20151206

Malin Kundang Zaman Digital






Gerimis selalu menjadikan saya melankolis. Padahal, tes-tes kepribadian itu bilang saya koleris. Ya sudahlah, karakter manusia memang harusnya tak diiris-iris (maklum, saya adalah seorang anti-esensialis).

Ketika sedang jadi melankolis seperti ini, saya senang memutar kenangan-kenangan di kepala saya. Iya, persis seperti memainkan film. Ada tema tertentu. Ada kisahnya. Kenapa begitu? Sebab kalau tidak dikelompokkan, saya jadi pusing. Saya kasih tahu saja ya, kenangan yang datang keroyokan itu menyakitkan. 

Saat ini, saya rindu Ibu. Maka, benak saya memutar film ingatan yang tokohnya perempuan yang sudah tidak saya temui selama hampir dua belas bulan itu. 

***

Saya selalu melabeli Ibu sebagai semi-luddite. Luddite sendiri adalah istilah yang disematkan pada orang-orang yang dengan sadar menolak penggunaan teknologi karena tahu dampak negatifnya. Ibu saya tidak menolak seluruh teknologi, ia hanya menolak ponsel pintar. Ibu lebih memilih menggunakan Nokia gendut ber-keyboard QWERTY yang sebenarnya bisa digunakan untuk mengakses internet meski kecepatannya menyedihkan. 

Namun, bukan berarti Ibu gaptek. Berkat Ayah yang sangat kekinian (punya lebih dari satu ponsel pintar, semua aplikasi chatting, dan semua akun sosial media), Ibu tahu Facebook, Twitter, Instagram, Path, BBM, LINE, dan WhatsApp. Ibu mengonsumsi konten-konten media sosial itu lewat gawai dan  akun Ayah. Makanya, ia tahu apa yang terjadi dengan hidup anak-anaknya yang tinggal di dua pulau yang berbeda.

Saya pernah penasaran dan bertanya. Kenapa tak buat akun Facebook sendiri, Mam?  Ia menjawab. Buat apa? Dengan melihat-lihat dari (akun) punya ayahmu saja sudah cukup, kok. Saya tetap memaksanya untuk menjadi bagian dari masyarakat kekinian. Tidak mau bertukar kabar dengan teman-teman SMA di grup Facebook? Katanya: Enggak, aku bisa telepon teman-teman dekatku. Lebih enak ngobrol langsung. Saya cecar lagi. Tapi kan, di Facebook bisa lihat gambar, kalau lewat telepon tidak bisa. Akhirnya ia bilang: Nanti kalau aku ketagihan main Facebook seharian, yang ngurusin Ayah dan adikmu siapa? Hm, benar juga. 



Bertahun-tahun ibu memegang teguh pendiriannya. Saya sih, salut sama Ibu. Kok bisa, tidak tergoda dengan segala macam mainan modern yang ada di sekelilingnya. Dibanding menenggelamkan diri di depan layar gawai, Ibu lebih memilih menemani adik bungsu saya mengerjakan PR, menjemput les, atau sekedar mengobrol dengan tetangga.

Sepengamatan saya, hidup Ibu jadi lebih sederhana. (Tampaknya) juga lebih bahagia. Ketika meninggalkan rumah, Ibu tak perlu memastikan segala macam kabel charger dan powerbank sudah masuk ke dalam tas atau belum. Buat apa? Ponsel Ibu baterainya tahan dua hari. Ketika berkunjung ke rumah orang lain, Ibu akan menyapa si empunya rumah dengan cara yang pantas, bukannya terburu-buru dan menanyakan di mana letak colokan. Rasanya, Ibu selalu hadir. Sepenuhnya. Perhatiannya tak penah terbelah antara dunia offline dan online. 

Without sophisticated gadget, my Mom seems very peaceful. 


Tapi dua bulan belakangan, Ibu memutuskan menggunakan ponsel pintar milik Ayah dulu. Saya heran. Kenapa?

"Supaya aku tetap bisa lihat anak-anakku lagi apa. Dari Path-mu, aku tahu kamu lagi dimana, sama siapa. Di fotomu di Instagram, aku bisa lihat kamu makannya banyak apa gak di sana. Dari status LINE-mu, aku bisa tahu kamu lagi ngerasain apa." 

Ibu menjawab sambil tertawa. Tanda bercanda. Buat saya; itu tamparan keras. Tiba-tiba, saya ingat bagaimana saya lebih sering check-in di Path dibanding memberi kabar kepadanya. Saya lebih sering mengunggah foto di Instagram dibanding menceritakan langsung kegiatan saya. Bagaimana saya mencari jawaban atas permasalahan hidup dengan melemparkan pertanyaan di Quora, bukannya meminta pertimbangan orang tua. 

Saya jadi bertanya-tanya. Siapa sebenarnya orang tua kita? Yang menunggu kabar di rumah atau sosial media? Tiba-tiba, saya merasa jadi Malin Kundang zaman digital. 


****
Untunglah ada Strinati (2004) yang bisa menjawab rasa penasaran saya lewat gagasannya yang bernama atomisasi. Atomisasi adalah sebuah keadaan dalam masyarakat massa ketika individu-individu menjalin hubungan hanya atas dasar kepentingan transaksional. Misal, orang tua yang sudah lelah bekerja seharian hanya sempat bertemu anaknya di meja makan, itupun hanya menanyakan apakah PR si anak sudah selesai atau belum. Si anak pun akhirnya hanya merespon seperlunya, merasa tak perlu berbagi cerita tentang kegiatannya di sekolah atau keresahan apa yang sedang ia hadapi. 

Gejala ini terjadi pada masyarakat modern yang kehilangan komunitas-komunitas organiknya. Gaya hidup modern memaksa orang-orang untuk menjalani hidup dengan produktivitas tinggi, bekerja 9 to 5 untuk mengejar kestabilan finansial hingga akhirnya lupa untuk berinteraksi secara pantas dengan orang-orang di sekelilingnya. 

Strinati juga meramalkan bahwa interaksi yang transaksional ini akhirnya membuat individu kehilangan moral compass sebagai pedoman untuk bertindak. Kekosongan ini membuat kita mencari panduan-panduan lain yang lebih mudah diakses dan rasanya selalu ada; internet. Internet dengan segala macam kontennya mengisi perasaan resah dalam diri masyarakat massa. Mungkin saya pun sudah demikian teratomisasi sehingga mencari jawaban lewat Quora, bukan bertanya pada orang terdekat. 

Well, now you understand why people watch TedX and why Mario Teguh gets so many loyal followers or why some official LINE accounts who share some advices to cope with your galau feeling are getting popular. We are simply craving for moral compass(es). 

Sayangnya, moral compass yang berasal dari internet ini bukan menyelesaikan keresahan di awal. Ia justru memperparah dan semakin memberi jarak dari interaksi yang sebenarnya. Jahatnya lagi, kebutuhan akan "puk-puk" temporer ini dimanfaatkan oleh pelaku industri budaya untuk melakukan komersialisasi konten dengan tujuan profit (ini sangat seru untuk dibahas sebenarnya, tapi mungkin lain kali, ya). 

****

Kembali ke Ibu. 

Setelah Ibu memakai ponsel pintar dan punya beberapa aplikasi chatting, bagi saya Ibu tetap jadi semi-luddite. Asal tahu saja, kontak BBM dan WhatsApp Ibu hanya tiga; Ayah, saya, dan Adik saya. Begitu pula dengan semua media sosial lainnya. Sangat privat. Ibu hanya ingin tahu kabar kami sekeluarga. Bayangkan, seteguh apa Ibu memegang prinsipnya. 


Bagi saya, Ibu sangat cerdas. Upaya Ibu untuk membentengi dirinya dari paparan media digital yang berlebihan sesungguhnya adalah upaya untuk tidak teratomisasi. Untuk tidak kehilangan momen-momen dengan orang-orang di sekitarnya karena tenggelam dalam dunia maya. Dan saya harus mengulang ini; hidup Ibu (tampaknya) lebih damai. Setidaknya dibanding dengan hidup saya yang dibombardir begitu banyak stimulus dunia digital. 


Ah, Mam. I envy you for having that kind of peace. I just hope someday I can acquire your bravery and shut down all these overwhelming gadgets. 


****


06122015
It's heavy rain outside and the storms keep scaring me. 


P.S.: Gagasan Strinati bisa dinikmati di bukunya yang berjudul The Introduction to Theories of Popular Culture. Oh ya, gambar dipinjam dari sini dan sini.











20151205

It's Called "Empowering"

I borrowed the picture from here

I asked him randomly one day.

"What if I, as a woman, don't want to cook or do any household chores when I get married someday and hire people to do those stuffs for me instead?"

Then, he replied,

"It's okay. It's called empowering. You'll give them jobs. You will reduce unemployment in this country. At some certain point, I think we can call it as "entrepreneurship".

****







20151016

Another Girl, Another Guy

I knew that girl
who devoted all of her heart to one guy
Sadly, she was never brave enough to show it
and just dwelled in silence
Then, she guessed, and guessed, and just guessed
Long-story short, she jumped into conclusion that
the guy just perceived her as another girl

I knew that guy
who gave all his heart to one girl
Sadly, he was never brave enough to show it
and just dwelled in silence
Then, he guessed, and guessed, and just guessed
Long-story short, he jumped into conclusion that
the girl just perceived him as another guy

Well,
You think this story is about four people. 


The saddest part is it’s a story about two.


17102015
10:15 WIB

20150713

(Katanya) Kalau Pakaianmu Sopan, Kamu Tidak Akan Diganggu

Nenek saya dulu gemar bercerita. Katanya, di bulan puasa seperti ini, semua setan diikat di neraka. Tak satupun yang bisa berkeliaran di bumi. Kenapa begitu, Nek? tanya saya yang waktu itu masih TK. Supaya manusia bisa khusyuk beribadah dan tidak berbuat jahat, jawabnya. 


Lalu saya-yang saat itu memang tergolong ceriwis-bertanya lagi, kapan mereka dibebaskan? Di malam takbiran, kata Nenek. Itulah sebabnya di hari Lebaran kamu makan kue banyak sekali sampai sakit perut, setan sudah masuk ke perutmu, kata Nenek sambil tertawa. Saya cemberut.

Bertahun-tahun kemudian-bahkan setelah Nenek tiada-saya masih percaya pada kisah itu. Saya bahkan menahan keinginan untuk menghabiskan kue Lebaran di rumah Tante saya karena takut setanlah yang akan menikmati kue-kue lezat itu sambil bersantai di lambung saya.



Sembilan belas tahun bernapas dan saya percaya dunia adalah tempat yang paling aman ketika bulan puasa.  Lalu, keyakinan saya yang dogmatis itu runtuh ketika saya tinggal sendirian.

Begini ceritanya.


Di minggu kedua bulan puasa tahun ini, saya terpaksa harus pergi ke kantor polisi. Bukan karena terlibat kriminalitas, tapi saya harus mengurus surat kehilangan untuk kartu ATM saya. Selesai dari sana, saya memutuskan pulang naik KRL meskipun hanya satu stasiun karena saya kebetulan sedang tak punya uang kecil untuk membayar angkot. 


Ketika saya berjalan melewati ITC Depok menuju stasiun Depok Baru, sekelompok laki-laki tiba-tiba melakukan catcalling. (To catcall: to make a whistle, shout, or comment of a sexual nature to a woman passing by).


"Mau kemana, Neng?" teriak seorang dari mereka.

"Sini, Abang anterin pulang," kata temannya yang lain-padahal jelas dia bukan tukang ojek. 
Yang lain bahkan melontarkan catcall yang lebih melecehkan dengan berteriak, "Pssst, pssst, Neng manis amat sih!"

Saya hanya tertunduk. Berjalan cepat-cepat. Dan takut.


Padahal hari itu saya berpakaian amat sangat layak; celana jeans, baju hampir selutut yang menutupi bokong, dan kerudung. But, they kept catcalling me. 


Itu kejadian pertama.


Yang kedua, terjadi dua hari yang lalu. Saat itu, saya hendak membeli makanan sahur di warung dekat kost. Saya keluar dengan memakai pakaian tidur berupa kaus oblong dan celana selutut, tidak berkerudung. Kenapa? Ya, karena saya ingin saja. 


Di perjalanan pulang, tiba-tiba ada segerombolan laki-laki yang duduk di atas motornya. Entah mereka mau SOTR atau apa, saya tak tahu. Dan lagi, di bulan puasa yang suci ini, di tengah-tengah ayat-ayat yang dikumandangkan untuk membangunkan orang sahur, they catcalled me. Again, in my very decent constume. 


"Abis beli makan apa, Cantik?" 

"Mau Abang temenin gak, makannya?" teriak mereka. 

Saya tertunduk. Berjalan cepat-cepat. Takut dan kesal. Sejak hari itu, saya tak percaya bulan puasa adalah bulan paling aman. Sejak hari itu, saya kepingin sekali bilang pada Nenek, "Nek, peraturan Tuhan sudah ganti! Sekarang setan tak lagi dikurung di bulan puasa."



***


Dua kejadian itulah yang membuat saya selalu meragukan pendapat orang-orang radikal yang menganggap perempuan dilecehkan karena pakaian yang kami kenakan tak senonoh. Like, hey, I got my very very very decent costumes and being catcalled anyway. 



Maka menurut saya-yang kerap kali jadi korban catcalling dan sama sekali tidak bangga karenanya-pakaian bukan variabel penentu. It's on their brain, though. 


Lalu, sebagian dari Anda yang merasa jenius akan berkomentar, "Tuh kan, pakai pakaian sopan aja di-catcalling, apalagi lo pakai rok seksi!"


Sekilas, argumen seperti itu terlihat masuk akal. Tapi, berkata seperti itu sama saja dengan berkata, "Tuh kan, pakai Waze aja masih nyasar, apalagi gak pakai Waze!" Sebuah komentar yang kelihatan logis tapi tak solutif. Pernyataan itu tak menyelesaikan persoalan mengapa Waze masih bisa membuat orang nyasar, atau apa kelemahan Waze sebenarnya sampai bisa membuat orang nyasar. 


Dalam kasus saya, komentar "Tuh kan, pakai pakaian sopan aja di-catcalling, apalagi lo pakai rok seksi!" tidak akan menjawab pertanyaan mengapa saya tetap di-catcalling walaupun saya berpakaian sopan. Atau...apa yang salah dengan laki-laki di masyarakat kita sehingga tetap melakukan catcalling terhadap perempuan, terlepas dari seberapa tertutup busana yang kami pakai. 

Komentar "Tuh kan, pakai pakaian sopan aja di-catcalling, apalagi lo pakai rok seksi!" hanyalah bentuk legitimasi bahwa laki-laki adalah makhluk yang hanya disetir nafsu sehingga tak bisa menahan diri ketika melihat perempuan, makanya perempuan harus mati-matian menutupi. Anda, para laki-laki, merasa seperti itukah? 


Jika Anda tidak merasa seperti itu, yuk, jangan pernah lakukan catcalling. It scares us. Semanis apapun ucapan yang kalian teriakkan di jalan kepada perempuan, percayalah, kami tak pernah merasa tersanjung karenanya. Malah, saya selalu merasa ingin menonjok laki-laki yang melakukan catcalling. Namun, ada perasaan takut nantinya kalian akan melakukan hal yang lebih buruk lagi dari sekedar catcalling jika kami melawan. 


Please, throwing a catcall to a girl in the street is not cool at all. You just make us put a "jerk" label on yourself. Mungkin sebagian laki-laki hanya berdalih "iseng doang", tapi bukankah mash banyak kegiatan iseng lain yang bisa dilakukan sekaligus tidak mengobjektifikasi manusia lain?

And after all, why can't you, men, leave us, women, alone in peace and safe? Is it too much to ask for?


Dan untuk perempuan, let's be brave. I promised myself that next time I get catcalled, I'll throw a heavy stone to them...and run away!




13072015
3:01 pm
I have some articles to be done here in Fabelio, but I can't help myself to write this first. 



20150531

Saya Ingin Menjadi (Seperti) Marissa Mayer!

Gambar diambil dari sini


Perempuan. Muda. CEO. Tiga kata itu melekat pada diri Marissa Mayer, CEO Yahoo! yang menjabat sejak tahun 2012. Selain menduduki posisi sebagai CEO Yahoo!, Marissa juga merupakan seorang istri dari Zachary Bogue dan ibu dari seorang anak laki-laki. Di tangannya, Yahoo! berhasil mengakuisisi Tumblr dan nilai saham Yahoo! meningkat 100% dalam setahun. Menjadi CEO di usia 37 tahun menjadikannya CEO termuda yang masuk dalam jajaran 500 CEO yang dirilis Fortune.

Salah satu langkah yang dilakukan Mayer adalah mengubah budaya organisasi Yahoo! Ia melarang karyawannya untuk bekerja dari rumah. Sebab, ia berpendapat, “Beberapa orang merasa lebih produktif ketika mereka sendirian, tetapi mereka lebih dapat berkolaborasi dan menghasilkan ide-ide yang inovatif ketika mereka bersama. Ide-ide yang hebat datang dari dua ide berbeda yang disatukan.” Meskipun menimbulkan kontroversi, terutama dari working mom yang bekerja dari rumah, hingga kini Marissa tetap mempertahankan peraturan ini.

                Sebelum menjadi CEO Yahoo!, Marissa merupakan Senior Vice President di Google. Di Google, kariernya pun tak kalah cemerlang. Ia sempat mendesain home page Google, menciptakan struktur manajemen produk, dan menjadi lini terdepan Google lewat perannya sebagai juru bicara.

                Marissa Mayer menjadi salah satu tokoh yang cukup menginspirasi saya karena ia dapat mencapai hasil yang cemerlang di bidang IT yang masih didominasi oleh para laki-laki. Hal ini ditunjukkan oleh angka statistik yang mengatakan bahwa di tahun 2003, 84% siswa yang ikut ujian SAT dan memilih jurusan Ilmu Komputer berjenis kelamin laki-laki. Berbicara masalah gender, Marissa dapat menyeimbangkan perannya sebagai CEO sekaligus istri dan ibu bagi anaknya. Di masa depan, I just want to be like her, finding the balance in my roles as a career woman and a good mom and wife.

Hal lain yang saya kagumi, Marissa merupakan seseorang yang menyukai tantangan. Setelah lulus SMA, ia mengambil jurusan Kedokteran di Standford University. Namun, akhirnya ia merasa pelajaran di Kedokteran cenderung fokus pada hapalan. Sementara itu, ia menginginkan jurusan yang melatihnya untuk berpikir kritis dan menjadi problem solver yang hebat. Maka, ia memutuskan untuk ikut kelas programming dan fokus pada bidang programming, terutama tentang artificial intelligence.

                Keberhasilan Marissa tidak diraih lewat jalan keberuntungan. Dari masa SMA, Marissa telah aktif di berbagai kegiatan. Ia menjadi pemimpin di setiap klub yang ia ikuti. Ia sempat menjadi Ketua dari Klub Bahasa Spanyol dan Kapten dari tim debat. Hal ini menginspirasi saya untuk melatih jiwa kepemimpinan sejak dini.
                Profesionalitas juga merupakan sesuatu yang telah mendarah daging dalam diri Marissa. Semasa sekolah, ia dikenal sebagai pekerja keras yang berusaha membuat semua pekerjaannya selesai dengan hasil terbaik. Di mata teman-temannya, Marissa dipandang sebagai anak yang “baik kepada siapa saja,” tetapi ia lebih suka melakukan hal-hal produktif dibanding bercengkrama atau hang out dengan teman-temannya. Saya setuju dengan tindakan ini karena menurut saya, untuk mencapai apa yang diinginkan memang ada hal-hal yang perlu dikorbankan.
                Hal terakhir yang saya kagumi dari Marissa adalah ia senang mengajar. Di tahun pertama ia bekerja di Google, Marissa juga turut mengajar di Stanford University. Ia telah mengajar 3000 mahasiswa ketika ia dipromosikan di Google. Saking sukanya mengajar, ia bahkan  membagikan pengetahuannya lewat program mentoring bernama Associate Product Manager  (APM) yang ia ciptakan. Melalui program ini, Marissa memilih pekerja junior di Google, memberikan mereka tugas, dan membuka kelas untuk mereka. Di akhir program ini, Marissa akan mengajak seluruh “muridnya” di APM untuk mengunjungi kantor Google di seluruh dunia.

                Menurut saya, StudentsxCEOs dapat membantu saya mencapai apa yang saya inginkan dengan mempertemukan saya dengan para CEO yang sudah terlebih dahulu mencicipi kesuksesan. Melalui pengalaman yang mereka bagikan, saya akan memahami bagaimana berlikunya perjalanan untuk mencapai puncak kesuksesan dan mempersiapkan diri menuju ke sana. Selain itu, sebagaimana Marissa yang senang mengajar dan membagi pengetahuannya, saya percaya nilai Share yang dipegang oleh StudentsxCEOs juga telah meresap di diri para alumninya. Dengan demikian, saya tak hanya bisa belajar tentang kepemimpinan dari para CEO, tetapi juga dari para alumni dan teman-teman sesama (InsyaAllah) Core Team di Batch 4 ini. 


Artikel ini disarikan dari sana dan sini.