Tampilkan postingan dengan label Daily Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Daily Life. Tampilkan semua postingan

20151206

Malin Kundang Zaman Digital






Gerimis selalu menjadikan saya melankolis. Padahal, tes-tes kepribadian itu bilang saya koleris. Ya sudahlah, karakter manusia memang harusnya tak diiris-iris (maklum, saya adalah seorang anti-esensialis).

Ketika sedang jadi melankolis seperti ini, saya senang memutar kenangan-kenangan di kepala saya. Iya, persis seperti memainkan film. Ada tema tertentu. Ada kisahnya. Kenapa begitu? Sebab kalau tidak dikelompokkan, saya jadi pusing. Saya kasih tahu saja ya, kenangan yang datang keroyokan itu menyakitkan. 

Saat ini, saya rindu Ibu. Maka, benak saya memutar film ingatan yang tokohnya perempuan yang sudah tidak saya temui selama hampir dua belas bulan itu. 

***

Saya selalu melabeli Ibu sebagai semi-luddite. Luddite sendiri adalah istilah yang disematkan pada orang-orang yang dengan sadar menolak penggunaan teknologi karena tahu dampak negatifnya. Ibu saya tidak menolak seluruh teknologi, ia hanya menolak ponsel pintar. Ibu lebih memilih menggunakan Nokia gendut ber-keyboard QWERTY yang sebenarnya bisa digunakan untuk mengakses internet meski kecepatannya menyedihkan. 

Namun, bukan berarti Ibu gaptek. Berkat Ayah yang sangat kekinian (punya lebih dari satu ponsel pintar, semua aplikasi chatting, dan semua akun sosial media), Ibu tahu Facebook, Twitter, Instagram, Path, BBM, LINE, dan WhatsApp. Ibu mengonsumsi konten-konten media sosial itu lewat gawai dan  akun Ayah. Makanya, ia tahu apa yang terjadi dengan hidup anak-anaknya yang tinggal di dua pulau yang berbeda.

Saya pernah penasaran dan bertanya. Kenapa tak buat akun Facebook sendiri, Mam?  Ia menjawab. Buat apa? Dengan melihat-lihat dari (akun) punya ayahmu saja sudah cukup, kok. Saya tetap memaksanya untuk menjadi bagian dari masyarakat kekinian. Tidak mau bertukar kabar dengan teman-teman SMA di grup Facebook? Katanya: Enggak, aku bisa telepon teman-teman dekatku. Lebih enak ngobrol langsung. Saya cecar lagi. Tapi kan, di Facebook bisa lihat gambar, kalau lewat telepon tidak bisa. Akhirnya ia bilang: Nanti kalau aku ketagihan main Facebook seharian, yang ngurusin Ayah dan adikmu siapa? Hm, benar juga. 



Bertahun-tahun ibu memegang teguh pendiriannya. Saya sih, salut sama Ibu. Kok bisa, tidak tergoda dengan segala macam mainan modern yang ada di sekelilingnya. Dibanding menenggelamkan diri di depan layar gawai, Ibu lebih memilih menemani adik bungsu saya mengerjakan PR, menjemput les, atau sekedar mengobrol dengan tetangga.

Sepengamatan saya, hidup Ibu jadi lebih sederhana. (Tampaknya) juga lebih bahagia. Ketika meninggalkan rumah, Ibu tak perlu memastikan segala macam kabel charger dan powerbank sudah masuk ke dalam tas atau belum. Buat apa? Ponsel Ibu baterainya tahan dua hari. Ketika berkunjung ke rumah orang lain, Ibu akan menyapa si empunya rumah dengan cara yang pantas, bukannya terburu-buru dan menanyakan di mana letak colokan. Rasanya, Ibu selalu hadir. Sepenuhnya. Perhatiannya tak penah terbelah antara dunia offline dan online. 

Without sophisticated gadget, my Mom seems very peaceful. 


Tapi dua bulan belakangan, Ibu memutuskan menggunakan ponsel pintar milik Ayah dulu. Saya heran. Kenapa?

"Supaya aku tetap bisa lihat anak-anakku lagi apa. Dari Path-mu, aku tahu kamu lagi dimana, sama siapa. Di fotomu di Instagram, aku bisa lihat kamu makannya banyak apa gak di sana. Dari status LINE-mu, aku bisa tahu kamu lagi ngerasain apa." 

Ibu menjawab sambil tertawa. Tanda bercanda. Buat saya; itu tamparan keras. Tiba-tiba, saya ingat bagaimana saya lebih sering check-in di Path dibanding memberi kabar kepadanya. Saya lebih sering mengunggah foto di Instagram dibanding menceritakan langsung kegiatan saya. Bagaimana saya mencari jawaban atas permasalahan hidup dengan melemparkan pertanyaan di Quora, bukannya meminta pertimbangan orang tua. 

Saya jadi bertanya-tanya. Siapa sebenarnya orang tua kita? Yang menunggu kabar di rumah atau sosial media? Tiba-tiba, saya merasa jadi Malin Kundang zaman digital. 


****
Untunglah ada Strinati (2004) yang bisa menjawab rasa penasaran saya lewat gagasannya yang bernama atomisasi. Atomisasi adalah sebuah keadaan dalam masyarakat massa ketika individu-individu menjalin hubungan hanya atas dasar kepentingan transaksional. Misal, orang tua yang sudah lelah bekerja seharian hanya sempat bertemu anaknya di meja makan, itupun hanya menanyakan apakah PR si anak sudah selesai atau belum. Si anak pun akhirnya hanya merespon seperlunya, merasa tak perlu berbagi cerita tentang kegiatannya di sekolah atau keresahan apa yang sedang ia hadapi. 

Gejala ini terjadi pada masyarakat modern yang kehilangan komunitas-komunitas organiknya. Gaya hidup modern memaksa orang-orang untuk menjalani hidup dengan produktivitas tinggi, bekerja 9 to 5 untuk mengejar kestabilan finansial hingga akhirnya lupa untuk berinteraksi secara pantas dengan orang-orang di sekelilingnya. 

Strinati juga meramalkan bahwa interaksi yang transaksional ini akhirnya membuat individu kehilangan moral compass sebagai pedoman untuk bertindak. Kekosongan ini membuat kita mencari panduan-panduan lain yang lebih mudah diakses dan rasanya selalu ada; internet. Internet dengan segala macam kontennya mengisi perasaan resah dalam diri masyarakat massa. Mungkin saya pun sudah demikian teratomisasi sehingga mencari jawaban lewat Quora, bukan bertanya pada orang terdekat. 

Well, now you understand why people watch TedX and why Mario Teguh gets so many loyal followers or why some official LINE accounts who share some advices to cope with your galau feeling are getting popular. We are simply craving for moral compass(es). 

Sayangnya, moral compass yang berasal dari internet ini bukan menyelesaikan keresahan di awal. Ia justru memperparah dan semakin memberi jarak dari interaksi yang sebenarnya. Jahatnya lagi, kebutuhan akan "puk-puk" temporer ini dimanfaatkan oleh pelaku industri budaya untuk melakukan komersialisasi konten dengan tujuan profit (ini sangat seru untuk dibahas sebenarnya, tapi mungkin lain kali, ya). 

****

Kembali ke Ibu. 

Setelah Ibu memakai ponsel pintar dan punya beberapa aplikasi chatting, bagi saya Ibu tetap jadi semi-luddite. Asal tahu saja, kontak BBM dan WhatsApp Ibu hanya tiga; Ayah, saya, dan Adik saya. Begitu pula dengan semua media sosial lainnya. Sangat privat. Ibu hanya ingin tahu kabar kami sekeluarga. Bayangkan, seteguh apa Ibu memegang prinsipnya. 


Bagi saya, Ibu sangat cerdas. Upaya Ibu untuk membentengi dirinya dari paparan media digital yang berlebihan sesungguhnya adalah upaya untuk tidak teratomisasi. Untuk tidak kehilangan momen-momen dengan orang-orang di sekitarnya karena tenggelam dalam dunia maya. Dan saya harus mengulang ini; hidup Ibu (tampaknya) lebih damai. Setidaknya dibanding dengan hidup saya yang dibombardir begitu banyak stimulus dunia digital. 


Ah, Mam. I envy you for having that kind of peace. I just hope someday I can acquire your bravery and shut down all these overwhelming gadgets. 


****


06122015
It's heavy rain outside and the storms keep scaring me. 


P.S.: Gagasan Strinati bisa dinikmati di bukunya yang berjudul The Introduction to Theories of Popular Culture. Oh ya, gambar dipinjam dari sini dan sini.











20140905

Sepatu

Pagi tadi saya masuk kelas Pengantar Pengolahan Data Kualitatif. Dosen saya, Mbak Nadia, menjelaskan poin penting dari penelitian yang bersifat kualitatif. Ia bilang, "Dalam dunia kualitatif, kalian tidak boleh hanya menggunakan etik, tetapi juga emik."

Hampir 3 bulan libur kuliah, saya lupa apa itu etik dan emik. Untunglah, ia menjelaskan.

"Secara gampang, etik adalah pandangan si peneliti, definisi terhadap segala sesuatu, yang kalian bawa ke lapangan. Sementara itu, emik adalah pandangan subjek yang diteliti, apa isi kepala dia tentang suatu hal." 

Oh. Saya pikir saya paham apa yang ia maksud. Menggunakan emik berarti berusaha masuk ke dalam isi kepala subjek yang diteliti dan melihat sebuah fenomena dengan "kacamata" dia. Keluhan Florence di Path mungkin merupakan sesuatu yang buruk bagi saya yang hanya melihat keadaannya dari luar dan tidak mengalami persis apa yang ia alami. Itu jika saya hanya menggunakan etik. Saya "mengukur" keadaan Florence dengan "mistar" milik saya. Padahal, dalam isi kepala Florence, ia tentu punya alasan untuk melakukan tindakan tersebut. Emik menuntut saya untuk memahami alasan itu dengan melepaskan persepsi-persepsi yang saya bawa dari luar.

"Dan itu sulit," Mbak Nadia memperingatkan kami sekelas.

Sepertinya saya pernah mendengar konsep "berusaha menempatkan diri di tempat orang lain" itu sebelumnya.

Ah, ya! Dosen saya yang lain, Mbak Oci, pernah bercerita tentang ungkapan "Put yourself in other people's shoes." Secara umum, idiom ini biasanya merujuk pada sebuah keadaan ketika kita harus mampu ikut merasakan bagaimana rasanya berada di posisi orang lain. 


"Ungkapan itu tidak tepat. Dan juga sulit dilakukan," kata Mbak Oci di kelas Pengantar Ilmu Komunikasi. 


Ya. Memakai sepatu orang lain di kaki kita tidak sama dengan ikut merasakan apa yang sebenarnya ia rasakan ketika memakai sepatu yang sama. 

Katakanlah, sepatu Anda adalah sepatu untuk lari, bermerk tanda centang, bernomor 39, dan Anda merasa perih ketika memakainya karena ternyata ukuran kaki Anda 39-lebih-tetapi-tidak-sampai-nomor-40 ditambah dengan kaus kaki yang tipis dan bekas luka lecet di tumit karena flatshoes yang baru Anda beli sebelumnya masih terlalu kaku. Kemudian, sepatu yang sama dicobakan ke kaki saya yang berukuran 39 dan memakai kaus kaki yang tipis pula. Apakah saya akan merasa perih juga seperti yang Anda rasakan?

Tidak, saya akan merasa nyaman, tanpa masalah. Padahal yang kita kenakan adalah sepatu yang sama. 

Masalahnya sama sekali bukan pada sepatunya, tetapi bagaimana keadaan kaki si pemakai sepatu. Sama sekali bukan tentang keadaan yang harus dihadapi, tetapi bagaimana masing-masing manusia (yang katanya unik) menghadapi keadaan itu. 

Dalam hal ini, saya setuju dengan Mba Oci dan Mbak Nadia. Ikut merasakan apa yang orang lain rasakan itu bukan pekerjaan mudah. Saya harus membuat luka lecet di tumit saya dan memperbesar ukuran kaki saya menjadi ukuran 39-lebih-tetapi-tidak-sampai-nomor-40 (yang entah bagaimana caranya) untuk dapat tepat merasakan apa yang Anda rasakan ketika memakai sepatu lari itu. 


Sekali lagi, itu tidak mudah. 
Tapi, kedua dosen tersebut tidak pernah mengatakan bahwa hal itu tidak mungkin.





06092014
01:47 WIB
Akhirnya saya mengerti mengapa kamu tak mengerti bagaimana rasanya menjadi saya. 












20140807

Ketidaksadaran, 4 Agustus, dan Kamu

“Komunikasi yang selalu kita lakukan sesungguhnya dikuasai oleh alam bawah sadar. Pesan-pesan yang kita terima dan kirimkan selalu diolah oleh ketidaksadaran terlebih dahulu. Itu sebabnya, manusia akan selalu berubah karena banyaknya pesan-pesan yang ia terima dari lingkungannya, meskipun tanpa ia sadari."

                Kalimat-kalimat itu diucapkan oleh dosen saya di kelas Filsafat Komunikasi. Ia menjelaskan teori ketidaksadaran sambil menunjukkan slide bergambar gunung es. Ya, pikiran manusia diibaratkan sebagai gunung es. Apa yang terlihat di permukaan hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan bongkahan yang ada. Apa yang kita utarakan dalam lisan, sesungguhnya melalui proses panjang bernama ketaksadaran.

                Tidak, saya tidak sedang mencoba menulis review untuk bahan ujian semester. Saya hanya ingin menceritakan bahwa enam bulan kemudian, teori itu terbukti; manusia akan selalu berubah dengan dipengaruhi pesan yang masuk ke dalam ketaksadarannya.

                Baiklah, kita mulai saja cerita ini.

                Jika kamu pernah membuka blog ini sebelumnya, mungkin kamu pernah melihat postingan dengan judul angka tingkatan dalam bahasa Inggris. Diawali dengan The Fourth, The Fifth, dan seterusnya hingga The Ninth. Ya, angka-angka itu merujuk pada lamanya hubungan interpersonal yang saya jalani dengan seseorang. Semacam penanda setiap kali durasi hubungan kami bertambah satu bulan.

Sebab saya rasa, sebatas ucapan “happy sixth mensiversarry, baby” terlalu mainstream. Sebab saya kira, hubungan ini begitu  indah hingga semua orang harus tahu betapa bahagianya kami. Sebab saya pikir, dia dan perasaan saya terhadapnya begitu spesial hingga harus ada semacam memoar yang nantinya akan kami kenang sambil tertawa. Sebab, menuliskan kisah-kisah kami adalah sebuah cara untuk mengingatnya lebih lama.

Dulu, saya berpikir seperti itu. Dan saya tak pernah menyesal menuliskannya. Meskipun pada akhirnya, tepat di hari ulang tahun saya yang kesembilan belas, ia membuat saya tak mungkin lagi menuliskan kisah kami dengan judul angka-angka konyol itu.

Hari itu, tanggal empat Agustus baru berlangsung selama dua belas menit.  Ia menelepon saya. Dan, saya berharap ia menyuruh saya keluar rumah dan dia akan berdiri disana, memegang kue tart dengan lilin yang menyala dan balon warna-warni. Lalu saya akan meniup lilinnya, berfoto dengan senyum lebar-mungkin beberapa selfie,  mengunggahnya ke semua social media yang saya punya, menerbangkan balonnya, dan kemudian tidur nyenyak.

Namun, terlalu lama memandangi akun instagram dan path orang-orang dan terlalu sering menonton film bergenre drama membuat “khayalan tentang kejutan ulang tahun yang ideal” terkonstruksi di benak saya. Saya lupa, ia selalu berkata bahwa kami adalah pasangan yang antimainstream. Seharusnya saya juga paham, dia tak akan melakukan ritual mainstream tiup lilin dan foto unyu itu.

Benarlah. Dia memberi saya kejutan yang lain. Sesuatu yang benar-benar mengejutkan. Satu hal yang tak pernah saya kira akan tega ia lakukan; ucapan “Aku mau kita putus..” setelah ucapan “Selamat ulang tahun, ya.” Ia mengakhiri semuanya, tepat di tanggal spesial yang tertulis di semua kartu identitas saya. Bagaimana saya akan lupa?

                Memang, kami berdua sama-sama paham, hubungan ini memang tak begitu baik sebulan belakangan. Terpisah ratusan kilometer dan sibuk dengan kegiatan masing-masing membuat intensitas komunikasi kami berkurang. Setelah kami berada di satu kota pun, keadaan tak membaik. Saya tahu ada yang salah dalam ini semua. Ia pernah bilang, hubungan ini mulai terasa membosankan, terasa tanpa tantangan.  Mengapa ia tak pergi saja ke Dufan dan mencoba semua wahana yang menantang adrenalin itu, jika benar ia butuh tantangan? Mengapa memutuskan mengakhiri semuanya di tanggal empat Agustus?

                Ada begitu banyak “mengapa” yang berputar-putar di otak saya waktu itu. Dan saya merasa punya kewajiban untuk menanyakannya langsung pada orang yang bersangkutan.

                “Aku gak mau kamu terus-terusan sedih dalam hubungan ini. Ada banyak orang yang bisa bikin kamu lebih bahagia, dibanding aku,” jawabnya.

                Rasanya, saya ingin menceramahinya dengan bahasan logical fallacy-sesat pikir yang saya dapatkan di kelas MPKT A. Bagaimana mungkin ia berpikir bahwa hubungan ini hanya membuat saya sedih? Dan dari premis mana ia bisa menarik kesimpulan bahwa mengakhiri semuanya tepat di hari ulang tahun saya bisa menghentikan kesedihan yang ia asumsikan sendiri itu, bukannya malah membuat saya makin sedih? Silogisme macam apa yang membuatnya menyimpulkan bahwa orang lain akan bisa membuat saya lebih bahagia?

                Tapi, jangankan mendebatnya, lidah saya terasa kelu waktu itu. Bermodal skeptisme, saya nekad memastikan, dia hanya ingin mengerjai saya ala FTV atau tidak. Berkali-kali ia menjawab tidak. Saya ragu hingga ia menjawab dengan nama Tuhan. Saya tahu, saya harus percaya. Inilah pil pahit yang harus saya telan, tanpa bantuan air putih sama sekali. Hanya pil pahit. Dan pilnya semakin pahit ketika saya menyadari, seharusnya tanggal  lima Agustus hubungan ini seharusnya genap empat belas bulan.

                Empat belas bulan yang dijadikan olok-olokan. Empat belas bulan yang kini jadi lelucon. Empat belas bulan yang kini hanya bisa ditertawakan.

                Ini bukan pertama kalinya saya menghadapi hubungan yang berakhir. Tapi, ini jelas pertama kalinya hari ulang tahun saya terasa begitu suram. Walaupun saya merayakan ulang tahun tanpa kehadiran orang tua sejak umur enam belas tahun, merencanakan sendiri dan membeli kue tart sendirian di perayaan ulang tahun saya yang ketujuh belas, serta merayakan ulang tahun kedelapan belas di perantauan saat baru masuk kuliah, itu rasanya lebih baik daripada harus seperti ini.

                Tapi sudahlah.

                Rasanya kita sudah terlalu menyimpang dari pembahasan awal pembuka tulisan ini. Seperti yang saya katakan di awal, orang-orang akan selalu berubah dengan dipengaruhi pesan yang masuk ke dalam ketaksadarannya. Dan lelaki yang dulu saya cintai ini, jelas berubah. Ia bukan lagi orang yang menempuh kemacetan ibu kota selama dua jam dengan sepeda motor hanya karena mendengar saya menangis di telepon. Terakhir kali, ia membiarkan saya menangis di sebelahnya dan hanya menatap lurus ke jalanan, tanpa berniat menghentikan mobilnya atau menghapus air mata saya.

                Ia jelas berubah. Meski saya tak tahu persis pesan-pesan apa yang telah mempengaruhi ketidaksadarannya hingga ia berubah seratus delapan puluh derajat. Namun, jika hipotesis yang sama diajukan ke saya, sedikit banyaknya saya juga pasti mengalami perubahan. Tapi, mengapa perasaan saya tetap sama sementara ia tidak adalah sebuah teka teki.

                Mungkin, pesan-pesan yang masuk mengenai berbagai jenis rangkaian listrik telah merebut tempat kenangan-kenangan kami dalam memori otaknya. Mungkin, bukan hanya kenangan kami yang tergantikan di otaknya, tetapi saya pun tergantikan di hatinya. Entah oleh apa. Entah oleh siapa.

                Mungkin, pesan-pesan yang masuk dari lingkungan sekitarnya telah membuat “kulit bawang” di dirinya menebal, terlalu sulit untuk saya kupas hanya dengan pisau self disclosure. Mungkin, ia mengalami terlalu banyak disonansi kognitif ketika menjalani hubungan ini hingga akhirnya memutuskan saya di hari ulang tahun saya menjadi satu-satunya justifikasi minimal yang dapat melegakan hatinya. Mungkin, saya tak lagi bisa memenuhi harapannya sebagai sosok perempuan ideal (karena saya tak bisa masak dan tak bisa memakai eyeliner dengan benar), hingga saya terlempar ke bawah Comparison Level Alternative-nya dan ditinggalkan begitu saja.

                Namun, jika ditanya bagaimana perasaan saya ketika menuliskan ini, saya dapat mengatakan saya baik-baik saja. Saya sudah berhenti menangis dua jam setelah ia menjatuhkan vonis itu. Dan sampai sekarang, saya tak pernah menangisinya lagi. Bagi saya, ia yang dulu menjadi objek dalam setiap tulisan saya sudah pergi jauh, tergantikan oleh sosok asing yang sama sekali tak saya kenal. Ini mungkin terdengar berlebihan, tetapi dengan cara itulah saya mampu mengikhlaskannya tanpa beban.

                Dan, apa saya membencinya? Tidak.
               
                Bagaimana pun, ia pernah menjadi orang yang paling berarti. ia pernah menjadi alasan saya menunggu kereta datang berjam-jam hanya untuk melihat sosoknya. Ia satu-satunya yang mendengarkan cerita saya, tentang betapa frustrasinya saya ketika harus menghadapi dosen mata kuliah MPKT A. Ialah yang dulu membangunkan saya jam tiga pagi untuk belajar sebelum ujian SBMPTN. Ia yang menemani saya menangis berjam-jam ketika saya tak lulus SNMPTN. Ia yang dulu selalu membelikan es krim, karena ia tahu saya senang makan es krim. Dan masih sangat banyak hal baik lainnya yang pernah ia lakukan kepada saya.

                Dia adalah orang baik. Saya selalu percaya itu. Jika ia berubah, bukan berarti ia langsung menjadi orang yang jahat. Hidup tak selalu harus diisi dengan dikotomi semacam itu. Maka dari itu, orang baik tak layak dibenci. Jika diingat, tanpanya mungkin saya tak akan menjadi seperti ini, menjalani hidup dengan begitu banyak hal yang bisa disyukuri. Pun darinya, saya banyak belajar hal-hal yang tidak diajarkan di bangku kuliah. Tentang kesabaran, penantian, memaklumi, menerima, dan yang paling penting; mencintai.

                Terakhir, apakah saya masih mencintainya? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Jawaban atas pertanyaan itu hanya akan berakhir sebagai sebuah paradoks. Ia memberi saya banyak hal indah yang  bisa dikenang, sekaligus memberi hal-hal terburuk yang akan selalu diingat. Menjalani proses ini dengannya adalah bagian yang saya syukuri, sekaligus saya kutuk di akhir. Dia adalah paradoks. Dia adalah contoh dialektika relasional terbaik dalam hubungan interpersonal saya; saya masih mencintainya dan tidak mencintainya lagi di saat yang bersamaan.


                07082014
                20:04 WIB

                Don’t you dare let our best memories bring you sorrow. 

20140324

The Ninth

Setiap ingin pergi
Izinmu tak pernah jadi
Kau tanya begini,
Apa tak bisa lagi diperbaiki?
Kujawab dalam hati
Ini kesempatan yang terakhir
Terakhir kali yang terjadi belasan kali.

Sekarang izinmu terucap
Pergilah, ujarmu kalap
Kuiyakan tanpa ratap
Meski mendadak semua gelap

Kenangan-kenangan menari salsa dalam kepala
Ingin kubunuh namun rautnya terlampau gembira
Aku tak tega, lalu harus apa?

Pelihara sajalah!
Biarkan kenangan kita tersimpan dimana-mana
Dalam file digital hingga udara
Dari material hingga hanya rasa

Sebab ia menjadi kausa
Kau dan aku masih jadi kita!


24032014
And I have known how break up with you feels like.





20140310

Anime Is Not Just Anime

Minggu ini, dosen saya yang seorang Weberian sejati itu memberi tugas yang lumayan "nyentrik". Kami sekelas ditugaskan mencari quote dari anime dan manga dan menghubungkannya dengan materi minggu selanjutnya. Saya bahkan tak paham bedanya manga dengan anime. Walaupun tugasnya bersifat dependensial alias sunah, tetapi tak ada salahnya kalau dicoba *optimis ceritanya*. 
Saya berhasil menemukan dua quotes seperti yang ditugaskan, tetapi hanya satu yang jadi favorit saya. Ini dia:

Once you've been hurt you learn to hate. But, if you hurt another you become hated. On your shoulders you sense guilt. But it is because one understands such pain, the generosity toward others become second nature. That's what makes us human.”


            Rangkaian kalimat di atas diambil dari anime Naruto Shippuden Episode 128 yang berjudul Tales of A Gutsy Ninja: Jiraiya Ninja Scroll. Jiraiya mengucapkan kalimat itu kepada Nagato ketika Nagato merasa sangat bersalah karena telah membunuh seseorang yang menyakiti Yahiko, teman Nagato.  Nagato mempertanyakan tindakannya dahulu, apakah merupakan sebuah kesalahan atau tidak. Jiraiya mengatakan tidak ada yang dapat menyalahkan Nagato tentang hal itu sebab bagaimana pun juga ia telah melindungi temannya. Namun, Jiraiya percaya justru karena kesalahan-kesalahan semacam itulah Nagato akan menjadi lebih baik nantinya.
            Dalam lingkup Perspektif Kewarganegaraan dalam Masyarakat, quotes di atas berisi nilai tentang tenggang rasa. Seseorang cenderung membenci orang yang menyakitinya. Mengacu pada pengalaman itu, individu belajar untuk tidak menyakiti orang lain karena mengetahui bagaimana rasanya saat disakiti dan dikejar oleh rasa bersalah ketika menyakiti orang lain. Kebencian dan rasa sakit ibarat siklus yang berputar. Konotasinya negatif, tetapi siapa sangka jika kedua hal ini malah menjadi kontrol moral bagi individu agar berbuat baik terhadap sesamanya.
            Nilai tenggang rasa tak sesederhana frasa “saling menghargai” seperti yang dipelajari saat duduk di bangku Sekolah Dasar dulu. Manusia adalah makhluk dengan subjectivity dan self-reference yang sangat tinggi. Ketika kita menghargai orang lain dengan tidak menyakitinya, sesungguhnya kita sedang berusaha melindungi diri kita sendiri dari kemungkinan rasa sakit yang sama. Sebagai contoh, kita tidak menyakiti orang dengan menghina kepercayaannya karena berharap orang lain pun tidak menghina kepercayaan kita sendiri.

Contoh yang paling dekat adalah bagi pengguna social media, berapa kali Anda me-like foto di Instagram teman Anda hanya karena Anda tahu bagaimana rasanya mem-posting sesuatu tapi tak ditanggapi sama sekali, bukannya karena fotonya yang memiliki nilai estetika tinggi? ….it’s because one understands such pain, the generosity toward others become second nature. That's what makes us human.

20140209

The Eighth

Saya benci jarak.
Guru fisika di SMA saya bilang, jarak memperkecil gaya Coulomb yang dialami dua muatan listrik. 
Jarak-yang disimbolkan dengan R- juga mengurangi gaya gravitasi benda dari bumi. Lihat saja astronot dalam film Gravity yang melayang-layang bebas tanpa ada gaya gravitasi nun jauh di luar angkasa.
Belum cukup juga. Jarak memperkecil kapasitas kapasitor keping sejajar. Itu artinya, tak banyak muatan listrik yang bisa disimpan jika kapasitor terpisah terlalu jauh.
Dan di kelas dua belas ia bercerita, jarak juga mengurangi taraf intensitas bunyi. Suara sirine ambulans yang semakin pelan ketika berada di kejauhan dijadikannya sebagai contoh.
Intinya satu; jarak itu melemahkan.

Saya benci jarak.
Jarak telah bertahun-tahun merenggut kebersamaan saya dengan kedua orang tua.
Saya masih terlalu kecil waktu itu-lima belas tahun. Dan sekarang, saya bahkan sudah lupa bagaimana rasanya melihat ayah saya pergi dan pulang kerja. 
Saya hampir lupa bagaimana rasanya masakan ibu saya. 
Dan adik bungsu saya pun tak pernah benar-benar mengenal saya. Karena jarak.
Selain melemahkan, jarak juga menghapus ingatan, rupanya.

Saya benci jarak.

Jarak berafiliasi dengan rindu.

Rindu yang hanya terucap tanpa kemungkinan untuk bertemu hanya akan menjadi kata semu.
Dan rindu yang terendap terlalu lama ternyata mampu mendatangkan luka.
Bukan luka yang bisa mereda dengan larutan povidon-iodin. Pertemuanlah menjadi satu-satunya penawar.
Satu lagi, jarak memberi luka.

Sekali lagi, saya benci jarak.
Kamu pergi dan rasa ini retak.



09022014
22:36 WDT-Waktu Di Laptop

20131218

The Sixth

Tik tok.
 Satu detik tak akan pernah mampu untuk menyimpan sebuah kejadian. Namun, detik tak suka hidup sendiri. Ia selalu mencari kawan, berkoloni membentuk menit. Lalu menit-menit ini menjalin diri menjadi jam. Dan jam beraliansi, berekspansi mewujudkan hari. Maka hari adalah detik yang bertransformasi. Detik yang mengalami pubertas dan mampu mereproduksi kejadian dalam rahimnya.

Dan jika tiba saatnya, kejadian ini akan lahir dalam bentuk sebuah proses. Proses apapun memiliki induk yang sama; koloni detik. Pun, sebuah rentang waktu setengah tahun melahirkan sebuah proses bernama adaptasi. Maksudku, sebuah hubungan interpersonal. Semua hubungan merupakan proses adaptasi. Dan semua proses adaptasi pasti melewati tahap-tahap tertentu.

Dan aku baru paham, bahwa sebuah proses adaptasi bukanlah berwujud linear tanpa lekuk. Kurva proses adaptasi membentuk barisan pegunungan. Persis seperti bentang Bukit Barisan di kota yang, aku tahu, sama-sama sedang kita rindukan, Kapten. Aku juga baru paham kalau suatu hari, setelah tahap preparation dan honeymoon yang dijabarkan Ruben dan Stewart dalam bukunya, setelah semua masa-masa bahagia itu, sebuah hubungan akan sampai pada tahap frustration.

Ada masanya ketika percakapan virtual di udara tak lagi mampu membawa tawa. Semua terasa salah. Argumen-argumen berloncatan. Sibuk bertikai mengenai bagaimana seharusnya ini dijalani. Bagaimana definisi sebuah hubungan ideal menurutmu dan menurutku tak lagi sama. Kau tahu, argumen-argumen itu membawa pedang persepsi masing-masing. Gesekan perbedaan persepsi memperburuk keadaan. Dan kita berdua mati-matian menghindar, takut ada yang terluka dan berdarah.

Parahnya, di kurva kita ini tahap frustration bertemu dengan titik redefinition. Aku mempertanyakan kembali definisi "kita" selama ini. Semacam judicial review dari setengah tahun menjadi pacar, ribuan pesan singkat, ratusan kali percakapan di telepon, dan puluhan makan siang bersama. Aku mempertanyakan visi kita yang mulai terdistraksi dan pada satu titik; I almost give up.

Lalu pada sore itu, di tengah gerimis itu, kau membangun teori. Katamu,


"Ibaratnya ada sebuah tembok yang aku bangun, anggaplah dibangun dari seratus batu bata. Dari seratus bata ini, ada dua yang cacat. Menurutmu, apa aku akan langsung merubuhkannya tanpa mempertimbangkan sembilan puluh delapan lain yang baik-baik saja? Why do you just keep your eyes on the bad things we have, instead of the good ones? Can't you?"


Aku benci mengakui ini, tapi sayangnya kau benar, Kapten. Bagaimanapun, kita pernah membelah jalanan bandara Soetta - Depok dengan motor jam dua belas siang saat matahari sedang terik-teriknya. Bagaimanapun juga, kita pernah sama-sama menertawakan rak buku berisi soal-soal latihan Ujian Nasional setelah pengumuman kelulusan. Dan bagaimanapun juga, dalam semua tahap frustration dan redefinition itu; I never lost "that" feeling. 





P.S: Happy half-year, Captain! Don't break the wall, please :p

18122013
19.10
Stuck with final term of Antrophology.













20131104

The Fifth.

365 hari yang lalu
Aku tak pernah menyangka kamu akan mengambil peran sebagai significant others dalam hidupku.

365 hari yang lalu
Aku penganut budaya parokial yang begitu apatis terhadap apa yang mereka sebut cinta.
Bagiku, cinta hanya sebatas ekskresi hormon feromon, dopamin, dan oksitosin
Suatu hari nanti para ilmuwan akan berhasil membuat hormon-hormon itu.
Lalu cinta akan menjadi produk sintesis dan instan.

Dan dengan self-reference yang terlalu tinggi aku menganggap apa yang mereka sebut cinta hanyalah bagian dari dramaturgi.
Seorang pria yang berakting dalam front region demi menyenangkan wanitanya. Lalu atas nama expression given off, sang wanita ikut melanjutkan peran demi menghibur audience.

Cinta hanyalah tentang seberapa lihai kita melakukan impression management di masa pendekatan. Padahal kenyataannya di balik backstage tak pernah seindah itu


365 hari yang lalu
Kamu datang, bukan sebagai pangeran penunggang kuda putih yang hendak membawaku lari dari kastil
Memperkenalkan diri sebagai teman, kamu pelan-pelan melakukan desosialisasi paradigma di benakku.
Lalu memberi perspektif baru dalam resosialisasi yang berjalan berbulan-bulan.

Bahwa cinta bukan sesuatu yang sintesis dan instan, melainkan sebuah proses panjang yang melibatkan amygdala dalam mendefinisikan situasi.
Bahwa dalam mencintai kita tetap bisa menjadi diri sendiri, tak perlu repot membangun setting seperti dalam dramaturgi.
Bahwa dinamika dalam mencintai bukan hanya antara bahagia dan bertengkar, melainkan bisa bertahan antara bahagia dan sangat bahagia.


Bahwa cinta adalah tentang toleransi percakapan teknik mekanika dengan fenomena gunung es dalam komunikasi.


Congratulations, Captain!
Usahamu mengubah gesellschaft menjadi gemeinschaft di antara kita tidak pernah sia-sia
Mungkin kita bisa menciptakan model baru dari kategori solidaritas versi Durkheim;
Solidaritas mekanik yang bercirikan ketergantungan, tetapi tetap mengutamakan collective conscience.
Mungkin kita bisa mendiskusikan namanya siang ini!



P.S:
Aku tau kamu gak ngerti apa yang aku tulis ini. Tapi kalo aku bilang "I love you, much", kamu ngerti kan?
Happy fifth the fifth, Kal!


20131015

Channing Tatum Bukan Kamu.

Saya suka Channing Tatum. Sang aktor tampan dengan sosok atletis berperut kotak-kotak. Aktingnya mumpuni, mulai dari memerankan penari profesional dalam Step Up, lalu menjadi polisi kocak di 21 Jumpstreet, hingga menjelma menjadi pria paling romantis dalam The Vow. Saking sukanya, saya punya satu kalimat "sakti" yang jadi self suggestion whenever I wanna chase something yang bunyinya, "Just run, like Channing Tatum is waiting for you at the finish line." Segitunya.

Tapi,
Channing Tatum bukan kamu.

Ia mungkin piawai mengemudi dalam 21 Jumpstreet tapi dia belum tentu sanggup menembus kemacetan antara kotamu dan kotaku di pagi buta. Just like you did.

Ia juga cekatan mengejar penjahat dalam film yang sama tapi dia bukan kamu yang berjalan tergesa masih dengan jas dan sepatu laboratorium demi menemuiku di stasiun kereta di hari aku ditinggal sendirian ke luar negeri.

Dia bukan kamu yang berjalan satu jam keliling dua mall demi es krim.

Dia bukan kamu yang menghadapi antrean superpanjang hanya untuk tiket film.

Dia bukan kamu yang menelepon pukul tiga pagi sebagai balasan dari pesan nightmare dan homesick yang kukirimkan.

Dia bukan kamu yang membawaku ke tempat-tempat yang belum pernah kudatangi. Mengajakku melawan gravitasi, terbang menguji gaya setripetal, dan memacu adrenalin dari ketinggian 56 meter.


Channing Tatum bukan kamu.


Dan saya jatuh cinta pada kamu.



               
























20131006

The Fourth.

Untuk yang lahir pada hari pada tanggal empat belas.

Sudah empat kali bulan berotasi mengelilingi bumi sejak hari itu. Hari Rabu yang sedatar biasanya, dengan setumpuk buku rumus dan kumpulan soal IPC. Dengan sederet jadwal kelas intensif dan janji diskusi dengan tentor. Masih dengan setitik noktah harapan tentang satu bangku di Perguruan Tinggi.

Lalu kita berjanji untuk makan siang bersama hari itu. Seperti belasan makan siang lainnya yang sudah kita lewati. Sebagai teman. Atau sedikit berbaik hati menyebutnya teman dekat.

Di tempat yang sama, menu yang sama. Kau dengan segelas es jeruk dan aku dengan segelas lemon tea. Tak ada pembicaraan khusus apapun kecuali ledekanmu tentang perempuan yang tak pernah diberi boneka selama 17 tahun hidupnya. Perempuan yang lebih sering diberi buku sebagai hadiah ulang tahunnya. Dan perempuan itu aku.

Kemudian kita pulang. Kau mengantarku pulang, tepatnya. Tapi kau memutuskan singgah untuk mengambil foto-foto kita saat liburan lalu. Dan foto-foto saat perpisahan SMA, kau dengan jas abu-abu dan aku dalam balutan gaun ungu.

Ini kunjunganmu yang entah keberapa puluh kalinya ke rumahku. Dari sekedar membagi cerita tentang jengahnya kita pada sistem penerimaan mahasiswa baru tahun ini sambil ditemani sebatang es krim stroberi hingga belajar teori gas ideal dan dua postulat Einsten. Lagi-lagi, sebagai teman.

Namun hari itu ada yang berbeda. Boneka lumba-lumba ungu di kamarku persis seperti yang kuceritakan berbulan yang lalu. Entah bagaimana kau masih ingat. Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, perempuan itu diberi boneka. Boneka yang ukurannya lebih besar dari tubuhnya sendiri.

Dan boneka itu tidak sendirian. Ada tulisan penyemangat disana. Iya, kau satu-satunya yang mengulurkan tangan ketika semua mulut sibuk bertanya kenapa aku gagal. Dan di balik tulisan penyemangat itu, satu kalimat tanya mengubah semuanya. Kau ingin memberi nama pada apa yang kita jalani setengah tahun ini.

Aku terdiam. Sistem limbic dalam otakku mencoba tenang agar bisa memberikan jawaban yang tepat dari Neocortex, bukannya jawaban gegabah dari R-Complex yang nantinya akan kusesali. Kita sama-sama paham, ini sama sekali bukan hanya tentang kira berdua. Kita sama-sama mendengar semua rumor yang beredar.


Tapi kau telah berdiri di bibir pintu dengan setangkai mawar. Lalu semuanya jelas. You decided to take the highest risk FOR US. Apalagi yang bisa kuberikan selain anggukan kepala? Dan 5 Juni 2013, I officially became your Vice Captain in our cockpit.

Selamat tanggal 5 yang keempat, Kapten. Beyond all the fights, the worst nights, our ups and downs, the hesitations; I love you, much.

20131003

They called it "culture shock".

"Loe pas pertama nyampe sini ngalamin culture shock gak?"


Pertanyaan sederhana dari seorang teman di pelataran masjid kampus sore itu. Saya terdiam sejenak, mengingat-ingat hari pertama saya berada di kampus ini. Dan ingatan saya berlari menuju hari dimana saya harus mendaftar ulang. Pertama kalinya menginjakkan kaki di tempat sejuta umatnya kampus ini-Balairung.

24 Juli 2013, hari Rabu. Saya diminta datang ke kampus pada pukul 11.00 untuk mengonfirmasi kelulusan saya sebagai mahasiswa baru di kampus ini. Sendirian, literally. Teman-teman dari sekolah saya tidak ada yang diterima melalui jalur dan program yang sama dengan saya dan ayah saya yang ikut mengantar harus kembali sehari sebelum pendaftaran ulang karena telepon genggamnya tak bisa bungkam, penuh dengan panggilan mengenai pekerjaan setiap pagi selama ia disini.

Jadilah saya, mengenakan kemeja putih sesuai dresscode untuk maba, berangkat dari kost diantar tukang ojek, celingukan sambil memegang map biru berisi seluruh berkas yang diperlukan. Tidak ada teman yang bisa diajak berbicara dan hanya mengikuti alur pendaftaran melalui petunjuk arah yang disediakan petugas. Waktu itu bulan puasa dan yah, antreannya cukup panjang. Butuh kesabaran ekstra demi selembar kartu tanda mahasiswa.

Dalam antrean, beberapa mahasiswa baru sudah saling berinteraksi. Topik mainstreamnya adalah; kebanggaan mereka atas keberhasilan "mendobrak" pintu masuk universitas ini melalui jalur mandiri reguler dengan subtopik; apa saja pilihan jurusan yang diambil pada saat tes. Saya menyimak obrolan mereka dan telinga saya menangkap sesuatu yang asing.

"Loe pas SIMAK kemarin ambil apa aja? Kalo gue, sih emang pengen banget jurusan ini. Oh iya, ntar siang kelar jam berapa sih? Pasti gerah banget ni Depok, demi apa gue harus bawa motor sendiri."


Saya heran.
Kata ganti yang mereka gunakan untuk menyebut lawan bicara berbeda dengan apa yang saya gunakan selama 17 tahun berada di dunia. Cara mereka berbicara berbeda dengan cara saya berbicara dengan keluarga dan teman-teman saya. Pilihan kata mereka jatuh pada diksi yang selama ini hanya saya dengar di film dan sinetron khas ibukota. 


Semuanya berbeda.
Tiba-tiba saya merasa menjadi alien yang terdampar di kumpulan manusia. Saya mengurungkan niat mencari teman hari itu. Memperkenalkan diri berarti harus mengeluarkan suara, melafalkan kata, dan merangkai kalimat. Dan saya takut logat khas Medan saya yang berbeda lalu dianggap aneh. Bukan berarti saya tidak bangga dengan asal saya. Namun, pada hari itu, saya takut penolakan. Maka sepanjang hari itu saya hanya diam, tak bersuara kecuali saat menjawab pertanyaan petugas tentang ukuran jas almamater.

Pada hari itu saya tak tahu bahwa ada nama untuk kejadian yang saya alami. Ada penjelasan kenapa saya merasa seperti alien pada hari itu hanya karena perbedaan bahasa. They called it culture shock.


Culture shock revers to the whole set of feelings about being in an alien setting, and the ensuing reactions. It's a chilly, creepy feeling of alienation, of being without some of the most ordinary, trivial (and therefore basic) cues of one's culture of origin.

                                         -Conrad Phillip Kottak in Cultural Anthropology-

"Ya, awalnya."
 Saya menjawab pertanyaan teman saya itu. Dia mengangguk dan sepertinya paham bahwa itu wajar untuk pendatang seperti saya. Lalu ia bilang,


"You have to make more efforts in adaptations. It takes time, but it's worth it to survive." 


20130924

A concept of being faithful.

Ketika jarak memisahkan, apakah lantas kesetiaan dipertanyakan?
Ketika raga tak lagi berdekatan, apakah lantas keduanya kehabisan alasan untuk mempertahankan?
Tidak.
Kesetiaan bukan diukur dari seberapa jauh selisih lintang dan bujur posisimu dengannya dalam peta.
Berlaku setia berarti menghabiskan perasaanmu untuk satu orang sehingga kamu tak punya apa-apa lagi untuk diberikan ke orang lain.
Kesetiaan berarti membutakan mata dari hal-hal “menyilaukan”, menulikan telinga dari kata-kata yang sepertinya “merdu”, serta membisukan lidah dari kalimat yang membuka “celah” hanya demi satu orang. SATU SAJA.
Mungkin terdengar klise, tapi percayalah, satu orang itu akan datang.
Percayalah, suatu hari nanti datang orang yg tepat. Yang dengannya, kamu mampu membedakan mana yg sebatas angan dan mana yang merupakan target.
Percayalah, suatu hari nanti akan datang orang yang tepat. Partner yang dengannya kamu punya visi dan misi yg sama.
Percayalah, suatu hari nanti akan datang orang yang tepat. Yang dengannya, kamu bisa menggunakan kata ganti orang kedua “kamu” tanpa sungkan.
Percayalah, suatu hari nanti akan datang orang yang tepat. Yang dengannya, kamu tak ragu membicarakan kehidupan bertahun ke depan.

Percayalah, pangeran berkuda putih itu akan datang. Berlaku manis dan tunggulah di kastil!





A (not) very long journey to reach a dream.

Cerita tentang perjuangan meraih impian selalu menarik untuk dicermati. Kisah bagaimana sebuah mimpi berubah menjadi kenyataan selalu mengundang decak kagum, seolah yang dibutuhkan untuk merealisasikannya hanyalah sekantung bubuk keajaiban. Keajaiban akan nasib memang menjadi faktor penentu akhir yang tidak bisa diabaikan. Namun, seorang Filsuf Yunani, Seneca mengatakan, “Luck is what happens when preparation meets opportunity.” Ya, keberuntungan adalah sesuatu yang terjadi saat persiapan bertemu dengan kesempatan. Ini dunia nyata, tidak ada bubuk ajaib yang bisa mengubahmu dari upik abu menjadi putri yang cantik jelita begitu saja. Dan saya menulis kisah pribadi ini bukan untuk membanggakan diri atau bermaksud jumawa. Saya hanya ingin mengambil sebuah contoh nyata tentang bagaimana sebuah mimpi diwujudkan-bukan sebatas kata- tentang air mata dan senyum di dalamnya. Semoga dapat menginspirasi semua yang membaca.
Sebagai siswi SMA, tentu harapan semua anak adalah dapat melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Dan perguruan Tinggi Negeri (PTN) masih menjadi incaran utama hampir seluruh siswa SMA di republik ini. PTN seolah menyimpan kilau yang membuat siswa SMA terpesona dan menjadikannya sebagai the next big target dalam hidup. Berbagai kemudahan dari urusan finansial hingga gengsi membuat PTN diburu oleh sekian banyak siswa yang bermimpi bisa mengenakan jas almamater beremblem logo universitas idamannya. Termasuk saya.
Saya waktu itu adalah siswi SMA Negeri 2 Pematangsiantar, sebuah kota kecil yang terletak 3 jam perjalanan dari kota Medan, ibukota Sumatera Utara. Di kota berhawa sejuk ini saya telah tinggal dan menuntut ilmu dari masa TK hingga SMA. Pada masa penjurusan di kelas XI, saya memilih jurusan IPA. Satu keputusan yang tidak pernah saya sesali hingga saat ini walaupun beberapa orang menyebutnya sebagai suatu kesalahan. Ketika memilih jurusan, saya sama sekali tidak mempertimbangkan apa tujuan saya di jurusan IPA nantinya. Yang saya tahu, pada saat itu di sekolah saya jurusan IPA dianggap keren, dan hampir semua teman-teman saya memilih jurusan itu. Nilai saya di kelas X memang lebih tinggi di bidang IPS. Namun toh, sekolah kami pada saat itu hanya melakukan penjurusan sesuai dengan keinginan siswa tanpa melakukan serangkaian tes. Yang saya ingat, jika nilai kamu lewat dari KKMdan berperilaku baik, maka kamu bisa masuk jurusan IPA. Maka dari itu, di sekolah saya dibuka tujuh kelas jurusan IPA dan hanya tiga kelas untuk jurusan IPS.
Maka dimulailah fase baru kehidupan saya sebagai siswi jurusan IPA. Matematika, fisika, kimia, dan biologi adalah subjek-subjek yang selalu tertera di roster belajar saya. Awalnya, saya merasa biasa saja, bisa mengikuti semua pelajaran dengan baik, bahkan di semester tiga saya meraih peringkat dua paralel, lalu pada semester empat saya meraih meraih peringkat pertama paralel. Di tengah prestasi tersebut, saya merasa ada yang salah. Saya tidak bisa menikmati proses pembelajaran saya di jurusan IPA. Saya merasa harus berjuang terlalu keras untuk sekedar menghapal rumus perkalian dan penjumlahan sinus cosinus. Dan saya sempat depresi karena tak kunjung paham dengan Hukum II Kirchoff. Bentuk bidang polarisasi unsur kimia juga tak mampu saya kuasai. Dan saya tidak pernah benar-benar antusias mencermati proses metagenesis lumut dan paku.
Namun saya butuh bukti otentik atas segala ketidaknyamanan ini. Saya takut ini hanyalah kejenuhan yang terlalu saya lebih-lebihkan. Lalu saya mulai mengamati nilai-nilai di rapor saya. Benar saja, ternyata yang selama ini “menyokong” saya untuk melaju di tiga besar peringkat paralel justru nilai-nilai non eksakta. Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Pendidikan Kewarganegaraan, serta Sejarah memegang porsi besar dalam hasil akumulasi nilai-nilai saya. Dan saya yakin, jika hanya mengandalkan nilai eksakta saya, maka saya tidak akan pernah berdiri di podium menerima beasiswa peringkat paralel. Di akhir semester empat, saya seperti mendapat “pencerahan” bahwa IPA bukan jurusan yang “gue banget”. Namun, terlambat untuk memutar haluan ke jurusan IPS. Mulai saat itu, setiap bangun tidur di pagi hari, cita-cita saya berganti. Saya bimbang memutuskan apakah harus terus melanjutkan bidang eksakta berdasarkan nilai saya yang cukup lumayan atau memilih mendengarkan kata hati saya. Dan hal itu berjalan selama berbulan-bulan hingga di hari ulangtahun saya, seorang teman mengucapkan harapan agar saya bisa segera memutuskan pilihan atas cita-cita.
Memasuki semester lima. Atau kelas XII. Tahap dimana kamu harus melewati serangkaian ujian demi dua lembar ijazah dan SKHUN. Tahap dimana kamu harus mulai memikirkan mau kemana nantinya. Menilik pada kelabilan saya yang terombang-ambing menentukan jurusan, saya mengikuti sebuah psikotes minat dan bakat. Amat terlambat sebenarnya, tetapi itu lebih baik daripada tidak dilakukan sama sekali. Serangkaian tes dilakukan dan hasilnya persis seperti dugaan saya. Psikolog menyatakan bahwa minat dan bakat saya di bidang sosial, komunikasi, dan sastra. Non eksakta. Selembar hasil psikotes menjadi acuan saya menentukan jurusan kuliah. Dan saya memutuskan ilmu komunikasi. Mengapa komunikasi? Because I love speaking, writing, and being bising. Hahahahaha. Yang saya tahu saya enjoy saja jika disuruh menulis cerita dua halaman folio bolak-balik dibanding harus mengerjakan tiga soal fisika. Saya hanya jatuh cinta pada komunikasi. Tanpa alasan.
Lalu mulailah saya berburu kampus. Dari awal, saya ingin sekali kuliah di Pulau Jawa. Dimana pun itu asal di Pulau Jawa. Memang saya naif sekali pada waktu itu. Pilihan saya jatuh ke tiga universitas ngetop di negeri ini; UI, Unpad, UGM. Namun, UI telah mengambil porsi besar dalam hati saya. Memakai almamater kuning dengan emblem makara menjadi impian terbesar saya pada waktu itu. Mungkin kelihatannya tidak realistis, seorang siswi jurusan IPA dari SMA di kota kecil ingin kuliah di jurusan IPS universitas terkemuka di negeri ini. Dan yang lebih parahnya, saya mulai memasang lambang makara UI dimana-mana, dari dinding kamar hingga wallpaper laptop. Beberapa orang tertawa melihatnya. Namun saya tidak peduli, saya tidak melepasnya sampai suatu hari.
Hari itu adalah hari pengumuman SNMPTN Undangan. Saya mengajukan ke UI, tetapi bukan jurusan Ilmu Komunikasi. Predikat saya sebagai anak IPA akan menyulitkan saya untuk silang jurusan, begitu saran tentor di bimbel saya. Maka saya memutuskan mengambil jurusan Sistem Informasi karena berkaitan dengan proses penyampaian informasi which is a part of communication’s proccess. Hari itu juga bertepatan dengan pembagian SKHU hasil Ujian Nasional. Saya mendapat nilai tertinggi ketiga se-kota Pematangsiantar pada waktu itu. Dan hal itu membuat semua orang meyakini bahwa tepat pukul 4 sore, saya akan resmi menjadi mahasiswi UI dari jalur undangan. Semua guru dan teman meyakini seperti itu, kecuali saya sendiri.
Pukul setengah lima sore, Kepala Sekolah telah duduk di depan komputer, siap mengetikkan nomor peserta saya. Sebelumnya, seorang teman saya telah dinyatakan lulus Teknik Metalurgi di UI. Suasana kantor guru begitu riuh. Para PKS berkoar bahwa akan ada dua mahasiswa baru UI dari sekolah hari itu. Sebegitu yakinnya mereka padahal nomor saya belum lagi diinput. Dan keyakinan mereka salah. Halaman web terbuka dengan identitas saya di dalamnya beserta tulisan merah berbunyi “Maaf,..” Saya tidak melihat jelas kelanjutannya karena pandangan saya sudah kabur tertutup air mata. Seluruh kantor senyap. Dan itu adalah satu menit paling menyakitkan dalam hidup saya. Sorak sorai berganti ucapan penghiburan, semua sibuk menyiapkan kata-kata “masih banyak jalan lain menuju bangku kuliah.” Ya, sore itu, 27 Mei 2013 saya dinyatakan tidak lulus SNMPTN jalur Undangan. 
Kabar tersiar cepat, sang juara umum tak lulus jalur undangan. Semua sibuk menebak, dimana kesalahan pemilik nilai tertinggi di sekolah. Mereka tak menemukan sebabnya. Maka semuanya menyerbu saya, sibuk bertanya “kenapa kamu bisa gagal?” Dan itu adalah pertanyaan terakhir yang saya butuhkan. Saya membutuhkan tangan yang bisa menarik saya kembali saat saya jatuh, bukannya mulut yang sibuk bertanya kenapa. Mulai dari situ, saya tidak berani bertemu orang banyak karena takut akan pertanyaan wajib tersebut. Mulai hari itu, tidak ada lagi lambang makara di dinding kamar dan di laptop saya. Memandangnya sekilas saja membuat saya mengingat kegagalan itu. Lalu kegagalan akan memancing pertanyaan. Dan saya benci itu.
Di sela-sela masa ketidakjelasan tersebut, saya mengikuti ujian Sekolah Tinggi Ilmu Statistika (STIS) tahap kedua, psikotest, setelah sebelumnya dinyatakan lulus pada tahap akademik. Dan jujur saja, mengikuti ujian itu bukan murni keinginan saya melainkan keinginan orang tua saya. Demi menyenangkan hati mereka, saya mengikuti tahap demi tahap. Tanpa hati. Karena saya tahu diri, saya tidak akan mampu bertahan selama empat tahun berkutat dengan angka terus menerus walaupun dengan jaminan ikatan dinas.
Dan benar saja. Pada pengumuman tahap dua saya dinyatakan tidak lulus. Saya menangis lagi. Hanya karena saya gagal menuruti keinginan orang tua saya. Namun luka karena mengecewakan orang lain tak pernah sesakit luka karena mengkhianati impian sendiri. Di antara air mata, ada kelegaan besar yang tersimpan. Setidaknya saya masih punya kesempatan untuk menuruti passion saya. Dan ilmu komunikasi tak pernah kehilangan kilaunya di mata saya.
Ketika satu pintu tertutup, pintu lain akan dibukakan. Hanya tentang seberapa kuat kita mau “mendobrak” pintu itu. Begitu kata Ibu saya. Maka dari itu saya mulai berburu “pintu” yang hendak didobrak melalui jalur ujian tertulis SBMPTN. Ini fase terberat. Memakai jaket kuning berlogo makara ternyata masih menjadi impian saya. Namun, luka tanggal 27 Mei juga belum kering. Saya takut luka yang belum kering itu akan berdarah lagi. Maka dari itu, saya berdamai dengan diri sendiri dan mengalihkan pandangan ke Unpad. Saya memilih Ilmu Komunikasi Unpad, Ilmu Komunikasi UGM, dan Oceonografi Undip karena saya ikut program Campuran. Beberapa orang sempat menertawakan pilihan saya. Mengatakan seharusnya saya cukup realistis dengan menjatuhkan pilihan di universitas Pulau Sumatera. Tapi saya tidak bisa. Saya telah berdamai dengan mengabaikan mimpi memakai makara, saya tidak sanggup jika harus membuang juga mimpi kuliah di Pulau Jawa. Dengan begitu keras kepala, saya mendaftar SBMPTN.
Lalu dimulailah hari-hari perjuangan itu. Lintas jurusan bukan perkara mudah. Dua tahun bersenda gurau dengan tabel periodik dan tiba-tiba harus memahami Break Even Income butuh usaha lebih. Dua tahun mendengar dongeng tentang proses infeksi virus secara litik dan lisogenik lalu tiba-tiba harus memahami mengapa Balaputradewa melarikan diri ke Sriwijaya tentu sedikit membingungkan. Saya ingat bagaimana saya dan beberapa teman di IPC setiap harinya harus menjadi warga nomaden dengan berpindah mencari kelas yang mengajarkan materi IPS terlebih dahulu. Tak jarang, kami harus menumpang lagi di kelas sore hari demi mengejar tiga tahun materi IPS dalam waktu 1,5 bulan. Kami menjadi tukang buka tutup pintu bimbel. Datang ketika bimbel baru dibuka dan pulang saat bimbel hendak tutup. Satu hal yang kami yakini bersama, usaha tak akan pernah mengkhianati. Man jadda wa jada.
Confucius mengatakan strategi matang adalah poin penting dalam memenangkan pertarungan. Orang-orang mengatakan siswa jurusan IPA akan unggul dalam bidang matematika dasar di tes tertulis. Tapi saya tahu diri, saya bahkan tak pernah benar-benar paham konsep trigonometri baik differensial maupun integralnya. Dan selalu ada celah jika kita jeli melihatnya. Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia masih bisa dijadikan andalan dalam menghasilkan skor. Maka saya hanya fokus pada dua bidang ini untuk kemampuan dasar. Hingga melakukan suatu langkah ekstrem; mengikuti les privat Bahasa Indonesia. Iya, Bahasa Indonesia. Siapa sangka bahasa yang kita gunakan sehari-hari ternyata menyimpan banyak sekali kaidah yang tak banyak dipahami orang. Sehabis pulang bimbel jam 6 sore, saya melanjutkan les privat dari jam 8 malam hingga pukul 11 malam. Setiap hari, termasuk hari Minggu selama sebulan lebih. Iya, saya mengorbankan semuanya demi satu mimpi. Anggap saja oppurtinity cost yang harus dipenuhi.
Mendekati detik-detik ujian, ada pengumuman pembukaan pendaftaran SIMAK UI. Ujian yang diadakan oleh pihak UI bagi mereka yang masih keras kepala ingin mendobrak pintu masuk UI, termasuk saya. Entahlah, mimpi memakai almamater kuning dengan makara belum juga kehilangan pesonanya di hati saya. Rasa penasaran berpadu dengan impian yang belum kehilangan nyalanya menghasilkan tekad kuat; ini kesempatan terakhir saya mewujudkan mimpi. Maka saya mendaftarkan diri, dengan biaya yang jauh lebih mahal dari tes biasa, tiga ratus ribu untuk dua pilihan dan biaya lima puluh ribu untuk setiap pilihan tambahan. Pilihan saya jelas, komunikasi di tempat pertama, disusul kriminologi, lalu sastra inggris. Sampai sekarang saya tidak mengerti kenapa saya memilih kriminologi dan sastra inggris. Saya hanya punya alasan untuk komunikasi.
Lalu, setelahnya ada lagi pembukaan pendaftaran Ujian Masuk Undip. Lulusan SMA yang belum jelas kuliah dimana ternyata bisa jadi sangat kalap. Saya mendaftar lagi, demi mimpi kuliah jurusan Komunikasi di Jawa. Beberapa orang mencibir, berkata saya serakah dengan mendaftar di semua tes. Mereka lupa kalau saya bahkan belum diterima di mana-mana. Sebagian berkomentar tentang banyaknya uang yang harus dibayar untuk semua pendaftaran itu. Hei, ayah saya saja sebagai penyokong utama finansial saya tidak pernah mempersoalkan hal itu. Butuh kepala yang sangat keras agar tidak bisa ditembus oleh kata-kata tajam semacam itu. Dan atas nama mimpi, I have to go on. 
Selasa, 18 Juni 2013. Hari pertama ujian SBMPTN. Saya mendapat lokasi di FKG USU. Ujiannya TPA dan Kemampuan Dasar. Kalau boleh jujur, soal yang diujiankan jauh beda dengan soal yang biasa diujikan di try out bimbel. But the show must go on. Kerjakan semampu sajalah. Guru english saya semasa SMA pernah berkata, usaha maksimalmu hanya bisa dilakukan sampai sehari sebelum ujian. Pada saat hari H, hanya Tuhanlah yang bisa benar-benar membantu. Dan benar, just face it. Sesusah apapun, yakinlah usaha tidak akan mengkhianati. Hari pertama saya hopeless sehopeless hopelessnya hopeless. Butuh dua batang eskrim stroberi sampai akhirnya saya bisa menjawab pertanyaan sepupu saya tentang bagaimana ujian hari itu. Itupun menjawabnya sambil menangis. Entahlah, ancaman kuota tinggal 30 persen dan harus bersaing dengan alumni benar-benar mimpi buruk.
Hari kedua. Saya harus ujian dari pagi hingga siang karena ikut program IPC. Satu hal yang ternyata useless. Pada saat ujian kemampuan IPA, saya hanya menatap kertas, ingin segera keluar dari ruangan kalau saja tak dibilang melanggar norma kesopanan. Dan dari 60 soal, saya hanya menyelesaikan sekitar 25 soal yang belum tentu benar juga. Dua tahun belajar IPA dan beginilah hasilnya. Dalam hati saya tertawa miris.
Sesi kedua, kemampuan IPS. Pada sesi ini baru saya menganggap benar-benar penting. Dari 60 soal, saya menyelesaikan sekitar 50 soal, meskipun belum tentu benar juga. Tapi yah, at least I tried. Lalu ujian dinyatakan selesai. Satu hal yang tidak pernah saya lakukan adalah mengecek jawaban saya dengan kunci yang banyak beredar. Prinsip saya; let’s bygone, be bygone. Mengetahui hasil ujian sebelum hasil resmi keluar itu semacam membuat down diri sendiri. Toh kalau kamu tahu jawabanmu salah, bukan berarti kamu bisa mendatangi pengawas untuk menggantinya, kan?
Satu usaha telah dilakukan, tapi satu saja tidak cukup. 30 Juni 2013, ujian SIMAK UI di SMKN 8 Medan. Ujiannya hanya satu hari. Kali ini saya pure IPS jadi masuknya siang. Dan masih tetap tahu diri di kemampuan dasar. FYI, saya hanya mampu menyelesaikan SATU soal matematika dasar dari dua puluh soal yang diberikan. Cukup membuat down mengetahui teman-teman saya rata-rata menjawab lima atau tujuh soal. SATU PER DUA PULUH SOAL. Iya, saya tahu saya hanya bisa banyak-banyak berdoa kali ini. Dengan doa, saya menyelesaikan sesi kedua, kemampuan IPS 60 soal dengan waktu 60 menit. 1 soal 1 menit, dan itu mustahil. Membaca wacana IPS Terpadunya saja sudah memakan waktu lebih dari 5 menit dan ada dua teks semacam itu. Saya tidak sempat menghitung berapa soal yang bisa saya kerjakan. Yang jelas, selesai tes, saya menyempatkan diri untuk berdoa mengingat 1 soal di madas tadi. 
Lalu sampailah pada tanggal 6 Juli 2013. Ujian Masuk Undip di SMAN 1 Medan. Kali ini juga pure IPS. Saya duduk di deretan paling depan. Satu hal yang sedikit membuat miris. Pengawas ujian sampai segitunya memandangi SKHUN saya pada saat pengecekan identitas. Mungkin dia berpikir, “anak ini mau apa lagi ikut ujian yang pure IPS dengan nilai IPA seperti ini?” Ah, Bapak tidak tahu isi hati saya. Hahahaha. Ujian kali ini setara dengan soal UN. Itu kenyataan. Saya yang bego matematika pun bisa mengerjakan 13 dari 20 soal. Serius. Enggak tahu deh benar atau tidak. Hahahaha.
Itu ujian terakhir saya memperjuangkan mimpi kuliah di Jawa jurusan Komunikasi. Sebenarnya saya ingin ikut Ujian Masuk UGM juga, tapi lokasi ujian hanya ada di Pekanbaru and my mom thought it was too far for me. Lagian waktunya hanya selang satu hari dengan UM Undip. Yah, saya mengakhiri touring saya dari satu SMA ke SMA lain perkara ujian. Iya, dalam rentang satu bulan, saya harus ikut empat ujian yang berbeda, termasuk psikotes STIS yang gagal itu hahaha. Dalam satu bulan, empat kali pula bolak-balik Siantar-Medan. Buat adik-adik kelas tiga SMA, kalian juga bakal kayak gitu ntar, kalau nasibnya kayak saya hihihi..
Dua hari setelah ujian Undip, tanggal 8 Juli, pengumuman SBMPTN. Pengumumannya pukul empat sore. Dan yah, saya masih begitu keras kepala dan mendaftar juga ke Unpad untuk D3 dengan jalur seleksi rapor. Sialnya, saya tidak tahu bahwa hari itu adalah hari terakhir pendaftaran. Jadi di tengah-tengah proses input nilai, muncul pemberitahuan masa pendaftaran sudah ditutup. Such a stupid thing I did, huh? Berasa bego banget dan udah ngebuang seratus ribu uang pendaftaran dengan percuma. Dengan kekesalan yang memuncak, saya pulang ke rumah, dari warnet. Sudah pukul empat waktu itu dan saya  tidak berani melihat pengumuman. Niatnya sih melihatnya malam, kalau perlu tengah malam supaya tidak ada yang nanya-nanya hasilnya. 
Di twitter sudah rame saat itu, ada yang alhamdulillah, ada juga yang emoticon sedih. Saya makin jiper. Ternyata handphone saya berdering, dari nomor tak dikenal. Suara perempuan di seberang sana terdengar sumringah. Dia memperkenalkan diri sebagai staff dari bimbel dan mengabarkan saya lulus SBMPTN. Saya terdiam dan bertanya, menang dimana? Dia gantian heran, masa belum melihat pengumuman sepenting ini. Akhirnya dia memberi tahu saya lulus di pilihan pertama Komunikasi Unpad. I still remember that feeling. Merinding. Lalu nangis. It’s like, akhirnya gue kuliaaaah jugaaaaaaaaaaaaaaaa. Yay! Langsung heboh nelponin mama sama ayah yang tinggal nun jauh di luar kota. Reaksi mereka sama, mom nangis dan berkata, akhirnya kamu kuliah juga. What the…
Intinya saya akan kuliah di jurusan Komunikasi dan di Pulau Jawa. How can it be better? Udah ngerasa cukup banget dan melupakan semua hasil tes lainnya. Saya mempersiapkan berkas untuk ke Unpad, SEMUANYA. Bahkan saya sudah menghubungi teman yang tinggal di Bandung agar menyediakan akomodasi selama saya disana hihi. Dia bahkan sudah memberi nomor papanya agar bisa minta jemput saat di bandara. Intinya; saya sudah amat siap berangkat ke Bandung.
Tapi celetukan ayah saya saat saya meminta dipesankan tiket pesawat ke Bandung mengubah segalanya. Kapan pengumuman di UI? Jleb. Euforia saya tentang Bandung terhenti sejenak. Saya masih punya harapan ke UI. Namun, terlalu tamak rasanya jika masih menginginkan UI setelah tes UM Undip saya pun dinyatakan lulus di Komunikasi. Lulus di dua tempat dan harus memilih sudah merupakan kebanggaaan bagi saya. Namun ayah saya berkeras, kita harus tetap tunggu hasil dari UI. FYI, ayah saya tidak tahu cerita satu soal per dua puluh di madas makanya ia bisa sedemikian optimisnya. 
Karena beliau penyandang finansial untuk tiket pesawat dan biaya kuliah, maka saya hanya bisa menuruti saja. Kita sama-sama menunggu tanggal 19 Juli walaupun saya bahkan sudah meminta agar dicarikan kost di Bandung. Seniat itu. 
Tanggal 19 pagi. Pengumuman keluar jam 8 pagi. Jam 8 lebih lima menit. Ada teman yang bertanya bagaimana hasilnya. Baru saya buka situs UI. Input nomor ujian yang menurut saya bagus banget 2024200244. Nomor cantik, kan? Hahahaha. Situsnya terbuka dan voila! Selamat, Anda diterima sebagai calon mahasiswa baru Universitas Indonesia. Anda resmi menjadi blablabla…. dan di bawahnya tertulis Program Studi Ilmu Komunikasi S1 Reguler. 
Saya terdiam. Benar-benar terdiam. Merasa itu adalah mimpi. Namun dering sms yang banyak masuk menanyakan hasilnya menyadarkan saya itu bukan mimpi. Oke. Oke, saya diterima di UI. Jurusan Komunikasi. Saya akan memakai jaket kuning dengan emblem makara. For several seconds, it all feels like completely a dream. Tapi saya harus bangun, saya harus mengonfirmasi pendaftaran hari itu juga dan mengurus berkas-berkas yang amat sangat banyak dalam waktu dua hari. (Ntar saya ceritain ribetnya ngurus berkas pengajuan biaya operasional hahaha)
Saya mengabari mom and dad. Dan perkataan mom benar-benar ngejleb; gak sia-sia kamu penuhin satu rumah itu dengan lambang UI, ya. Itu hari Jumat, lalu Minggu pagi saya mengejar penerbangan pertama pukul lima pagi karena ada berkas yang harus sampai hari Seninnya. FYI, hari Minggu jam 8 pagi seharusnya saya ikut tes STAN. Tapi dari awal saya ingin ke UI. Saya ingin kuliah di Komunikasi. Dan sekali lagi; kalau punya mimpi harus keras kepala.
Yah, so here I am. Being a maba at University of Indonesia. Cerita ini mungkin gak penting, tapi saya merasa perlu menulisnya sebelum saya lupa bagaimana rasanya mendengar pengumuman-pengumuman itu hahahaha. Tetap semangaaaat!!!