Tampilkan postingan dengan label Thoughts. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Thoughts. Tampilkan semua postingan

20151206

Malin Kundang Zaman Digital






Gerimis selalu menjadikan saya melankolis. Padahal, tes-tes kepribadian itu bilang saya koleris. Ya sudahlah, karakter manusia memang harusnya tak diiris-iris (maklum, saya adalah seorang anti-esensialis).

Ketika sedang jadi melankolis seperti ini, saya senang memutar kenangan-kenangan di kepala saya. Iya, persis seperti memainkan film. Ada tema tertentu. Ada kisahnya. Kenapa begitu? Sebab kalau tidak dikelompokkan, saya jadi pusing. Saya kasih tahu saja ya, kenangan yang datang keroyokan itu menyakitkan. 

Saat ini, saya rindu Ibu. Maka, benak saya memutar film ingatan yang tokohnya perempuan yang sudah tidak saya temui selama hampir dua belas bulan itu. 

***

Saya selalu melabeli Ibu sebagai semi-luddite. Luddite sendiri adalah istilah yang disematkan pada orang-orang yang dengan sadar menolak penggunaan teknologi karena tahu dampak negatifnya. Ibu saya tidak menolak seluruh teknologi, ia hanya menolak ponsel pintar. Ibu lebih memilih menggunakan Nokia gendut ber-keyboard QWERTY yang sebenarnya bisa digunakan untuk mengakses internet meski kecepatannya menyedihkan. 

Namun, bukan berarti Ibu gaptek. Berkat Ayah yang sangat kekinian (punya lebih dari satu ponsel pintar, semua aplikasi chatting, dan semua akun sosial media), Ibu tahu Facebook, Twitter, Instagram, Path, BBM, LINE, dan WhatsApp. Ibu mengonsumsi konten-konten media sosial itu lewat gawai dan  akun Ayah. Makanya, ia tahu apa yang terjadi dengan hidup anak-anaknya yang tinggal di dua pulau yang berbeda.

Saya pernah penasaran dan bertanya. Kenapa tak buat akun Facebook sendiri, Mam?  Ia menjawab. Buat apa? Dengan melihat-lihat dari (akun) punya ayahmu saja sudah cukup, kok. Saya tetap memaksanya untuk menjadi bagian dari masyarakat kekinian. Tidak mau bertukar kabar dengan teman-teman SMA di grup Facebook? Katanya: Enggak, aku bisa telepon teman-teman dekatku. Lebih enak ngobrol langsung. Saya cecar lagi. Tapi kan, di Facebook bisa lihat gambar, kalau lewat telepon tidak bisa. Akhirnya ia bilang: Nanti kalau aku ketagihan main Facebook seharian, yang ngurusin Ayah dan adikmu siapa? Hm, benar juga. 



Bertahun-tahun ibu memegang teguh pendiriannya. Saya sih, salut sama Ibu. Kok bisa, tidak tergoda dengan segala macam mainan modern yang ada di sekelilingnya. Dibanding menenggelamkan diri di depan layar gawai, Ibu lebih memilih menemani adik bungsu saya mengerjakan PR, menjemput les, atau sekedar mengobrol dengan tetangga.

Sepengamatan saya, hidup Ibu jadi lebih sederhana. (Tampaknya) juga lebih bahagia. Ketika meninggalkan rumah, Ibu tak perlu memastikan segala macam kabel charger dan powerbank sudah masuk ke dalam tas atau belum. Buat apa? Ponsel Ibu baterainya tahan dua hari. Ketika berkunjung ke rumah orang lain, Ibu akan menyapa si empunya rumah dengan cara yang pantas, bukannya terburu-buru dan menanyakan di mana letak colokan. Rasanya, Ibu selalu hadir. Sepenuhnya. Perhatiannya tak penah terbelah antara dunia offline dan online. 

Without sophisticated gadget, my Mom seems very peaceful. 


Tapi dua bulan belakangan, Ibu memutuskan menggunakan ponsel pintar milik Ayah dulu. Saya heran. Kenapa?

"Supaya aku tetap bisa lihat anak-anakku lagi apa. Dari Path-mu, aku tahu kamu lagi dimana, sama siapa. Di fotomu di Instagram, aku bisa lihat kamu makannya banyak apa gak di sana. Dari status LINE-mu, aku bisa tahu kamu lagi ngerasain apa." 

Ibu menjawab sambil tertawa. Tanda bercanda. Buat saya; itu tamparan keras. Tiba-tiba, saya ingat bagaimana saya lebih sering check-in di Path dibanding memberi kabar kepadanya. Saya lebih sering mengunggah foto di Instagram dibanding menceritakan langsung kegiatan saya. Bagaimana saya mencari jawaban atas permasalahan hidup dengan melemparkan pertanyaan di Quora, bukannya meminta pertimbangan orang tua. 

Saya jadi bertanya-tanya. Siapa sebenarnya orang tua kita? Yang menunggu kabar di rumah atau sosial media? Tiba-tiba, saya merasa jadi Malin Kundang zaman digital. 


****
Untunglah ada Strinati (2004) yang bisa menjawab rasa penasaran saya lewat gagasannya yang bernama atomisasi. Atomisasi adalah sebuah keadaan dalam masyarakat massa ketika individu-individu menjalin hubungan hanya atas dasar kepentingan transaksional. Misal, orang tua yang sudah lelah bekerja seharian hanya sempat bertemu anaknya di meja makan, itupun hanya menanyakan apakah PR si anak sudah selesai atau belum. Si anak pun akhirnya hanya merespon seperlunya, merasa tak perlu berbagi cerita tentang kegiatannya di sekolah atau keresahan apa yang sedang ia hadapi. 

Gejala ini terjadi pada masyarakat modern yang kehilangan komunitas-komunitas organiknya. Gaya hidup modern memaksa orang-orang untuk menjalani hidup dengan produktivitas tinggi, bekerja 9 to 5 untuk mengejar kestabilan finansial hingga akhirnya lupa untuk berinteraksi secara pantas dengan orang-orang di sekelilingnya. 

Strinati juga meramalkan bahwa interaksi yang transaksional ini akhirnya membuat individu kehilangan moral compass sebagai pedoman untuk bertindak. Kekosongan ini membuat kita mencari panduan-panduan lain yang lebih mudah diakses dan rasanya selalu ada; internet. Internet dengan segala macam kontennya mengisi perasaan resah dalam diri masyarakat massa. Mungkin saya pun sudah demikian teratomisasi sehingga mencari jawaban lewat Quora, bukan bertanya pada orang terdekat. 

Well, now you understand why people watch TedX and why Mario Teguh gets so many loyal followers or why some official LINE accounts who share some advices to cope with your galau feeling are getting popular. We are simply craving for moral compass(es). 

Sayangnya, moral compass yang berasal dari internet ini bukan menyelesaikan keresahan di awal. Ia justru memperparah dan semakin memberi jarak dari interaksi yang sebenarnya. Jahatnya lagi, kebutuhan akan "puk-puk" temporer ini dimanfaatkan oleh pelaku industri budaya untuk melakukan komersialisasi konten dengan tujuan profit (ini sangat seru untuk dibahas sebenarnya, tapi mungkin lain kali, ya). 

****

Kembali ke Ibu. 

Setelah Ibu memakai ponsel pintar dan punya beberapa aplikasi chatting, bagi saya Ibu tetap jadi semi-luddite. Asal tahu saja, kontak BBM dan WhatsApp Ibu hanya tiga; Ayah, saya, dan Adik saya. Begitu pula dengan semua media sosial lainnya. Sangat privat. Ibu hanya ingin tahu kabar kami sekeluarga. Bayangkan, seteguh apa Ibu memegang prinsipnya. 


Bagi saya, Ibu sangat cerdas. Upaya Ibu untuk membentengi dirinya dari paparan media digital yang berlebihan sesungguhnya adalah upaya untuk tidak teratomisasi. Untuk tidak kehilangan momen-momen dengan orang-orang di sekitarnya karena tenggelam dalam dunia maya. Dan saya harus mengulang ini; hidup Ibu (tampaknya) lebih damai. Setidaknya dibanding dengan hidup saya yang dibombardir begitu banyak stimulus dunia digital. 


Ah, Mam. I envy you for having that kind of peace. I just hope someday I can acquire your bravery and shut down all these overwhelming gadgets. 


****


06122015
It's heavy rain outside and the storms keep scaring me. 


P.S.: Gagasan Strinati bisa dinikmati di bukunya yang berjudul The Introduction to Theories of Popular Culture. Oh ya, gambar dipinjam dari sini dan sini.











20140905

Sepatu

Pagi tadi saya masuk kelas Pengantar Pengolahan Data Kualitatif. Dosen saya, Mbak Nadia, menjelaskan poin penting dari penelitian yang bersifat kualitatif. Ia bilang, "Dalam dunia kualitatif, kalian tidak boleh hanya menggunakan etik, tetapi juga emik."

Hampir 3 bulan libur kuliah, saya lupa apa itu etik dan emik. Untunglah, ia menjelaskan.

"Secara gampang, etik adalah pandangan si peneliti, definisi terhadap segala sesuatu, yang kalian bawa ke lapangan. Sementara itu, emik adalah pandangan subjek yang diteliti, apa isi kepala dia tentang suatu hal." 

Oh. Saya pikir saya paham apa yang ia maksud. Menggunakan emik berarti berusaha masuk ke dalam isi kepala subjek yang diteliti dan melihat sebuah fenomena dengan "kacamata" dia. Keluhan Florence di Path mungkin merupakan sesuatu yang buruk bagi saya yang hanya melihat keadaannya dari luar dan tidak mengalami persis apa yang ia alami. Itu jika saya hanya menggunakan etik. Saya "mengukur" keadaan Florence dengan "mistar" milik saya. Padahal, dalam isi kepala Florence, ia tentu punya alasan untuk melakukan tindakan tersebut. Emik menuntut saya untuk memahami alasan itu dengan melepaskan persepsi-persepsi yang saya bawa dari luar.

"Dan itu sulit," Mbak Nadia memperingatkan kami sekelas.

Sepertinya saya pernah mendengar konsep "berusaha menempatkan diri di tempat orang lain" itu sebelumnya.

Ah, ya! Dosen saya yang lain, Mbak Oci, pernah bercerita tentang ungkapan "Put yourself in other people's shoes." Secara umum, idiom ini biasanya merujuk pada sebuah keadaan ketika kita harus mampu ikut merasakan bagaimana rasanya berada di posisi orang lain. 


"Ungkapan itu tidak tepat. Dan juga sulit dilakukan," kata Mbak Oci di kelas Pengantar Ilmu Komunikasi. 


Ya. Memakai sepatu orang lain di kaki kita tidak sama dengan ikut merasakan apa yang sebenarnya ia rasakan ketika memakai sepatu yang sama. 

Katakanlah, sepatu Anda adalah sepatu untuk lari, bermerk tanda centang, bernomor 39, dan Anda merasa perih ketika memakainya karena ternyata ukuran kaki Anda 39-lebih-tetapi-tidak-sampai-nomor-40 ditambah dengan kaus kaki yang tipis dan bekas luka lecet di tumit karena flatshoes yang baru Anda beli sebelumnya masih terlalu kaku. Kemudian, sepatu yang sama dicobakan ke kaki saya yang berukuran 39 dan memakai kaus kaki yang tipis pula. Apakah saya akan merasa perih juga seperti yang Anda rasakan?

Tidak, saya akan merasa nyaman, tanpa masalah. Padahal yang kita kenakan adalah sepatu yang sama. 

Masalahnya sama sekali bukan pada sepatunya, tetapi bagaimana keadaan kaki si pemakai sepatu. Sama sekali bukan tentang keadaan yang harus dihadapi, tetapi bagaimana masing-masing manusia (yang katanya unik) menghadapi keadaan itu. 

Dalam hal ini, saya setuju dengan Mba Oci dan Mbak Nadia. Ikut merasakan apa yang orang lain rasakan itu bukan pekerjaan mudah. Saya harus membuat luka lecet di tumit saya dan memperbesar ukuran kaki saya menjadi ukuran 39-lebih-tetapi-tidak-sampai-nomor-40 (yang entah bagaimana caranya) untuk dapat tepat merasakan apa yang Anda rasakan ketika memakai sepatu lari itu. 


Sekali lagi, itu tidak mudah. 
Tapi, kedua dosen tersebut tidak pernah mengatakan bahwa hal itu tidak mungkin.





06092014
01:47 WIB
Akhirnya saya mengerti mengapa kamu tak mengerti bagaimana rasanya menjadi saya. 












20140807

Ketidaksadaran, 4 Agustus, dan Kamu

“Komunikasi yang selalu kita lakukan sesungguhnya dikuasai oleh alam bawah sadar. Pesan-pesan yang kita terima dan kirimkan selalu diolah oleh ketidaksadaran terlebih dahulu. Itu sebabnya, manusia akan selalu berubah karena banyaknya pesan-pesan yang ia terima dari lingkungannya, meskipun tanpa ia sadari."

                Kalimat-kalimat itu diucapkan oleh dosen saya di kelas Filsafat Komunikasi. Ia menjelaskan teori ketidaksadaran sambil menunjukkan slide bergambar gunung es. Ya, pikiran manusia diibaratkan sebagai gunung es. Apa yang terlihat di permukaan hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan bongkahan yang ada. Apa yang kita utarakan dalam lisan, sesungguhnya melalui proses panjang bernama ketaksadaran.

                Tidak, saya tidak sedang mencoba menulis review untuk bahan ujian semester. Saya hanya ingin menceritakan bahwa enam bulan kemudian, teori itu terbukti; manusia akan selalu berubah dengan dipengaruhi pesan yang masuk ke dalam ketaksadarannya.

                Baiklah, kita mulai saja cerita ini.

                Jika kamu pernah membuka blog ini sebelumnya, mungkin kamu pernah melihat postingan dengan judul angka tingkatan dalam bahasa Inggris. Diawali dengan The Fourth, The Fifth, dan seterusnya hingga The Ninth. Ya, angka-angka itu merujuk pada lamanya hubungan interpersonal yang saya jalani dengan seseorang. Semacam penanda setiap kali durasi hubungan kami bertambah satu bulan.

Sebab saya rasa, sebatas ucapan “happy sixth mensiversarry, baby” terlalu mainstream. Sebab saya kira, hubungan ini begitu  indah hingga semua orang harus tahu betapa bahagianya kami. Sebab saya pikir, dia dan perasaan saya terhadapnya begitu spesial hingga harus ada semacam memoar yang nantinya akan kami kenang sambil tertawa. Sebab, menuliskan kisah-kisah kami adalah sebuah cara untuk mengingatnya lebih lama.

Dulu, saya berpikir seperti itu. Dan saya tak pernah menyesal menuliskannya. Meskipun pada akhirnya, tepat di hari ulang tahun saya yang kesembilan belas, ia membuat saya tak mungkin lagi menuliskan kisah kami dengan judul angka-angka konyol itu.

Hari itu, tanggal empat Agustus baru berlangsung selama dua belas menit.  Ia menelepon saya. Dan, saya berharap ia menyuruh saya keluar rumah dan dia akan berdiri disana, memegang kue tart dengan lilin yang menyala dan balon warna-warni. Lalu saya akan meniup lilinnya, berfoto dengan senyum lebar-mungkin beberapa selfie,  mengunggahnya ke semua social media yang saya punya, menerbangkan balonnya, dan kemudian tidur nyenyak.

Namun, terlalu lama memandangi akun instagram dan path orang-orang dan terlalu sering menonton film bergenre drama membuat “khayalan tentang kejutan ulang tahun yang ideal” terkonstruksi di benak saya. Saya lupa, ia selalu berkata bahwa kami adalah pasangan yang antimainstream. Seharusnya saya juga paham, dia tak akan melakukan ritual mainstream tiup lilin dan foto unyu itu.

Benarlah. Dia memberi saya kejutan yang lain. Sesuatu yang benar-benar mengejutkan. Satu hal yang tak pernah saya kira akan tega ia lakukan; ucapan “Aku mau kita putus..” setelah ucapan “Selamat ulang tahun, ya.” Ia mengakhiri semuanya, tepat di tanggal spesial yang tertulis di semua kartu identitas saya. Bagaimana saya akan lupa?

                Memang, kami berdua sama-sama paham, hubungan ini memang tak begitu baik sebulan belakangan. Terpisah ratusan kilometer dan sibuk dengan kegiatan masing-masing membuat intensitas komunikasi kami berkurang. Setelah kami berada di satu kota pun, keadaan tak membaik. Saya tahu ada yang salah dalam ini semua. Ia pernah bilang, hubungan ini mulai terasa membosankan, terasa tanpa tantangan.  Mengapa ia tak pergi saja ke Dufan dan mencoba semua wahana yang menantang adrenalin itu, jika benar ia butuh tantangan? Mengapa memutuskan mengakhiri semuanya di tanggal empat Agustus?

                Ada begitu banyak “mengapa” yang berputar-putar di otak saya waktu itu. Dan saya merasa punya kewajiban untuk menanyakannya langsung pada orang yang bersangkutan.

                “Aku gak mau kamu terus-terusan sedih dalam hubungan ini. Ada banyak orang yang bisa bikin kamu lebih bahagia, dibanding aku,” jawabnya.

                Rasanya, saya ingin menceramahinya dengan bahasan logical fallacy-sesat pikir yang saya dapatkan di kelas MPKT A. Bagaimana mungkin ia berpikir bahwa hubungan ini hanya membuat saya sedih? Dan dari premis mana ia bisa menarik kesimpulan bahwa mengakhiri semuanya tepat di hari ulang tahun saya bisa menghentikan kesedihan yang ia asumsikan sendiri itu, bukannya malah membuat saya makin sedih? Silogisme macam apa yang membuatnya menyimpulkan bahwa orang lain akan bisa membuat saya lebih bahagia?

                Tapi, jangankan mendebatnya, lidah saya terasa kelu waktu itu. Bermodal skeptisme, saya nekad memastikan, dia hanya ingin mengerjai saya ala FTV atau tidak. Berkali-kali ia menjawab tidak. Saya ragu hingga ia menjawab dengan nama Tuhan. Saya tahu, saya harus percaya. Inilah pil pahit yang harus saya telan, tanpa bantuan air putih sama sekali. Hanya pil pahit. Dan pilnya semakin pahit ketika saya menyadari, seharusnya tanggal  lima Agustus hubungan ini seharusnya genap empat belas bulan.

                Empat belas bulan yang dijadikan olok-olokan. Empat belas bulan yang kini jadi lelucon. Empat belas bulan yang kini hanya bisa ditertawakan.

                Ini bukan pertama kalinya saya menghadapi hubungan yang berakhir. Tapi, ini jelas pertama kalinya hari ulang tahun saya terasa begitu suram. Walaupun saya merayakan ulang tahun tanpa kehadiran orang tua sejak umur enam belas tahun, merencanakan sendiri dan membeli kue tart sendirian di perayaan ulang tahun saya yang ketujuh belas, serta merayakan ulang tahun kedelapan belas di perantauan saat baru masuk kuliah, itu rasanya lebih baik daripada harus seperti ini.

                Tapi sudahlah.

                Rasanya kita sudah terlalu menyimpang dari pembahasan awal pembuka tulisan ini. Seperti yang saya katakan di awal, orang-orang akan selalu berubah dengan dipengaruhi pesan yang masuk ke dalam ketaksadarannya. Dan lelaki yang dulu saya cintai ini, jelas berubah. Ia bukan lagi orang yang menempuh kemacetan ibu kota selama dua jam dengan sepeda motor hanya karena mendengar saya menangis di telepon. Terakhir kali, ia membiarkan saya menangis di sebelahnya dan hanya menatap lurus ke jalanan, tanpa berniat menghentikan mobilnya atau menghapus air mata saya.

                Ia jelas berubah. Meski saya tak tahu persis pesan-pesan apa yang telah mempengaruhi ketidaksadarannya hingga ia berubah seratus delapan puluh derajat. Namun, jika hipotesis yang sama diajukan ke saya, sedikit banyaknya saya juga pasti mengalami perubahan. Tapi, mengapa perasaan saya tetap sama sementara ia tidak adalah sebuah teka teki.

                Mungkin, pesan-pesan yang masuk mengenai berbagai jenis rangkaian listrik telah merebut tempat kenangan-kenangan kami dalam memori otaknya. Mungkin, bukan hanya kenangan kami yang tergantikan di otaknya, tetapi saya pun tergantikan di hatinya. Entah oleh apa. Entah oleh siapa.

                Mungkin, pesan-pesan yang masuk dari lingkungan sekitarnya telah membuat “kulit bawang” di dirinya menebal, terlalu sulit untuk saya kupas hanya dengan pisau self disclosure. Mungkin, ia mengalami terlalu banyak disonansi kognitif ketika menjalani hubungan ini hingga akhirnya memutuskan saya di hari ulang tahun saya menjadi satu-satunya justifikasi minimal yang dapat melegakan hatinya. Mungkin, saya tak lagi bisa memenuhi harapannya sebagai sosok perempuan ideal (karena saya tak bisa masak dan tak bisa memakai eyeliner dengan benar), hingga saya terlempar ke bawah Comparison Level Alternative-nya dan ditinggalkan begitu saja.

                Namun, jika ditanya bagaimana perasaan saya ketika menuliskan ini, saya dapat mengatakan saya baik-baik saja. Saya sudah berhenti menangis dua jam setelah ia menjatuhkan vonis itu. Dan sampai sekarang, saya tak pernah menangisinya lagi. Bagi saya, ia yang dulu menjadi objek dalam setiap tulisan saya sudah pergi jauh, tergantikan oleh sosok asing yang sama sekali tak saya kenal. Ini mungkin terdengar berlebihan, tetapi dengan cara itulah saya mampu mengikhlaskannya tanpa beban.

                Dan, apa saya membencinya? Tidak.
               
                Bagaimana pun, ia pernah menjadi orang yang paling berarti. ia pernah menjadi alasan saya menunggu kereta datang berjam-jam hanya untuk melihat sosoknya. Ia satu-satunya yang mendengarkan cerita saya, tentang betapa frustrasinya saya ketika harus menghadapi dosen mata kuliah MPKT A. Ialah yang dulu membangunkan saya jam tiga pagi untuk belajar sebelum ujian SBMPTN. Ia yang menemani saya menangis berjam-jam ketika saya tak lulus SNMPTN. Ia yang dulu selalu membelikan es krim, karena ia tahu saya senang makan es krim. Dan masih sangat banyak hal baik lainnya yang pernah ia lakukan kepada saya.

                Dia adalah orang baik. Saya selalu percaya itu. Jika ia berubah, bukan berarti ia langsung menjadi orang yang jahat. Hidup tak selalu harus diisi dengan dikotomi semacam itu. Maka dari itu, orang baik tak layak dibenci. Jika diingat, tanpanya mungkin saya tak akan menjadi seperti ini, menjalani hidup dengan begitu banyak hal yang bisa disyukuri. Pun darinya, saya banyak belajar hal-hal yang tidak diajarkan di bangku kuliah. Tentang kesabaran, penantian, memaklumi, menerima, dan yang paling penting; mencintai.

                Terakhir, apakah saya masih mencintainya? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Jawaban atas pertanyaan itu hanya akan berakhir sebagai sebuah paradoks. Ia memberi saya banyak hal indah yang  bisa dikenang, sekaligus memberi hal-hal terburuk yang akan selalu diingat. Menjalani proses ini dengannya adalah bagian yang saya syukuri, sekaligus saya kutuk di akhir. Dia adalah paradoks. Dia adalah contoh dialektika relasional terbaik dalam hubungan interpersonal saya; saya masih mencintainya dan tidak mencintainya lagi di saat yang bersamaan.


                07082014
                20:04 WIB

                Don’t you dare let our best memories bring you sorrow. 

20140324

The Ninth

Setiap ingin pergi
Izinmu tak pernah jadi
Kau tanya begini,
Apa tak bisa lagi diperbaiki?
Kujawab dalam hati
Ini kesempatan yang terakhir
Terakhir kali yang terjadi belasan kali.

Sekarang izinmu terucap
Pergilah, ujarmu kalap
Kuiyakan tanpa ratap
Meski mendadak semua gelap

Kenangan-kenangan menari salsa dalam kepala
Ingin kubunuh namun rautnya terlampau gembira
Aku tak tega, lalu harus apa?

Pelihara sajalah!
Biarkan kenangan kita tersimpan dimana-mana
Dalam file digital hingga udara
Dari material hingga hanya rasa

Sebab ia menjadi kausa
Kau dan aku masih jadi kita!


24032014
And I have known how break up with you feels like.





20140310

Anime Is Not Just Anime

Minggu ini, dosen saya yang seorang Weberian sejati itu memberi tugas yang lumayan "nyentrik". Kami sekelas ditugaskan mencari quote dari anime dan manga dan menghubungkannya dengan materi minggu selanjutnya. Saya bahkan tak paham bedanya manga dengan anime. Walaupun tugasnya bersifat dependensial alias sunah, tetapi tak ada salahnya kalau dicoba *optimis ceritanya*. 
Saya berhasil menemukan dua quotes seperti yang ditugaskan, tetapi hanya satu yang jadi favorit saya. Ini dia:

“Once you've been hurt you learn to hate. But, if you hurt another you become hated. On your shoulders you sense guilt. But it is because one understands such pain, the generosity toward others become second nature. That's what makes us human.”


            Rangkaian kalimat di atas diambil dari anime Naruto Shippuden Episode 128 yang berjudul Tales of A Gutsy Ninja: Jiraiya Ninja Scroll. Jiraiya mengucapkan kalimat itu kepada Nagato ketika Nagato merasa sangat bersalah karena telah membunuh seseorang yang menyakiti Yahiko, teman Nagato.  Nagato mempertanyakan tindakannya dahulu, apakah merupakan sebuah kesalahan atau tidak. Jiraiya mengatakan tidak ada yang dapat menyalahkan Nagato tentang hal itu sebab bagaimana pun juga ia telah melindungi temannya. Namun, Jiraiya percaya justru karena kesalahan-kesalahan semacam itulah Nagato akan menjadi lebih baik nantinya.
            Dalam lingkup Perspektif Kewarganegaraan dalam Masyarakat, quotes di atas berisi nilai tentang tenggang rasa. Seseorang cenderung membenci orang yang menyakitinya. Mengacu pada pengalaman itu, individu belajar untuk tidak menyakiti orang lain karena mengetahui bagaimana rasanya saat disakiti dan dikejar oleh rasa bersalah ketika menyakiti orang lain. Kebencian dan rasa sakit ibarat siklus yang berputar. Konotasinya negatif, tetapi siapa sangka jika kedua hal ini malah menjadi kontrol moral bagi individu agar berbuat baik terhadap sesamanya.
            Nilai tenggang rasa tak sesederhana frasa “saling menghargai” seperti yang dipelajari saat duduk di bangku Sekolah Dasar dulu. Manusia adalah makhluk dengan subjectivity dan self-reference yang sangat tinggi. Ketika kita menghargai orang lain dengan tidak menyakitinya, sesungguhnya kita sedang berusaha melindungi diri kita sendiri dari kemungkinan rasa sakit yang sama. Sebagai contoh, kita tidak menyakiti orang dengan menghina kepercayaannya karena berharap orang lain pun tidak menghina kepercayaan kita sendiri.

Contoh yang paling dekat adalah bagi pengguna social media, berapa kali Anda me-like foto di Instagram teman Anda hanya karena Anda tahu bagaimana rasanya mem-posting sesuatu tapi tak ditanggapi sama sekali, bukannya karena fotonya yang memiliki nilai estetika tinggi? ….it’s because one understands such pain, the generosity toward others become second nature. That's what makes us human.

20140213

Empat Belas

Pukul duabelas sudah sampai, katanya ia lelah
Memikul manik-manik kata yang telah terangkai
berisi doa-doa berbagai corak
Repetisi empat belas Februari terjadi lagi
Hari ini berlabel angka sembilan belas

Menjadi yang pertama begitu penting rupanya
hingga kita terpaksa bertemu di udara
Menunggangi transmisi data
Sembari mengutuk rangkaian regulasi
yang membuat kehadiranku disana alpa

Bercakap melalui senandung virtual yang kadang terputus
Namun dikumandangkan terus
Dan raut bitmap digital yang jarang bisa mulus
Lalu kita beranjak ke bagian yang serius
Kau mau kado apa, tanyaku lurus
Aku bukan anak kecil lagi-ini bukan yang pertama kali, jawabmu ketus

Jelaslah
Kau anggap ini rutinitas tahunan, bagiku ini ritual sakral
Kusebutkan rentetan harapan bak mantera yang dirapal
Tentang mimpi-mimpimu yang dari awal kita ramal
Rahangku bukan tak pegal tapi kuharap doaku kekal
Aminmu menggema dalam keheningan total
Kuharap aku disana, kututup penuh sesal

Pukul dua mengetuk pintu, mengucap salam
Kusambut ia dengan kantuk yang tadinya teredam
Dalam tidur, kulihat kau meniup malam.




P.S: Selamat mengulang tanggal, Kal! I'll see you soon.




14022014
Pas dosen ngatur proyektor, gak liat jam.
       




20140209

The Eighth

Saya benci jarak.
Guru fisika di SMA saya bilang, jarak memperkecil gaya Coulomb yang dialami dua muatan listrik. 
Jarak-yang disimbolkan dengan R- juga mengurangi gaya gravitasi benda dari bumi. Lihat saja astronot dalam film Gravity yang melayang-layang bebas tanpa ada gaya gravitasi nun jauh di luar angkasa.
Belum cukup juga. Jarak memperkecil kapasitas kapasitor keping sejajar. Itu artinya, tak banyak muatan listrik yang bisa disimpan jika kapasitor terpisah terlalu jauh.
Dan di kelas dua belas ia bercerita, jarak juga mengurangi taraf intensitas bunyi. Suara sirine ambulans yang semakin pelan ketika berada di kejauhan dijadikannya sebagai contoh.
Intinya satu; jarak itu melemahkan.

Saya benci jarak.
Jarak telah bertahun-tahun merenggut kebersamaan saya dengan kedua orang tua.
Saya masih terlalu kecil waktu itu-lima belas tahun. Dan sekarang, saya bahkan sudah lupa bagaimana rasanya melihat ayah saya pergi dan pulang kerja. 
Saya hampir lupa bagaimana rasanya masakan ibu saya. 
Dan adik bungsu saya pun tak pernah benar-benar mengenal saya. Karena jarak.
Selain melemahkan, jarak juga menghapus ingatan, rupanya.

Saya benci jarak.

Jarak berafiliasi dengan rindu.

Rindu yang hanya terucap tanpa kemungkinan untuk bertemu hanya akan menjadi kata semu.
Dan rindu yang terendap terlalu lama ternyata mampu mendatangkan luka.
Bukan luka yang bisa mereda dengan larutan povidon-iodin. Pertemuanlah menjadi satu-satunya penawar.
Satu lagi, jarak memberi luka.

Sekali lagi, saya benci jarak.
Kamu pergi dan rasa ini retak.



09022014
22:36 WDT-Waktu Di Laptop

20131218

The Sixth

Tik tok.
 Satu detik tak akan pernah mampu untuk menyimpan sebuah kejadian. Namun, detik tak suka hidup sendiri. Ia selalu mencari kawan, berkoloni membentuk menit. Lalu menit-menit ini menjalin diri menjadi jam. Dan jam beraliansi, berekspansi mewujudkan hari. Maka hari adalah detik yang bertransformasi. Detik yang mengalami pubertas dan mampu mereproduksi kejadian dalam rahimnya.

Dan jika tiba saatnya, kejadian ini akan lahir dalam bentuk sebuah proses. Proses apapun memiliki induk yang sama; koloni detik. Pun, sebuah rentang waktu setengah tahun melahirkan sebuah proses bernama adaptasi. Maksudku, sebuah hubungan interpersonal. Semua hubungan merupakan proses adaptasi. Dan semua proses adaptasi pasti melewati tahap-tahap tertentu.

Dan aku baru paham, bahwa sebuah proses adaptasi bukanlah berwujud linear tanpa lekuk. Kurva proses adaptasi membentuk barisan pegunungan. Persis seperti bentang Bukit Barisan di kota yang, aku tahu, sama-sama sedang kita rindukan, Kapten. Aku juga baru paham kalau suatu hari, setelah tahap preparation dan honeymoon yang dijabarkan Ruben dan Stewart dalam bukunya, setelah semua masa-masa bahagia itu, sebuah hubungan akan sampai pada tahap frustration.

Ada masanya ketika percakapan virtual di udara tak lagi mampu membawa tawa. Semua terasa salah. Argumen-argumen berloncatan. Sibuk bertikai mengenai bagaimana seharusnya ini dijalani. Bagaimana definisi sebuah hubungan ideal menurutmu dan menurutku tak lagi sama. Kau tahu, argumen-argumen itu membawa pedang persepsi masing-masing. Gesekan perbedaan persepsi memperburuk keadaan. Dan kita berdua mati-matian menghindar, takut ada yang terluka dan berdarah.

Parahnya, di kurva kita ini tahap frustration bertemu dengan titik redefinition. Aku mempertanyakan kembali definisi "kita" selama ini. Semacam judicial review dari setengah tahun menjadi pacar, ribuan pesan singkat, ratusan kali percakapan di telepon, dan puluhan makan siang bersama. Aku mempertanyakan visi kita yang mulai terdistraksi dan pada satu titik; I almost give up.

Lalu pada sore itu, di tengah gerimis itu, kau membangun teori. Katamu,


"Ibaratnya ada sebuah tembok yang aku bangun, anggaplah dibangun dari seratus batu bata. Dari seratus bata ini, ada dua yang cacat. Menurutmu, apa aku akan langsung merubuhkannya tanpa mempertimbangkan sembilan puluh delapan lain yang baik-baik saja? Why do you just keep your eyes on the bad things we have, instead of the good ones? Can't you?"


Aku benci mengakui ini, tapi sayangnya kau benar, Kapten. Bagaimanapun, kita pernah membelah jalanan bandara Soetta - Depok dengan motor jam dua belas siang saat matahari sedang terik-teriknya. Bagaimanapun juga, kita pernah sama-sama menertawakan rak buku berisi soal-soal latihan Ujian Nasional setelah pengumuman kelulusan. Dan bagaimanapun juga, dalam semua tahap frustration dan redefinition itu; I never lost "that" feeling. 





P.S: Happy half-year, Captain! Don't break the wall, please :p

18122013
19.10
Stuck with final term of Antrophology.













20131130

Half of My Heart

I was born in the arms of imaginary friends. Free to roam, made a home out of everywhere I've been.
Then, you come and crashing in like the realest thing. Trying my best to understand all that your love can bring. 

Half of my heart's got a grip on this situation, half of my heart takes time. 
Half of my heart got's a right mind to tell you that I can't keep loving you with half of my heart.

I was made to believe I'd never love somebody else. I made a plan, stay a man who can only love himself.
Lonely was the song I sang till the day you came. Showing me another way and all that my love can bring.

Your faith is strong, but I can only fall down for so long. Down the road, later on. 
You will hate that I never give more to you than half of my heart.


But I can't stop loving you. I can't stop loving you. I can't stop loving you with half of my heart.


Half of my heart's got a real good imagination, half of my heart's got you.
Half of my heart's got a right mind to tell you that half of my heart won't do.

Half of my heart is a shotgun wedding to a bride with a paper ring.
And half of my heart is the part of man who's never truly loved anything.


-Half of My Heart, John Mayer-

20131124

A Term: Homesick

Berkali-kali mereka memberi nama homesick . Kangen rumah. Tapi saya sendiri bingung memilih terminologi yang tepat untuk menyebut perasaan ingin pulang yang menyelinap masuk tanpa permisi, mengendap di dalam tanpa risih.

Kebingungan saya bukan tanpa alasan. Apa sebenarnya yang telah kita sepakati untuk disebut "rumah"? Cukupkah "bangunan berdinding yang dibangun dengan tujuan proteksi dari bermacam gangguan" menjadi batas definisi? Atau rumah hanya sekedar domisili pengisi kolom alamat di kartu identitas?

Jika mengacu pada definisi semacam itu, maka ini bukanlah homesick. Saya bukannya sedang merindukan bangunan bercat peach di Kota Siantar itu. Apalagi rumah berpagar di Kota Lhokseumawe yang tak pernah saya lihat dan sebatas saya pahami sebagai tempat tinggal kedua orang tua saya. Bukan itu.

Bagi saya, rumah adalah tempat yang diselimuti atmosfer kenyamanan berpadu dengan sense of belonging yang kental, no matter how your condition is. Makna rumah versi saya mungkin terlalu filosofis dari apa yang tercantum dalam KBBI. Tapi biarlah, toh ini bukan tulisan yang akan disetor kepada dosen sebagai LTM yang harus mencantumkan data publikasi. Maka jelas, rumah bagi saya bisa ada dimana saja, tak terbatas pada keberadaan sekat-sekat dinding beton dan lantai keramik.

Lantas, jika rumah bisa berada di mana saja, mengapa saya selalu ingin pulang? Bagaimana bisa lembaran tiket bertuliskan jadwal penerbangan akhir Desember itu terasa sebagai candu untuk mata saya sehingga tak sehari pun saya lewatkan tanpa memandanginya-walau kadang hanya sekilas? Mengapa koper ungu di atas lemari seolah memanggil untuk diisi?


Sederhana saja jawabnya; saya belum merasa nyaman disini. Saya belum menemukan sense of belonging.


Mungkin banyak yang kemudian menuduh tulisan ini jauh dari ungkapan syukur. Universitas impian dengan jurusan sesuai passion, ditambah partner yang berada dalam radius hanya sejam perjalanan. Nyatanya kedua hal tersebut belum mampu merepresentasikan makna rumah sesungguhnya. Mengapa masih merasa kurang?

Entahlah. Saya tak tahu pasti sebabnya. Saya hanya merasa ada beberapa hal yang out of expectation, yang kemudian mengobrak-abrik masterplan awal yang berkembang dalam benak saya. Ada ketimpangan antara harapan dengan realita. Jika ini konteks kenegaraan, mungkin akan lebih gampang menyelesaikan ketimpangan ini; buat saja sebuah tindakan afirmasi, maka rakyat akan senang. Tapi ini bukan negara, tak ada rakyat dan pemerintah yang terpisah dalam benak saya.

Ah, saya sudah menceracau terlalu panjang, nampaknya. Ini hanyalah sepenggal tulisan dengan self-reference yang berlebihan. Ungkapan kegelisahan mahasiswi baru yang rindu kembali ke zona nyamannya, dimana semua hal sesuai dengan harapannya. Suatu hari nanti ia akan paham bahwa tak selalu terjadi sinkronisasi antara apa yang diharapkan dengan apa yang terjadi dalam kenyataan. Tapi nanti; belum sekarang.


24112013-22:40
-maybe I just feel lonely.



20131106

I Will Stop Loving You

I will stop loving you when there's someone who can prove that Einstein's Postulates are wrong.
I will stop loving you when the F= m.a formula is not valid anymore.
I will stop loving you when Periodic Table gets messed up.
I will stop loving you when two Indifference Curves meet at one point and concave to the origin.
I will stop loving you when Schramm's Communication Model loses its field of experience.


I will stop loving you when Marx's theory about classless society become reality.


I will stop loving you when the axiom "we can not not communicate" is broken.
I will stop loving you when ethnographic method can't explain the culture anymore.
I will stop loving you when Montesque opposes his own Trias Politica model.


I will stop loving you when there's an apple fruit grows in a mango tree on 30th of February.


I will stop loving you when Thor loses his gavel.
I will stop loving you when Isabella Swan gets divorced from Edward Cullen.
I will stop loving you when Doraemon's magic pocket stop producing the stuffs.
I will stop loving you when Shinichi Kudo gets his normal body back.
I will stop loving you when Shichan becomes adult.
I will stop loving you when Spongebob gets his driving licence.


And I will stop loving you exactly when you stop loving me. As simple as that. 

20131104

The Fifth.

365 hari yang lalu
Aku tak pernah menyangka kamu akan mengambil peran sebagai significant others dalam hidupku.

365 hari yang lalu
Aku penganut budaya parokial yang begitu apatis terhadap apa yang mereka sebut cinta.
Bagiku, cinta hanya sebatas ekskresi hormon feromon, dopamin, dan oksitosin
Suatu hari nanti para ilmuwan akan berhasil membuat hormon-hormon itu.
Lalu cinta akan menjadi produk sintesis dan instan.

Dan dengan self-reference yang terlalu tinggi aku menganggap apa yang mereka sebut cinta hanyalah bagian dari dramaturgi.
Seorang pria yang berakting dalam front region demi menyenangkan wanitanya. Lalu atas nama expression given off, sang wanita ikut melanjutkan peran demi menghibur audience.

Cinta hanyalah tentang seberapa lihai kita melakukan impression management di masa pendekatan. Padahal kenyataannya di balik backstage tak pernah seindah itu


365 hari yang lalu
Kamu datang, bukan sebagai pangeran penunggang kuda putih yang hendak membawaku lari dari kastil
Memperkenalkan diri sebagai teman, kamu pelan-pelan melakukan desosialisasi paradigma di benakku.
Lalu memberi perspektif baru dalam resosialisasi yang berjalan berbulan-bulan.

Bahwa cinta bukan sesuatu yang sintesis dan instan, melainkan sebuah proses panjang yang melibatkan amygdala dalam mendefinisikan situasi.
Bahwa dalam mencintai kita tetap bisa menjadi diri sendiri, tak perlu repot membangun setting seperti dalam dramaturgi.
Bahwa dinamika dalam mencintai bukan hanya antara bahagia dan bertengkar, melainkan bisa bertahan antara bahagia dan sangat bahagia.


Bahwa cinta adalah tentang toleransi percakapan teknik mekanika dengan fenomena gunung es dalam komunikasi.


Congratulations, Captain!
Usahamu mengubah gesellschaft menjadi gemeinschaft di antara kita tidak pernah sia-sia
Mungkin kita bisa menciptakan model baru dari kategori solidaritas versi Durkheim;
Solidaritas mekanik yang bercirikan ketergantungan, tetapi tetap mengutamakan collective conscience.
Mungkin kita bisa mendiskusikan namanya siang ini!



P.S:
Aku tau kamu gak ngerti apa yang aku tulis ini. Tapi kalo aku bilang "I love you, much", kamu ngerti kan?
Happy fifth the fifth, Kal!


20131029

Antara A dengan S: Penjurusan atau Penjerumusan?

A dan S hanyalah sebuah goresan garis hitam berbentuk segitiga dan lengkungan. Sebatas simbol yang tak bermakna. Lalu manusia memberinya makna dengan mengkategorikannya sebagai alfabet pertama dan kesembilan belas. Melafalkannya sebagai "a" dan "es". Awalnya sesederhana itu.

Namun kedua simbol ini mengalami kompleksitas ketika disandingkan dengan dua huruf di depannya. I dan P. Sang A menjadi IPA dan si S menjadi IPS. Maka berbagai meaning bermunculan di benak kita. Dan stereotype berhamburan keluar. IPA dan IPS menjadi dikotomi-dua hal yang bertentangan sifatnya.

Di Republik ini, IPA dan IPS menjadi dua genre pembelajaran bagi siswa SMA. IPA mewakili ilmu eksakta dengan ciri khas ujiannya didominasi angka-angka. Sementara IPS merepresentasikan rumpun sosial dengan ciri khas ujian didominasi huruf dalam wacana. Entah apa yang mendasari pembagian genre belajar seperti ini. Mungkin pemikiran pemerintah bahwa penjurusan minat akan memudahkan siswa untuk mempelajari subjek yang lebih spesifik (dengan kata lain lebih sedikit beban kurikulum). Tapi yang jelas, saya menentang-dengan dua alasan utama.

Pertama, penjurusan siswa SMA dalam kedua jurusan tersebut seringkali tidak didasari oleh minat mereka yang sebenarnya. Penjurusan dilakukan oleh pihak sekolah dengan cara melihat nilai rapor saja. Umumnya, standar penjurusan di sekolah-sekolah seperti ini; jika nilai rapor kelas sepuluh dianggap baik, maka siswa "berhak" menentukan pilihan ingin ke IPA atau IPS. Namun, jika nilainya tidak terlalu baik, siswa terpaksa masuk ke kelas IPS. Disini stereotype sudah dibentuk; jurusan IPA berisi anak-anak superior dengan nilai lebih tinggi dari jurusan IPS. Superior dalam artian lebih pintar, lebih rajin, dan kelak lapangan pekerjaannya akan lebih "luas". Stereotype semacam ini menciutkan nyali siswa-siswa pintar yang sebenarnya memiliki minat di rumpun sosial, tetapi takut pada labelling yang sudah terlanjur mengakar di benak masyarakat.

Kedua, penjurusan menjadi dua genre semacam ini tidak ada gunanya. Untuk apa membagi siswa menjadi dua kubu jika akhirnya pemerintah membuka Jalur Campuran saat penerimaan mahasiswa baru yang membolehkan dua kubu mengambil jalan tengah? Apakah ini semacam bentuk kebaikan hati pemerintah yang bertujuan "menyelamatkan" siswa yang terlanjur terjerumus dalam jurusan yang keliru-tidak sesuai minatnya? 

Langkah "penyelamatan" dengan membuka jalur campuran bukan solusi. Tidak gampang menyeberang pulau dari A ke S atau sebaliknya. Setelah dilakukan pun, jalur campuran mendatangkan konflik baru karena ramainya siswa jurusan IPA yang hinggap di fakultas bercorak rumpun sosial. Tuduhan "merebut lahan" menjadi santer terdengar, seolah pendidikan adalah tanah kaplingan yang terkotak-kotak dalam ekslusivitas.


Wahai Bapak yang duduk di gedung sana,

Mengapa tak melakukan tindakan preventif dengan menetapkan kewajiban untuk melakukan tes mendalam sebelum penjurusan siswa SMA agar hasilnya lebih komprehensif dan holistik? Terkendala biaya? Lalu, mengapa tak hapuskan saja penjurusan?


Siswa SMA bukan korban, jangan sampai penjurusan malah menjadi penjerumusan. 


20131015

Channing Tatum Bukan Kamu.

Saya suka Channing Tatum. Sang aktor tampan dengan sosok atletis berperut kotak-kotak. Aktingnya mumpuni, mulai dari memerankan penari profesional dalam Step Up, lalu menjadi polisi kocak di 21 Jumpstreet, hingga menjelma menjadi pria paling romantis dalam The Vow. Saking sukanya, saya punya satu kalimat "sakti" yang jadi self suggestion whenever I wanna chase something yang bunyinya, "Just run, like Channing Tatum is waiting for you at the finish line." Segitunya.

Tapi,
Channing Tatum bukan kamu.

Ia mungkin piawai mengemudi dalam 21 Jumpstreet tapi dia belum tentu sanggup menembus kemacetan antara kotamu dan kotaku di pagi buta. Just like you did.

Ia juga cekatan mengejar penjahat dalam film yang sama tapi dia bukan kamu yang berjalan tergesa masih dengan jas dan sepatu laboratorium demi menemuiku di stasiun kereta di hari aku ditinggal sendirian ke luar negeri.

Dia bukan kamu yang berjalan satu jam keliling dua mall demi es krim.

Dia bukan kamu yang menghadapi antrean superpanjang hanya untuk tiket film.

Dia bukan kamu yang menelepon pukul tiga pagi sebagai balasan dari pesan nightmare dan homesick yang kukirimkan.

Dia bukan kamu yang membawaku ke tempat-tempat yang belum pernah kudatangi. Mengajakku melawan gravitasi, terbang menguji gaya setripetal, dan memacu adrenalin dari ketinggian 56 meter.


Channing Tatum bukan kamu.


Dan saya jatuh cinta pada kamu.



               
























20131006

The Fourth.

Untuk yang lahir pada hari pada tanggal empat belas.

Sudah empat kali bulan berotasi mengelilingi bumi sejak hari itu. Hari Rabu yang sedatar biasanya, dengan setumpuk buku rumus dan kumpulan soal IPC. Dengan sederet jadwal kelas intensif dan janji diskusi dengan tentor. Masih dengan setitik noktah harapan tentang satu bangku di Perguruan Tinggi.

Lalu kita berjanji untuk makan siang bersama hari itu. Seperti belasan makan siang lainnya yang sudah kita lewati. Sebagai teman. Atau sedikit berbaik hati menyebutnya teman dekat.

Di tempat yang sama, menu yang sama. Kau dengan segelas es jeruk dan aku dengan segelas lemon tea. Tak ada pembicaraan khusus apapun kecuali ledekanmu tentang perempuan yang tak pernah diberi boneka selama 17 tahun hidupnya. Perempuan yang lebih sering diberi buku sebagai hadiah ulang tahunnya. Dan perempuan itu aku.

Kemudian kita pulang. Kau mengantarku pulang, tepatnya. Tapi kau memutuskan singgah untuk mengambil foto-foto kita saat liburan lalu. Dan foto-foto saat perpisahan SMA, kau dengan jas abu-abu dan aku dalam balutan gaun ungu.

Ini kunjunganmu yang entah keberapa puluh kalinya ke rumahku. Dari sekedar membagi cerita tentang jengahnya kita pada sistem penerimaan mahasiswa baru tahun ini sambil ditemani sebatang es krim stroberi hingga belajar teori gas ideal dan dua postulat Einsten. Lagi-lagi, sebagai teman.

Namun hari itu ada yang berbeda. Boneka lumba-lumba ungu di kamarku persis seperti yang kuceritakan berbulan yang lalu. Entah bagaimana kau masih ingat. Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, perempuan itu diberi boneka. Boneka yang ukurannya lebih besar dari tubuhnya sendiri.

Dan boneka itu tidak sendirian. Ada tulisan penyemangat disana. Iya, kau satu-satunya yang mengulurkan tangan ketika semua mulut sibuk bertanya kenapa aku gagal. Dan di balik tulisan penyemangat itu, satu kalimat tanya mengubah semuanya. Kau ingin memberi nama pada apa yang kita jalani setengah tahun ini.

Aku terdiam. Sistem limbic dalam otakku mencoba tenang agar bisa memberikan jawaban yang tepat dari Neocortex, bukannya jawaban gegabah dari R-Complex yang nantinya akan kusesali. Kita sama-sama paham, ini sama sekali bukan hanya tentang kira berdua. Kita sama-sama mendengar semua rumor yang beredar.


Tapi kau telah berdiri di bibir pintu dengan setangkai mawar. Lalu semuanya jelas. You decided to take the highest risk FOR US. Apalagi yang bisa kuberikan selain anggukan kepala? Dan 5 Juni 2013, I officially became your Vice Captain in our cockpit.

Selamat tanggal 5 yang keempat, Kapten. Beyond all the fights, the worst nights, our ups and downs, the hesitations; I love you, much.

20131003

They called it "culture shock".

"Loe pas pertama nyampe sini ngalamin culture shock gak?"


Pertanyaan sederhana dari seorang teman di pelataran masjid kampus sore itu. Saya terdiam sejenak, mengingat-ingat hari pertama saya berada di kampus ini. Dan ingatan saya berlari menuju hari dimana saya harus mendaftar ulang. Pertama kalinya menginjakkan kaki di tempat sejuta umatnya kampus ini-Balairung.

24 Juli 2013, hari Rabu. Saya diminta datang ke kampus pada pukul 11.00 untuk mengonfirmasi kelulusan saya sebagai mahasiswa baru di kampus ini. Sendirian, literally. Teman-teman dari sekolah saya tidak ada yang diterima melalui jalur dan program yang sama dengan saya dan ayah saya yang ikut mengantar harus kembali sehari sebelum pendaftaran ulang karena telepon genggamnya tak bisa bungkam, penuh dengan panggilan mengenai pekerjaan setiap pagi selama ia disini.

Jadilah saya, mengenakan kemeja putih sesuai dresscode untuk maba, berangkat dari kost diantar tukang ojek, celingukan sambil memegang map biru berisi seluruh berkas yang diperlukan. Tidak ada teman yang bisa diajak berbicara dan hanya mengikuti alur pendaftaran melalui petunjuk arah yang disediakan petugas. Waktu itu bulan puasa dan yah, antreannya cukup panjang. Butuh kesabaran ekstra demi selembar kartu tanda mahasiswa.

Dalam antrean, beberapa mahasiswa baru sudah saling berinteraksi. Topik mainstreamnya adalah; kebanggaan mereka atas keberhasilan "mendobrak" pintu masuk universitas ini melalui jalur mandiri reguler dengan subtopik; apa saja pilihan jurusan yang diambil pada saat tes. Saya menyimak obrolan mereka dan telinga saya menangkap sesuatu yang asing.

"Loe pas SIMAK kemarin ambil apa aja? Kalo gue, sih emang pengen banget jurusan ini. Oh iya, ntar siang kelar jam berapa sih? Pasti gerah banget ni Depok, demi apa gue harus bawa motor sendiri."


Saya heran.
Kata ganti yang mereka gunakan untuk menyebut lawan bicara berbeda dengan apa yang saya gunakan selama 17 tahun berada di dunia. Cara mereka berbicara berbeda dengan cara saya berbicara dengan keluarga dan teman-teman saya. Pilihan kata mereka jatuh pada diksi yang selama ini hanya saya dengar di film dan sinetron khas ibukota. 


Semuanya berbeda.
Tiba-tiba saya merasa menjadi alien yang terdampar di kumpulan manusia. Saya mengurungkan niat mencari teman hari itu. Memperkenalkan diri berarti harus mengeluarkan suara, melafalkan kata, dan merangkai kalimat. Dan saya takut logat khas Medan saya yang berbeda lalu dianggap aneh. Bukan berarti saya tidak bangga dengan asal saya. Namun, pada hari itu, saya takut penolakan. Maka sepanjang hari itu saya hanya diam, tak bersuara kecuali saat menjawab pertanyaan petugas tentang ukuran jas almamater.

Pada hari itu saya tak tahu bahwa ada nama untuk kejadian yang saya alami. Ada penjelasan kenapa saya merasa seperti alien pada hari itu hanya karena perbedaan bahasa. They called it culture shock.


Culture shock revers to the whole set of feelings about being in an alien setting, and the ensuing reactions. It's a chilly, creepy feeling of alienation, of being without some of the most ordinary, trivial (and therefore basic) cues of one's culture of origin.

                                         -Conrad Phillip Kottak in Cultural Anthropology-

"Ya, awalnya."
 Saya menjawab pertanyaan teman saya itu. Dia mengangguk dan sepertinya paham bahwa itu wajar untuk pendatang seperti saya. Lalu ia bilang,


"You have to make more efforts in adaptations. It takes time, but it's worth it to survive."