Tampilkan postingan dengan label Communications. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Communications. Tampilkan semua postingan

20151206

Malin Kundang Zaman Digital






Gerimis selalu menjadikan saya melankolis. Padahal, tes-tes kepribadian itu bilang saya koleris. Ya sudahlah, karakter manusia memang harusnya tak diiris-iris (maklum, saya adalah seorang anti-esensialis).

Ketika sedang jadi melankolis seperti ini, saya senang memutar kenangan-kenangan di kepala saya. Iya, persis seperti memainkan film. Ada tema tertentu. Ada kisahnya. Kenapa begitu? Sebab kalau tidak dikelompokkan, saya jadi pusing. Saya kasih tahu saja ya, kenangan yang datang keroyokan itu menyakitkan. 

Saat ini, saya rindu Ibu. Maka, benak saya memutar film ingatan yang tokohnya perempuan yang sudah tidak saya temui selama hampir dua belas bulan itu. 

***

Saya selalu melabeli Ibu sebagai semi-luddite. Luddite sendiri adalah istilah yang disematkan pada orang-orang yang dengan sadar menolak penggunaan teknologi karena tahu dampak negatifnya. Ibu saya tidak menolak seluruh teknologi, ia hanya menolak ponsel pintar. Ibu lebih memilih menggunakan Nokia gendut ber-keyboard QWERTY yang sebenarnya bisa digunakan untuk mengakses internet meski kecepatannya menyedihkan. 

Namun, bukan berarti Ibu gaptek. Berkat Ayah yang sangat kekinian (punya lebih dari satu ponsel pintar, semua aplikasi chatting, dan semua akun sosial media), Ibu tahu Facebook, Twitter, Instagram, Path, BBM, LINE, dan WhatsApp. Ibu mengonsumsi konten-konten media sosial itu lewat gawai dan  akun Ayah. Makanya, ia tahu apa yang terjadi dengan hidup anak-anaknya yang tinggal di dua pulau yang berbeda.

Saya pernah penasaran dan bertanya. Kenapa tak buat akun Facebook sendiri, Mam?  Ia menjawab. Buat apa? Dengan melihat-lihat dari (akun) punya ayahmu saja sudah cukup, kok. Saya tetap memaksanya untuk menjadi bagian dari masyarakat kekinian. Tidak mau bertukar kabar dengan teman-teman SMA di grup Facebook? Katanya: Enggak, aku bisa telepon teman-teman dekatku. Lebih enak ngobrol langsung. Saya cecar lagi. Tapi kan, di Facebook bisa lihat gambar, kalau lewat telepon tidak bisa. Akhirnya ia bilang: Nanti kalau aku ketagihan main Facebook seharian, yang ngurusin Ayah dan adikmu siapa? Hm, benar juga. 



Bertahun-tahun ibu memegang teguh pendiriannya. Saya sih, salut sama Ibu. Kok bisa, tidak tergoda dengan segala macam mainan modern yang ada di sekelilingnya. Dibanding menenggelamkan diri di depan layar gawai, Ibu lebih memilih menemani adik bungsu saya mengerjakan PR, menjemput les, atau sekedar mengobrol dengan tetangga.

Sepengamatan saya, hidup Ibu jadi lebih sederhana. (Tampaknya) juga lebih bahagia. Ketika meninggalkan rumah, Ibu tak perlu memastikan segala macam kabel charger dan powerbank sudah masuk ke dalam tas atau belum. Buat apa? Ponsel Ibu baterainya tahan dua hari. Ketika berkunjung ke rumah orang lain, Ibu akan menyapa si empunya rumah dengan cara yang pantas, bukannya terburu-buru dan menanyakan di mana letak colokan. Rasanya, Ibu selalu hadir. Sepenuhnya. Perhatiannya tak penah terbelah antara dunia offline dan online. 

Without sophisticated gadget, my Mom seems very peaceful. 


Tapi dua bulan belakangan, Ibu memutuskan menggunakan ponsel pintar milik Ayah dulu. Saya heran. Kenapa?

"Supaya aku tetap bisa lihat anak-anakku lagi apa. Dari Path-mu, aku tahu kamu lagi dimana, sama siapa. Di fotomu di Instagram, aku bisa lihat kamu makannya banyak apa gak di sana. Dari status LINE-mu, aku bisa tahu kamu lagi ngerasain apa." 

Ibu menjawab sambil tertawa. Tanda bercanda. Buat saya; itu tamparan keras. Tiba-tiba, saya ingat bagaimana saya lebih sering check-in di Path dibanding memberi kabar kepadanya. Saya lebih sering mengunggah foto di Instagram dibanding menceritakan langsung kegiatan saya. Bagaimana saya mencari jawaban atas permasalahan hidup dengan melemparkan pertanyaan di Quora, bukannya meminta pertimbangan orang tua. 

Saya jadi bertanya-tanya. Siapa sebenarnya orang tua kita? Yang menunggu kabar di rumah atau sosial media? Tiba-tiba, saya merasa jadi Malin Kundang zaman digital. 


****
Untunglah ada Strinati (2004) yang bisa menjawab rasa penasaran saya lewat gagasannya yang bernama atomisasi. Atomisasi adalah sebuah keadaan dalam masyarakat massa ketika individu-individu menjalin hubungan hanya atas dasar kepentingan transaksional. Misal, orang tua yang sudah lelah bekerja seharian hanya sempat bertemu anaknya di meja makan, itupun hanya menanyakan apakah PR si anak sudah selesai atau belum. Si anak pun akhirnya hanya merespon seperlunya, merasa tak perlu berbagi cerita tentang kegiatannya di sekolah atau keresahan apa yang sedang ia hadapi. 

Gejala ini terjadi pada masyarakat modern yang kehilangan komunitas-komunitas organiknya. Gaya hidup modern memaksa orang-orang untuk menjalani hidup dengan produktivitas tinggi, bekerja 9 to 5 untuk mengejar kestabilan finansial hingga akhirnya lupa untuk berinteraksi secara pantas dengan orang-orang di sekelilingnya. 

Strinati juga meramalkan bahwa interaksi yang transaksional ini akhirnya membuat individu kehilangan moral compass sebagai pedoman untuk bertindak. Kekosongan ini membuat kita mencari panduan-panduan lain yang lebih mudah diakses dan rasanya selalu ada; internet. Internet dengan segala macam kontennya mengisi perasaan resah dalam diri masyarakat massa. Mungkin saya pun sudah demikian teratomisasi sehingga mencari jawaban lewat Quora, bukan bertanya pada orang terdekat. 

Well, now you understand why people watch TedX and why Mario Teguh gets so many loyal followers or why some official LINE accounts who share some advices to cope with your galau feeling are getting popular. We are simply craving for moral compass(es). 

Sayangnya, moral compass yang berasal dari internet ini bukan menyelesaikan keresahan di awal. Ia justru memperparah dan semakin memberi jarak dari interaksi yang sebenarnya. Jahatnya lagi, kebutuhan akan "puk-puk" temporer ini dimanfaatkan oleh pelaku industri budaya untuk melakukan komersialisasi konten dengan tujuan profit (ini sangat seru untuk dibahas sebenarnya, tapi mungkin lain kali, ya). 

****

Kembali ke Ibu. 

Setelah Ibu memakai ponsel pintar dan punya beberapa aplikasi chatting, bagi saya Ibu tetap jadi semi-luddite. Asal tahu saja, kontak BBM dan WhatsApp Ibu hanya tiga; Ayah, saya, dan Adik saya. Begitu pula dengan semua media sosial lainnya. Sangat privat. Ibu hanya ingin tahu kabar kami sekeluarga. Bayangkan, seteguh apa Ibu memegang prinsipnya. 


Bagi saya, Ibu sangat cerdas. Upaya Ibu untuk membentengi dirinya dari paparan media digital yang berlebihan sesungguhnya adalah upaya untuk tidak teratomisasi. Untuk tidak kehilangan momen-momen dengan orang-orang di sekitarnya karena tenggelam dalam dunia maya. Dan saya harus mengulang ini; hidup Ibu (tampaknya) lebih damai. Setidaknya dibanding dengan hidup saya yang dibombardir begitu banyak stimulus dunia digital. 


Ah, Mam. I envy you for having that kind of peace. I just hope someday I can acquire your bravery and shut down all these overwhelming gadgets. 


****


06122015
It's heavy rain outside and the storms keep scaring me. 


P.S.: Gagasan Strinati bisa dinikmati di bukunya yang berjudul The Introduction to Theories of Popular Culture. Oh ya, gambar dipinjam dari sini dan sini.











20140523

Kita dalam Analogi Bawang

Kami berada dalam satu kepanitiaan yang sama saat di SMA. Saya mengurusi bagian acara dan ia menjadi wakil ketua. Saya tak pernah mengenalnya sebelum berada di kepanitiaan ini dan hal yang sama terjadi padanya. Agenda rapat yang dilakukan dengan frekuensi tinggi membuat kami sering bertemu dan berinteraksi. Awalnya hanya seputar masalah acara yang ingin kami selenggarakan. Awalnya seprofesional itu. 

Hari demi hari berlalu. Topik yang kami bahas tak lagi tentang seberapa siap anggota volksong untuk tampil di acara nanti. Kami mulai membahas hal-hal lain di luar kepanitiaan. Lewat obrolan-obrolan itu, ia tahu betapa saya mencintai es krim. Dan saya tahu betapa ia membenci durian-hal yang menurut saya tidak masuk akal sama sekali.

Lalu, acara yang kami selenggarakan berlangsung sukses dan kepanitiaan dibubarkan. Namun, bukan berarti hubungan interpersonal kami ikut bubar. Semakin lama, semakin banyak topik yang kami bahas, terutama mengenai pribadi masing-masing. Tujuh bulan setelah hari pertama kali kami bertemu, ia ingin menamai hubungan yang kami jalani. Dan saya mengiyakan.

Mengiyakan permintaannya berarti menyatakan setuju untuk membagi lebih banyak. Menceritakan pengalaman sehari-hari dengan intensitas tinggi. Mengizinkannya untuk mengetahui hal-hal yang tidak saya bagikan dengan orang lain. 

Kini, hampir dua belas bulan setelah saya hari saat saya mengiyakan permintaannya. Tak terhitung banyaknya informasi yang kami pertukarkan. Topik yang kami bahas tentu berbeda dari hari dimana ia menanyakan nama saya. Ia tentu lebih mengenal saya daripada orang-orang baru yang saya temui di masa perkuliahan ini. 

Saya selalu merasa takjub bagaimana perubahan dari awal kami tak mengenal satu sama lain walaupun berada di sekolah yang sama dan angkatan yang sama hingga bisa sedekat sekarang. 

Dan sebuah teori komunikasi yang saya pelajari di kelas menjelaskan proses ini dengan sangat baik. Teori itu bernama Penetrasi Sosial. Satu konsep yang sangat menarik bagi saya adalah bagaimana Altmann dan Taylor-penemu teori ini-mengibaratkan diri manusia seperti bawang merah yang berlapis-lapis.

Setiap lapis bawang itu merupakan informasi-informasi yang kita miliki tentang diri kita. Dan sebuah hubungan interpersonal bertujuan untuk membuka lapis demi lapis bawang itu. Lapisan luar berisi informasi yang sangat umum dan biasanya diketahui oleh semua orang. Semakin ke dalam, informasi bersifat semakin rahasia. Proses pengungkapan informasi ini dinamakan self disclosure. 

Tingginya intensitas self disclosure inilah yang membuat hubungan kami bergerak dari sebuah hubungan profesional hingga hubungan yang memiliki kedekatan khusus. Dan jika mengikuti analogi yang dikemukakan oleh teori ini, lapisan bawang yang kami "kupas" mungkin sudah sangat tebal. 

Maka muncul pertanyaan di benak saya, ketika lapisan bawang yang tersisa hampir habis, apalagi yang bisa "dikupas"? Jika self disclosure telah mencapai puncaknya, kemana lagi arah hubungan ini?

Teman saya membantah pertanyaan saya ini dengan berkata, "Kamu tidak akan pernah benar-benar mengenal seseorang secara utuh. Lapisan bawangnya tidak akan pernah habis!"

Oke, saya mengalah. Dan mengubah pertanyaannya menjadi, "Jika lapisan bawang yang saya miliki sudah mencapai batas untuk bisa "dikupas" (yang artinya lapisannya masih ada, tetapi tinggal sedikit), kemana hubungan ini akan berujung?

Asumsi terakhir dari teori ini menjawab pertanyaan itu. Asumsi itu berbunyi, "sebuah hubungan juga mencakup tahap depenetrasi dan disolusi." Depenetrasi dan disolusi adalah sebuah tahap penarikan diri yang berujung pada berakhirnya sebuah hubungan interpersonal.

Mungkin, akan ada saat dimana kita kehabisan informasi mengenai diri sendiri untuk dibahas. Saat kita terdiam di telepon, bingung harus membicarakan apa. Saat cangkir kopi menjadi saksi kebungkaman yang terasa menyesakkan. 

Menjauh sejenak mungkin bisa menjadi sebuah cara membangun kembali lapisan-lapisan bawang itu. Agar ada yang bisa kita bicarakan lagi. Agar ada hal-hal yang tak kau ketahui lagi. Agar waktu yang kita habiskan di telepon  bukan lagi menjadi ruang bagi udara yang berputar tanpa kata. Agar setidaknya, diamku dan diammu bisa terpecah berkat si bawang yang kembali utuh. Semoga. 



22 Mei 2014
17:24 WIB
Tolong jangan salah paham. 





Path dan Dialektika Relasional

Siapa tak kenal Path?

Sebuah jejaring sosial yang sedang digandrungi masyarakat Indonesia karena fitur-fitur yang dimilikinya. Path diklaim sebagai sebuah jaringan sosial yang bersifat lebih personal daripada jejaring sosial sejenis karena seseorang hanya diperbolehkan memiliki maksimal 150 orang teman. Hal ini bukan tak beralasan. Katanya, ada penelitian yang menemukan bahwa manusia hanya bisa memiliki 150 orang terdekat sepanjang hidupnya.

Hadirnya orang-orang terdekat di jejaring yang kita bangun melalui Path membuat momen-momen yang dibagi lebih personal. Bagi saya, merupakan hal yang menyenangkan ketika kita bisa bebas membagikan hal-hal yang terjadi dalam kehidupan kita tanpa memikirkan apa yang akan orang lain katakan. Toh, Path berisi orang-orang yang benar-benar saya kenal. Contoh konkretnya, ada perbedaan caption yang saya tuliskan bersama dengan foto yang saya posting di Path dan Instagram. Path menjanjikan intimasi yang tidak ditemukan di jejaring sosial lain-setidaknya bagi saya. 

 Namun, dengan tingginya tingkat adopsi Path oleh masyarakat Indonesia, akhirnya Path membolehkan penggunanya untuk berteman dengan 500 orang di Path. Ekspansi yang dilakukan oleh Path ini menimbulkan beragam respon dari penggunanya.

Sebagian pengguna menyambut dengan euforia. Tipikal pengguna macam ini akan menerima semua permintaan pertemanan tanpa pilih-pilih. Memperlakukan Path seperti Facebook. Saya masih ingat di awal-awal pemberlakuan jumlah pertemanan baru itu, linimasa Path saya dipenuhi dengan feeds mengenai jalinan perteman baru yang dibangun oleh teman-teman saya. Seorang teman yang kesal dengan fenomena ini bahkan menjuluki hari-hari itu sebagai "Hari Pertemanan Sedunia".

Sementara, di seberang jalan, terdapat orang-orang yang awalnya merasa senang dengan ekspansi ini. Saya merasa gusar setengah mati ketika semua teman saya sudah bisa menerima lebih dari 150 pertemanan, sementara akun saya belum bisa. Dan saya kegirangan ketika tahu akun saya sudah bisa melakukan hal yang sama. Tetapi beberapa hari kemudian, saya mulai jengah dengan hal itu.  

Mendadak, saya merasa Path begitu penuh dengan permintaan pertemanan dari orang-orang asing yang tak saya kenal. Beberapa permintaan pertemanan datang dari orang yang saya kenal, tetapi hanya sekedar mengenal dalam artian menyapa jika bertemu, bukan orang-orang yang saya kenal secara personal. Dan ini menimbulkan dilema tersendiri. Apakah kita akan menerima permintaan pertemanan mereka dengan risiko memakai kembali "topeng pencitraan" seperti di sosial media lain? Jika tak kita terima, predikat "eksklusif" mungkin akan disematkan pada diri kita-jika kata "sombong" terlalu ekstrem untuk digunakan.

Mengapa hal ini bisa terjadi?
Mengapa saya merasa ingin "berteman" dengan semua orang, tetapi di saat yang bersamaan saya hanya menginginkan orang-orang tertentu yang ada dalam jejaring pertemanan saya?

Bukan, jawabannya bukan karena saya labil.

Sebuah teori komunikasi menjelaskan hal ini. Teori itu bernama Dialektika Relasional. Dalam teori ini disebutkan bahwa manusia cenderung berada dalam kontradiksi-kontradiksi yang saling tarik menarik ketika menjalin sebuah hubungan dengan orang lain. Sederhananya, hubungan tidak dipandang sebagai sebuah hal yang saklek; kita hanya ingin dekat dengan seseorang atau menjauhinya. Bukan seperti itu. Teori ini menganggap sebaliknya. Dalam sebuah hubungan, kita cenderung ingin dekat dengan orang lain sekaligus ingin menjauhinya, walaupun tidak dalam waktu yang bersamaan. Tetapi, fenomena itu terjadi terus-menerus dalam hubungan manusia.

Hubungan saya dengan orang lain yang dimediasi oleh Path, juga sejatinya begitu. Di satu sisi saya ingin berbagi momen-momen dengan orang-orang dalam kehidupan saya. Namun, di sisi lain saya mem-filter siapa orang yang boleh melihat semua momen itu dan momen apa saja yang ingin dibagi. Berbicara teoritis, konsep ini disebut dengan openness and protection. Terbuka, tetapi ingin sekaligus ingin melindungi informasi-informasi personal yang kita miliki. 

Lalu, bagaimana menyikapi kontradiksi ini? Sebab hal-hal yang berisi ketidakstabilan akan cenderung mendatangkan stress secara kognitif. Teori ini juga menawarkan berbagai cara sebenarnya. Namun, saya memilih pola selection, yaitu memutuskan di kubu mana saya ingin menempatkan orang-orang yang dimediasi oleh Path ini; openness atau protection.

Dan saya memilih openness.

Saya ingin Path tetap menjadi seperti tujuan awal ia diciptakan; sebuah jejaring sosial yang menjanjikan ekslusivitas dan intimasi. Maka dari itu, saya menghapus pertemanan dengan beberapa orang yang tidak saya kenal secara personal. Saya ingin kembali bebas mem-posting foto selfie saya tanpa bantuan efek Camera 360 di jejaring sosial. Saya ingin kembali menjadi diri saya yang tanpa topeng di jejaring sosial. Dan sejauh ini, bagi saya hanya Path yang mampu menjanjikan hal itu. 

Dalam memandang perkembangan teknologi, terdapat dua mazhab, yaitu determinisme teknologi dan konstruksi sosial teknologi. Kubu pertama mengatakan bahwa kitalah yang diatur oleh teknologi, sementara kubu kedua berpandangan sebaliknya. Dan saya tak ingin dideterminasi oleh teknologi. Oleh Path. Oleh jejaring yang menurut Immanuel Castell telah mengubah banyak aspek dalam kehidupan manusia. Maka dari itu, kita harus bijak menggunakan teknologi, khususnya jejaring sosial yang sangat variatif belakangan ini. Menentukan tujuan dari pemakaian sebuah teknologi bisa menjadi langkah awal untuk tidak menjadi korban dari teknologi. 


23 Mei 2014
16:29 WIB
Maaf, saya menghapus Anda dari jejaring Path saya. 







20131018

Esai Kompetisi Prestasi Maba UI 2013

Peran Pemuda dalam Memerangi Disintegrasi Laten Penggunaan Bahasa Indonesia di Sosial Media
Dara Adinda Kesuma Nasution
Ilmu Komunikasi
1306460154

            Mendengar kata disintegrasi bangsa, dapat dipastikan dalam benak kita langsung terbayang peristiwa-peristiwa perpecahan besar, seperti kasus lepasnya Timor Timur dari wilayah Indonesia ataupun gerakan separatisme GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Namun, kata disintegrasi tidak melulu soal lepasnya wilayah fisik republik ini. Kata disintegrasi yang diartikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai keadaan tidak bersatu padu; keadaan terpecah belah; hilangnya keutuhan atau persatuan. Perpecahan dapat terjadi dalam sebuah hal sepele yang sering kita abaikan, misalnya dalam penggunaan bahasa Indonesia.
            Kenyataan bahwa bahasa merupakan salah satu simbol pemersatu bangsa tidak dapat dibantah lagi terkait eksistensinya dalam butir ketiga Sumpah Pemuda yang dideklarasikan pada tanggal 28 Oktober 1928. Bahasa Indonesia begitu penting hingga disandingkan dengan status tanah air dan kebangsaan Indonesia. Posisi vital bahasa Indonesia diperkuat lagi dengan adanya pasal 36 Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi; bahasa negara ialah bahasa Indonesia.
            Indonesia jelas membutuhkan pemersatu karena sifatnya yang multikultural menghadirkan banyak sekali bahasa daerah yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Perbedaan bahasa ini menjadi noise (gangguan) yang menghambat proses komunikasi. Suwardi (1996) menyebutkan hancurnya sistem komunikasi bisa menghancurkan harapan orang untuk berintegrasi. Dan penggunaan bahasa Indonesia sebagai lingua franca telah menyatukan rakyat Indonesia dari Sabang hingga Merauke.

Bahasa Kita Tidak Lagi Satu
            Ironisnya, bahasa Indonesia sekarang ini hanya dianggap sebagai simbol komunikasi tanpa melihat esensinya sebagai alat pemersatu bangsa. Penggunaan bahasa Indonesia sekarang ini seringkali tidak mengikuti kaidah-kaidah yang telah ditentukan. Penyimpangan ini tentu dapat mencederai integrasi bangsa Indonesia. Ibarat sebuah pita pada pembungkus kado, bahasa Indonesia semestinya tidak hanya dipandang sebagai pemanis belaka, tetapi ia memiliki fungsi lebih yaitu sebagai pengikat yang mempersatukan rakyat Indonesia dari berbagai kalangan.
            Contoh penyimpangan yang paling mudah dilihat sekarang ini adalah penggunaan bahasa Indonesia di sosial media, misalnya Twitter. Jarang sekali kita menemukan sebuah akun Twitter yang menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan kaidah-kaidah kebahasaan baku. Kalaupun ditemukan akun-akun berbahasa baku, biasanya merupakan akun milik sebuah institusi resmi atau pejabat pemerintahan yang sengaja menunjukkan citra diri yang baik. Namun dalam level masyarakat awam, kaidah kebahasaan dianggap sebagai angin lalu saja.

            Tweet salah seorang pengguna Twitter yang menunjukkan penggunaan tata bahasa Indonesia yang tidak baku. Diakses dari www.twitter.com pada tanggal 6 Oktober 2013 pukul 17.30 WIB.

            Screencapture di atas merupakan salah satu contoh dari penggunaan bahasa Indonesia yang tidak sesuai kaidah. Kata “laki-laki” hanya disebutkan sebagai ”laki”saja dan penulisan partikel “lah” yang terpisah dari kata sebelumnya. Penyingkatan-penyingkatan yang awalnya dimaksudkan untuk efisiensi penyampaian pesan di Twitter yang dibatasi hanya sebanyak 140 karakter tanpa disadari dapat menghilangkan kesadaran kita untuk berbahasa Indonesia yang baik dan benar.
            Belum selesai dengan permasalahan penggunaan bahasa Indonesia yang tak sesuai kaidah, ada satu masalah mengenai kebahasaan yang muncul di Twitter, yaitu munculnya kosakata-kosakata baru yang tidak terdaftar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kosakata seperti cius, miapah, enelan, dan berbagai kosakata lain menjadi lumrah digunakan dalam interaksi sosial media. Awalnya mungkin hanya dimaksudkan sebagai lelucon, tetapi dengan adanya fitur Retweet dan Trending Topic yang membuat sebuah informasi di Twitter merebak cepat dapat mempengaruhi cara kita berkomunikasi. Bahkan, lama-kelamaan dapat menggeser kosakata-kosakata asli yang tercantum dalam KBBI.


            Tweet dari akun resmi grup band Owl City yang menggunakan bahasa Alay, yaitu penulisan dengan huruf dan angka sekaligus. Diakses dari http://i47.tinypic.com/fdzypt.jpg pada tanggal 6 Oktober 2013 pukul 18.37 WIB.

            Dalam screencapture di atas, bahkan personel sebuah band internasional, Owl City, ikut-ikutan menulis dengan bahasa Alay, sebuah bahasa yang jauh dari tatanan kaidah bahasa Indonesia baku. Maka dapat dibayangkan, pesan tersebut akan menyebar ke  800.235 followers-nya dan menjadi Trending Topic sehingga dianggap menjadi sebuah tren baru dan semakin melemahkan kemampuan berbahasa Indonesia yang baku.

Langkah Kita sebagai Pemuda
            Hasil survei yang dilakukan Yahoo! pada Desember 2008, pengguna internet terbanyak didominasi oleh remaja 15-19 tahun, yaitu sebesar 64 persen.Lebih lanjut dalam survei yang sama dijelaskan bahwa 58 persen waktu penggunaan internet dihabiskan untuk social networking. Dan jumlah pengguna Twitter di Indonesia meraih peringkat kelima di dunia dengan jumlah pengguna sebanyak 29 juta orang (Brand24, 2013). Maka dapat disimpulkan bahwa aktivitas sosial media didominasi oleh pemuda dan pelaku penyimpangan berbahasa Indonesia di media sosial juga merupakan pemuda itu sendiri.
            Sebagai pihak yang dominan mencederai bahasa sendiri, para pemuda harus melakukan resolusi sebelum muncul masalah-masalah baru di bidang ini. Menggugah nasionalisme melalui penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di kalangan pemuda sekarang ini bisa jadi dipandang sebagai langkah normatif belaka yang tersendat di level implementasi. Namun, tentu saja masih ada beberapa langkah sederhana tapi nyata yang bisa kita gunakan untuk memperbaiki keadaan ini.
            Pertama, dalam aktivitas sosial media hendaknya kita berbahasa sesuai dengan status. Jika berstatus sebagai mahasiswa, gunakan diksi-diksi yang merefleksikan tingkat intelektualitas sebagai mahasiswa. Bukan bermaksud memamerkan kemampuan berbahasa, tetapi memang inilah yang harus dilakukan untuk menyelamatkan keadaan.Lebih dari dua belas tahun waktu yang dihabiskan di bangku sekolah untuk mempelajari bahasa Indonesia sangat disayangkan jika berakhir sebagai formalitas belaka tanpa implementasi nyata. Jika semua pemuda, khususnya mahasiswa memiliki pola pikir seperti ini maka perlahan tapi pasti masalah penyimpangan bahasa Indonesia dapat dikikis habis.
            Yang kedua, pentingnya literasi media dan teknologi di kalangan pemuda. Istilah literasi media dan teknologi dapat disederhanakan menjadi melek media dan teknologi. Artinya, sebagai pemuda kita tidak hanya mengakses semua informasi yang tersebar di sosial media, melainkan dapat menganalisis dan mengevaluasi pesan yang terdapat disana. Langkah ini menjadi penting agar pemuda tidak begitu saja menerima penyebaran bahasa yang tidak sesuai kaidah kebahasaan. Dengan demikian, bahasa yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa baku akan kehilangan pengguna sedikit demi sedikit dan dapat diminimalisasi penggunaannya.
            Ketiga, para pemuda dapat melakukan kampanye mengenai penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di sosial media dengan menggunakan hashtag yang unik sehingga menarik minat pemuda lainnya. Di ranah Twitter juga sudah muncul akun-akun yang mengulas tentang bahasa Indonesia yang baik, misalnya @Bahasa_Kita yang membahas kosakata, tata bahasa, dan penggunaan Bahasa Indonesia. Namun, selama ini belum muncul gerakan dari pemuda itu sendiri secara kolektif. Kampanye ini dapat dilakukan mengingat sebuah teori komunikasi massa dari Schramm dalam Severin dan Tankard (1971) yang disebut dengan Teori Peluru. Teori ini mengatakan bahwa rakyat benar-benar rentan terhadap pesan-pesan komunikasi massa. Apabila pesan “tepat sasaran”, ia akan mendapatkan efek yang diinginkan. Maka dapat dibayangkan jika kampanye mengenai kebahasaan dilakukan secara berkesinambungan, efeknya akan sangat besar dan dapat mengembalikan penggunaan bahasa yang sesuai kaidah.
            Langkah-langkah sederhana di atas diharapkan dapat membantu menyelamatkan nasionalisme dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, khususnya di tataran sosial media yang begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari pemuda.



Daftar Referensi
Severin, Werner J. & Tankard, James W., Jr. (2011). Teori Komunikasi: Sejarah, Metode, & Terapan di Dalam Media Massa. Jakarta: Kencana.
Suwardi, Harsono. (Januari 1996). Integrasi Bangsa dalam Perspektif Komunikasi. Makalah dipresentasikan dalam Seminar Nasional Tinjauan Kritikal Tentang Integrasi Bangsa, Depok.



PS. : Seharusnya ada 3 nama penulisnya disini, it's not pure my idea. Thanks a lot Kak Dinda Larasati and you :))



20131011

How I fell in love with Schramm

Schramm bukan cowok paling ganteng se-FISIP. Schramm juga bukan anak teknik yang oleh teman saya diyakini sebagai diamond in the mud-berlian di dalam lumpur-yang konon katanya selepas masa kuliah, cowok tekniklah yang paling bersinar masa depannya. 

Oke, ini salah fokus.

Schramm, lengkapnya Wilbur Schramm. Penemu salah satu model komunikasi yang menurut saya, just amazing. Beliau menggambarkan model temuannya itu dalam gambar seperti di bawah ini:



Source, encoder, signal, decoder, destination adalah elemen yang udah umum banget dalam komunikasi. Bahkan mulai dari Aristoteles pun punya konsep source dan destination-meski dulu masih sangat sederhana. Lalu Shannon-Weaver juga menggunakan istilah information source dan destination meski dia lebih menekankan pada penggunaan transmitter dan channel, sesuai dengan latar belakang mereka yang teknik banget, eyang Shannon dulunya teknisi telekomunikasi di Bell Telephone Laboratories.


So what does make Schramm different?

Field of Experience. 


Field of experience ini semacam commonness-kesamaan-yang dimiliki oleh dua pihak yang berkomunikasi. 
Semakin lebar irisan field of experience yang dimiliki oleh kedua belah pihak, signal akan lebih mudah disampaikan dan diinterpretasikan sesuai dengan keinginan source. 

Contoh gampangnya, ada orang asing, katakanlah bule Perancis yang ngomong, "merci beaucoup" kepada orang Indonesia yang gak pernah belajar bahasa Perancis. Source-si bule ini- berhasil meng-encode pesan jadi signal. Dan destinationnya-orang Indonesia berusaha men-decode pesan tadi supaya punya makna di dalam otaknya. Tapi karena gak ada commonness di antara mereka berdua tentang "merci beaucoup", orang Indonesia gak punya pengalaman tentang kalimat itu sebelumnya, there's no same field experience, maka signal tidak akan bisa tersampaikan dengan baik. Kalo signal gak tersampaikan dengan baik, jangan harap efek yang diharapkan bakal muncul.


And that's how a relationship works, too.


Inti dari semua persoalan cinta bertepuk sebelah tangan, friendzone, munculnya istilah PHP, a break up, even a serious case like a divorce adalah commonness yang gak ada-atau udah luntur. Iya. Percaya nggak?

Kenapa sampai muncul istilah PHP? Ya karena satu pihak udah mati-matian ngasih kode, tapi pihak yang satunya lagi mengartikannya beda karena field of experiencenya gak sama-yang satu nganggepnya serius banget, satunya cuma nganggep biasa aja. No commonness. 



So the point of making a relationship works is to expand the commonness in both field of experiences. 


Dan itu gak gampang :p