri Marissa Mayer, CEO Yahoo! yang menjabat sejak tahun 2012. Selain menduduki posisi sebagai CEO Yahoo!, Marissa juga merupakan seorang istri dari Zachary Bogue dan ibu dari seorang anak laki-laki. Di tangannya, Yahoo! berhasil mengakuisisi Tumblr dan nilai saham Yahoo! meningkat 100% dalam setahun. Menjadi CEO di usia 37 tahun menjadikannya CEO termuda yang masuk dalam jajaran 500 CEO yang dirilis Fortune.

Salah satu langkah yang dilakukan Mayer adalah mengubah budaya organisasi Yahoo! Ia melarang karyawannya untuk bekerja dari rumah. Sebab, ia berpendapat, “Beberapa orang merasa lebih produktif ketika mereka sendirian, tetapi mereka lebih dapat berkolaborasi dan menghasilkan ide-ide yang inovatif ketika mereka bersama. Ide-ide yang hebat datang dari dua ide berbeda yang disatukan.” Meskipun menimbulkan kontroversi, terutama dari working mom yang bekerja dari rumah, hingga kini Marissa tetap mempertahankan peraturan ini.

                Sebelum menjadi CEO Yahoo!, Marissa merupakan Senior Vice President di Google. Di Google, kariernya pun tak kalah cemerlang. Ia sempat mendesain home page Google, menciptakan struktur manajemen produk, dan menjadi lini terdepan Google lewat perannya sebagai juru bicara.

                Marissa Mayer menjadi salah satu tokoh yang cukup menginspirasi saya karena ia dapat mencapai hasil yang cemerlang di bidang IT yang masih didominasi oleh para laki-laki. Hal ini ditunjukkan oleh angka statistik yang mengatakan bahwa di tahun 2003, 84% siswa yang ikut ujian SAT dan memilih jurusan Ilmu Komputer berjenis kelamin laki-laki. Berbicara masalah gender, Marissa dapat menyeimbangkan perannya sebagai CEO sekaligus istri dan ibu bagi anaknya. Di masa depan, I just want to be like her, finding the balance in my roles as a career woman and a good mom and wife.

Hal lain yang saya kagumi, Marissa merupakan seseorang yang menyukai tantangan. Setelah lulus SMA, ia mengambil jurusan Kedokteran di Standford University. Namun, akhirnya ia merasa pelajaran di Kedokteran cenderung fokus pada hapalan. Sementara itu, ia menginginkan jurusan yang melatihnya untuk berpikir kritis dan menjadi problem solver yang hebat. Maka, ia memutuskan untuk ikut kelas programming dan fokus pada bidang programming, terutama tentang artificial intelligence.

                Keberhasilan Marissa tidak diraih lewat jalan keberuntungan. Dari masa SMA, Marissa telah aktif di berbagai kegiatan. Ia menjadi pemimpin di setiap klub yang ia ikuti. Ia sempat menjadi Ketua dari Klub Bahasa Spanyol dan Kapten dari tim debat. Hal ini menginspirasi saya untuk melatih jiwa kepemimpinan sejak dini.
                Profesionalitas juga merupakan sesuatu yang telah mendarah daging dalam diri Marissa. Semasa sekolah, ia dikenal sebagai pekerja keras yang berusaha membuat semua pekerjaannya selesai dengan hasil terbaik. Di mata teman-temannya, Marissa dipandang sebagai anak yang “baik kepada siapa saja,” tetapi ia lebih suka melakukan hal-hal produktif dibanding bercengkrama atau hang out dengan teman-temannya. Saya setuju dengan tindakan ini karena menurut saya, untuk mencapai apa yang diinginkan memang ada hal-hal yang perlu dikorbankan.
                Hal terakhir yang saya kagumi dari Marissa adalah ia senang mengajar. Di tahun pertama ia bekerja di Google, Marissa juga turut mengajar di Stanford University. Ia telah mengajar 3000 mahasiswa ketika ia dipromosikan di Google. Saking sukanya mengajar, ia bahkan  membagikan pengetahuannya lewat program mentoring bernama Associate Product Manager  (APM) yang ia ciptakan. Melalui program ini, Marissa memilih pekerja junior di Google, memberikan mereka tugas, dan membuka kelas untuk mereka. Di akhir program ini, Marissa akan mengajak seluruh “muridnya” di APM untuk mengunjungi kantor Google di seluruh dunia.

                Menurut saya, StudentsxCEOs dapat membantu saya mencapai apa yang saya inginkan dengan mempertemukan saya dengan para CEO yang sudah terlebih dahulu mencicipi kesuksesan. Melalui pengalaman yang mereka bagikan, saya akan memahami bagaimana berlikunya perjalanan untuk mencapai puncak kesuksesan dan mempersiapkan diri menuju ke sana. Selain itu, sebagaimana Marissa yang senang mengajar dan membagi pengetahuannya, saya percaya nilai Share yang dipegang oleh StudentsxCEOs juga telah meresap di diri para alumninya. Dengan demikian, saya tak hanya bisa belajar tentang kepemimpinan dari para CEO, tetapi juga dari para alumni dan teman-teman sesama (InsyaAllah) Core Team di Batch 4 ini. 


Artikel ini disarikan dari sana dan sini. 

20150315

Ketika Saya Menawarkan Pelukan Gratis


Kamis, 26 Februari 2015, saya ditugaskan untuk memakai tulisan berbunyi “Free hug” dan melihat reaksi orang-orang atas pesan itu. Di hari itu, kebetulan saya mengikuti kelas Epistemologi di FIB. Seusai kelas Epistemologi, saya memakai tulisan itu di bagian depan dan belakang tubuh dan berjalan bersama teman saya, Josua, menuju Perpustakaan Pusat.

Dalam perjalanan menuju Perpustakaan, beberapa orang mulai melirik ke arah saya dengan tatapan heran. Beberapa dari mereka yang berjalan bergerombol juga mulai berbisik-bisik dengan temannya sambil sesekali menunjuk ke arah saya. Seorang mahasiswa Korea bahkan berjalan sambil menanyakan, “Free hug?” kepada temannya dengan suara yang cukup keras hingga saya bisa mendengarnya.

Sesampainya di Perpustakaan, saya ikut masuk menemani teman saya yang ingin mengembalikan buku. Saya menunggunya sambil mengecek handphone. Tiba-tiba, dua orang perempuan seusia saya dan juga memakai jilbab, mendekat dan menepuk pundak saya. Saya menoleh dan melihat tatapan kasihan di mata mereka. Kemudian, salah satu dari mereka berkata, “Mbak, ada yang menempelkan ini,” katanya sambil melepas tulisan “Free hug” dari punggung saya. Dari tatapannya, saya tahu mereka mengira saya adalah korban keisengan seseorang. Dalam hati, saya ingin tertawa, tetapi saya hanya tersenyum dan mengatakan, “Terima kasih ya, Mbak.” Ketika saya berkata demikian, mereka berdua melihat tulisan yang sama di perut saya dan merasa lebih heran. Namun, mereka memutuskan pergi. Saat itu, saya melihat mereka saling berbisik satu sama lain sambil melihat ke arah saya.

Kemudian, saya memasang tulisan itu lagi. Kami melewati Starbucks dan melihat Wulan, teman kami yang lain, ada di sana. Kami memutuskan masuk. Ketika masuk, tatapan pelayan di sana langsung mengarah ke punggung saya, begitu pula dengan beberapa pengunjung disana. Wulan bereaksi dengan lebih ekspresif. Ia langsung memeluk saya dan berkata, “Lo pengen banget dipeluk? Gue foto, ah! Ntar gue sebarin ke temen-temen gue. Ini lucu banget! Ada-ada aja sih lo, Dar.” Ia lalu mengambil foto saya dengan handphone-nya. Di saat yang bersamaan, saya mendengar bunyi jepretan kamera dari arah belakang saya. Saya berbalik dan melihat seorang pengunjung buru-buru memasukkan handphone-nya ke kantong. Saya rasa ia pun baru saja melakukan hal yang sama seperti Wulan.

Setelah bertemu dengan Wulan, kami memutuskan untuk ke Mac Room. Disana, saya bertemu Rafly, mahasiswa peminatan Iklan. Ia menyapa saya dan berkomentar, “Anak Kamed pada kenapa sih? Kemarin gue liat Andri pakai ginian, sekarang lo. Kalian pada kalah judi, ya? Nanti gue bikin yang lebih heboh deh di anak Iklan.” Saya hanya tersenyum mendengarnya, lalu ia bertanya lagi, “Bukan tugas dari dosen, kan?” Saya tidak menjawabnya dan mengalihkan pembicaraan.

Lalu, di Mac Room saya juga bertemu dengan Lucky, teman perempuan saya. Melihat saya, Lucky hanya berkomentar kepada Josua, “Tuh, Jo, free hug.” Josua kemudian berkomentar, “Lo buka kerudung dulu, Dar, baru gue peluk.” Lucky tertawa, tetapi ketika kami mengobrol, Lucky kembali bertanya, “Lo ngapain sih? Ini kenapa? Ada apa sih, lo? Pengen banget jadi center of attention?” Lucky menanyakan hal itu berulang-ulang seolah saya baru saja melakukan sesuatu yang melanggar hukum. Namun, saya dan Josua hanya tertawa dan tidak memberitahu Lucky alasan yang sebenarnya. Di tempat yang sama saya juga bertemu dengan Carla. Awalnya ia tak menyadari tulisan itu. Namun, ketika saya, Lucky, dan Josua berbalik pergi, ia sadar dan bertanya, “Free hug banget, Dar?”

Setelah itu, kami bertiga pergi ke Kantin Fasilkom untuk makan siang. Saat berjalan melewati meja-meja di sana, seorang cowo berkata kepada temannya, “Itu apaan, anjir..” sambil menunjuk saya. Orang-orang yang duduk di meja lain pun masih berbisik-bisi dan menujuk-nunjuk.

Karena saya ada kelas pada pukul dua siang, saya memutuskan kembali ke FISIP setelah makan. Di Polay, saya bertemu dengan Harry dan Nikel. Dari kejauhan, mereka berteriak, “Dara, freee huuug!” sambil merentangkan tangan. Mereka bereaksi seperti itu karena telah melihat beberapa teman yang lain memakai tanda yang sama. Di selasar Kopma, saya bertemu dengan Wildan dan Livi. Mereka mengajak saya ke Kancil (Kantin Psikologi) karena mereka belum makan. Dalam perjalanan ke sana, Wildan berkata, “Itu apaan sih yang lo pakai? Alay ih, gue malu jalan sama lo,” katanya setengah bercanda.

Saat itu Kancil sedang ramai karena tepat jam makan siang. Beberapa orang yang sedang makan juga masih melirik ke arah saya. Sambil menemani mereka makan, saya mengecek handphone. Ternyata, Wulan mengirimkan foto yang ia ambil di Starbucks ke grup LINE Pers Suara Mahasiswa yang saya ikuti. Foto itu sontak memancing komentar dari teman-teman saya. Apalagi, di bawah foto itu Wulan memberikan caption “Yang jomblo-jomblo lagi butuh pelukan, nggak? Go find her!” Teman saya ada yang berkomentar, “Ya ampun, Dar, segitunya..” dan ada pula yang berkomentar, “Udah kali, Dar..” Beberapa dari mereka mengirimkan stiker dengan ekspresi terkejut dan beberapa orang berkomentar “Tau, Dar, segitunya..” dengan diberi nomor berurutan. Komentar mereka mengisyaratkan bahwa mereka mengira saya begitu kesepian hanya karena saya tak punya pacar.

Di Kancil, seorang teman saya bernama Luhur yang duduk di belakang saya tiba-tiba memanggil dan bertanya, “Dar, itu ada tempelan apa? Lo sengaja, ya? Free hug? No, thanks.” Luhur yang saya kenal memang seorang yang religious, maka saya paham mengapa ia berkomentar seperti itu. Ketika kembali ke FISIP, saya bertemu Gayatri yang langsung memeluk saya sambil berkata, “Ih, Dara modus, minta dipeluk dengan pakai ginian!” Di selasar itu pula, ada sekelompok mahasiswa jurusan Antropologi yang membahas fenomena banyaknya anak Komunikasi yang memakai tanda yang sama. Penggalan obrolan yang saya dengar adalah, “Itu gimana ya, kalau kita peluk beneran?”

Lalu, saya ke mushola FISIP untuk shalat Zuhur. Ketika menunggu antrian wudhu, seorang perempuan bertanya kepada saya, “Eh, itu apaan sih? Temen-temenku pada ngetawain tuh. Bukan kamu yang diketawain, tapi anak-anak lain yang pakai beginian.” Saya balik bertanya,”Kapan kamu lihat mereka?” Ia menjawab, “Tadi, pas turun dari lift. Mereka pada nunjuk-nunjuk dan ketawa-ketawa gitu. Ini ada apaan sih? Kalian jurusan apa?” Saya hanya menjawab bahwa kami dari jurusan Komunikasi, tetapi tidak memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi.

Selesai shalat, saya merapikan jilbab di toilet mushola dan bertemu dengan Nabila yang langsung memeluk saya sambil berkata, “Mau dong, dipeluk.” Lalu, ada pula Rania yang menyapa saya dan memeluk juga sambil bertanya, “Udah dapat berapa pelukan? Ini Kamed, ya pasti?” Di saat yang sama, beberapa perempuan yang juga berjilbab berbisik-bisik dan menunjuk punggung saya. Mereka berada tepat di belakang saya dan tidak menyadari kalau bayangan mereka jelas terpantul di cermin. Tatapan mereka seperti berkata, “Ini perempuan apa sih, maksudnya? Berjilbab gini, tapi menawarkan free hugs.” Saya hanya tersenyum dan bergegas pergi dari situ.

Di teras mushola, saya bertemu Andika yang juga melontarkan rasa penasarannya. “Itu apaan sih, free hug, free hug. Gue ngeliatnya banyak orang yang make gitu. Eh, by the way, peluk gue doooong,” katanya sambil merentangkan tangan. Saya hanya tertawa melihat tingkahnya dan berjalan ke arah kelas. Namun, di depan gedung Nusantara, saya bertemu dengan Khanif dari jurusan Kriminologi. Dari jauh, ia berteriak, “Daraa, itu apa yang nempel?” sambil merentangkan kedua tangannya. Setelah meletakkan tas di kelas, saya lupa mengambil materi untuk hari itu. Saya ke IT Center dan bertemu dengan Joanna, Margaret, dan Serli yang langsung memeluk saya.

Di kelas, Mas Bestian, dosen Pengantar Ekonomi Media juga heran melihat kami yang rata-rata memakai tulisan yang sama. Ia bertanya apa yang sedang kami lakukan dengan tulisan itu. Erlangga menceritakan bahwa kami sedang mengobservasi tanggapan orang-orang jika kami menjadi medium untuk semua pesan. “Wah, metodenya menarik juga, ya!” kata Mas Bestian. Demikianlah tanggapan orang-orang ketika saya menjadi medium untuk pesan “Free hug”.

Dari pengamatan saya, apa yang saya lakukan membuktikan pernyataan “The medium is the message” yang dilontarkan oleh McLuhan. Reaksi yang dikemukakan orang-orang berbeda terhadap saya karena sebagai medium, saya membawa pesan tambahan, misalnya yang terkandung dalam gaya saya berpakaian dan kerudung saya. Tak satupun orang asing yang berani memeluk saya.

Mereka hanya melemparkan tatapan curiga dan heran seolah-olah berkata, “Kamu itu berjilbab, tidak seharusnya kamu berjalan-jalan dengan tulisan yang menawarkan pelukan ke orang-orang.” Reaksi yang saya terima dari perempuan yang juga berjilbab tentu berbeda dengan reaksi dari mereka yang tidak menggunakan jilbab. Ketika Josua, teman saya sendiri mengatakan, “Buka dulu jilbab lo, baru gue peluk,” saya baru sadar bahwa beberapa lelaki di sekitar saya mungkin sudah memeluk saya jika saya tak memakai jilbab. Hal ini jelas menunjukkan bahwa jilbab saya memberi pesan tambahan meskipun saya hanya berperan sebagai medium. Teman-teman saya juga menerima respon yang berbeda-beda dan hal ini makin memperkuat pernyataan McLuhan sebab pesan yang dikirimkan oleh dosen saya sama persis.


Dari praktik ini, saya juga belajar bahwa usahakan untuk tidak berbicara dan menertawakan orang dari belakang karena setelah saya mengalaminya, hal itu sama sekali tidak nyaman. 

20141120

Gigi Bijak

Pernah dengar istilah "wisdom teeth"?

Istilah ini merujuk pada empat gigi geraham belakang yang tumbuh ketika dewasa. Karena masa dewasa identik dengan kebijakan (sebenarnya tidak juga), maka dinamailah mereka dengan wisdom teeth. Namun, dokter gigi saya lebih suka menyebutnya dengan gigi bungsu karena paling akhir muncul. Bungsu dan bijaksana. Terdengar paradoks, memang. Tapi, keduanya hanya simbol yang maknanya arbitrer, bukan?

Mari beralih dari soal pemberian nama. 

Saya akan bercerita bagaimana empat gigi geraham belakang ini mengajari saya sebuah kebijaksanaan; tentang melepaskan.

Bermula dari sebuah malam yang biasa saja; dengan rutinitas yang sama. Tugas kuliah, kepanitiaan, dan liputan yang menanti untuk diperhatikan. Saya baru ingin membaca bahan untuk tugas kuliah ketika kepala sebelah kanan saya terasa sakit. Rasanya sakit sekali hingga saya tak mampu mencerna kata-kata yang terpampang di layar laptop. Awalnya saya menduga migrain itu disebabkan oleh minus mata saya yang bertambah. Tetapi dugaan itu dipatahkan oleh penglihatan saya yang baik-baik saja ketika memakai softlens dengan minus yang sama. Ditambah lagi, rasa sakitnya tak hanya di kepala bagian kanan, tetapi juga merambat ke leher. Akhirnya, saya memutuskan untuk mengakhiri aktivitas malam itu dan tidur.

Keesokan harinya, saya bangun dan rasa sakit itu masih ada, tetapi intensitasnya jauh berkurang. Dan hal itu membuat saya masih bisa menjalani aktivitas dengan normal. Namun, malamnya, rasa sakit itu datang lagi. Di sebelah kanan dan merambat ke leher. 


Lalu, rasa sakit itu tak pernah absen mengunjungi saya selama tujuh hari setelah  hari pertama ia datang.


Puncaknya kemarin malam. Sedikit berbeda, sakitnya tidak hanya di kepala sebelah kanan dan leher, tetapi juga di bagian gusi sebelah kanan. Sekitar pukul sebelas malam, saya merasa gusi saya membengkak. Orang tua saya berbicara melalui telepon, "Kamu hanya sakit gigi biasa, minumlah Ponstan dan besok pasti sudah hilang sakitnya."

Saya tak terima. 19 tahun ini saya rajin menyikat gigi setiap mandi, sehabis makan, dan sebelum tidur. Diagnosa sakit gigi sama saja dengan menegasikan upaya saya merawat gigi sepanjang hidup. Semacam tuduhan keji bahwa saya tak mampu merawat apa yang saya punya. "Tapi, gigi saya tak berlubang sama sekali," saya bersikeras di telepon sambil menahan sakit. 

Perdebatan malam itu usai dengan keputusan; saya harus pergi ke dokter gigi secepatnya. 

Hari ini, saya pergi ke sebuah rumah sakit dekat dengan pusat kota. Setelah mengantre cukup lama, akhirnya perawat memanggil nama saya. 

Dokter menanyakan keluhan saya. "Gusi saya bengkak dan tiap malam saya migrain parah, Dok," jawab saya kesal. "Padahal saya rajin sikat gigi," saya menambahkan, mengantisipasi ia berasumsi sama seperti orang tua saya. "Ini bukan sakit gigi biasa, Dok. Sampai ke leher sakitnya," saya masih juga bersikeras.


Dokter wanita itu tersenyum sabar, memeriksa sebentar, dan berkata, "Wah, ini gigi bungsunya sudah kelihatan sedikit. Kamu berapa umurnya? (melihat ke catatan pasien) Iya, biasanya gigi bungsu tumbuhnya di umur segini,"

Saya masih tidak mengerti. Saya pernah melihat sendiri sepupu saya yang demam karena gigi bungsunya tumbuh. Tapi, demamnya sehari, bukan migrain berhari-hari. 

"Saya curiga ada yang salah dengan posisinya ini," ujar wanita berkacamata itu. Ia lalu menyuruh saya berfoto di bagian radiologi dan kembali lagi nanti.

15 menit kemudian, saya datang dengan hasil panoramic rontgent gigi dan rahang saya.

"Lihat, empat gigi kamu posisinya miring. Masih berada di bawah gusi memang, tetapi rahangmu kecil, saya takut keempatnya tidak bisa tumbuh ke permukaan," ia memberi penjelasan.

Ya sudah, biarkan saja kalau begitu, saya menggumam dalam hati. Saya sudah hidup hanya dengan 28 gigi selama 19 tahun dan baik-baik saja. Tetapi, saya tetap menunggu penjelasannya.

"Efeknya, (saya lega ia langsung sampai pada bagian ini) migrain itu akan terus datang karena ada saraf yang tertekan. Dibilang berbahaya sih tidak juga, tapi akan sangat mengganggu," ujarnya.

Barulah saya paham. Empat gigi yang bahkan belum pernah saya lihat wujud aslinya ini yang menyebabkan migrain dan sakit leher berkepanjangan itu. "Lalu bagaimana, Dok?"

"Sederhana, yang terpendam harus dikeluarkan. Atau akan melukai," ia berkata sambil tersenyum. "Walaupun cara mengeluarkannya akan jauh lebih sakit," tambahnya.

Saya terdiam lama, antara terperangah dengan kata-katanya dan penasaran dengan kalimat berikutnya.

"Bedah mulut."

Dua kata yang membuat saya bergidik nyeri. "Tidak ada cara lain, Dok?" saya mencoba mencari cara lain.

"Sayangnya, belum ada," jawabnya. "Bedah mulutnya tidak harus sekarang, tunggu kamu siap. Sampai kamu merasa bagian itu memang harus dilepaskan. Sampai kamu merasa akan lebih baik hidup tanpanya," dia melanjutkan.

Entah kenapa, ada bagian dari diri saya yang merasa tersindir dengan perkataan itu sekaligus membenarkannya. Ia melanjutkan sambil menuliskan resep,

"Saya hanya bisa memberi obat pengurang rasa sakit, bukan penyembuh. Dalam kasus kamu, sembuh berarti melepaskan.

Lalu ia menyuruh saya datang lagi lusa untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis bedah mulut. Dari keempat gigi itu, harus dipilih mana yang akan dibuang terlebih dahulu. 


Saya mengucapkan terima kasih kepada dokter yang baik hati itu dan berjalan meninggalkan ruang prakteknya. Beberapa hal baru terlintas di pikiran saya.

Pertama, ada peristiwa yang memang terjadi di luar kontrol saya dan harus saya terima. Bentuk rahang kecil adalah hasil dari proses evolusi selama jutaan tahun yang tak bisa saya ubah. Upaya rajin menyikat gigi sepanjang hidup tak akan mengubah bentuk rahang saya.

Kedua, apapun yang terpendam, pada akhirnya memang harus dikeluarkan jika tidak ingin melukai diri sendiri, meski prosesnya akan terasa lebih sakit di awal. Entah itu empat gigi bungsu atau hal lain yang masih tertinggal. 

Ketiga, tak perlu takut terhadap hasil yang menanti setelah proses pelepasan itu. At least, we do some efforts to dismiss the continuous pain. Entah bedah mulutnya akan berhasil atau tidak nantinya, namun jawabannya akan diketahui jika dan hanya jika "keputusan bedah mulut" diambil. Mungkin hasilnya baik, mungkin hasilnya buruk. Mungkin pengakuanmu akan diterima, mungkin juga ditolak. Mungkin melepaskannya akan membuatmu makin bahagia, mungkin juga tidak. But, when you decide not to ask, the answer is always "no". 

Be brave, anyway!




20112014
I have confessed to you, right?











20141112

Ditolak

Keterusterangan didasari oleh kejujuran
Kata mereka, muaranya adalah kelegaan
Namun, seberapa kita sanggup merelakan
jika keterusterangan berujung penolakan?




12112014
15:58
My journalism paper waits for me.