20151211

The Parallel Lines Has Become Perpendicular

Dear the man behind the camera, 

Remember that very very old day when you asked me, "Why are you so keen on words? Why do you choose writings over other activities?" (You might not remember that day cause it took place almost two years ago, but that's okay). 

I bit my lips, then answered, "Cause for me, words are powerful. I can capture and describe my whole world through words!" You nodded your head, but your eyes told me that you doubted my answer. Of course, you doubt it. With your Canon EOS 7D, you can capture this whole universe through another means: pictures. 

Then, there we are. We speak through different languages. I paint the reality in writings, you preserve your moment through images. And we thought we couldn't understand each other.

Even in professional way, I used to write the news, you snapped the pictures, then the editors combined it. Like two parallel lines, our works walked side by side. But, we never crossed the line. 

Maybe you just still didn't understand how I could be so upset in group chat over one typo or non-italic word. And I, well, I didn't get it how you could be so pissed off by a little cropped photo. 


****

Until they decided to make a new project. It required me to make proper captions for your photos. Or else, I had to checked the captions you made on your own before it was published. I didn't say that it was easy. 

You gave me three words as the caption and you said, "Just let the audiences make their own meaning to my work." But I insist, "This is a journalistic photography. We have to make sure that the audiences can get the message clearly, the way what really happened in there. So, we need to give the context to the audience through words. "  

I revised your three-words-caption to one-paragraph-story. I know you were not happy (but I have more power than you, so I did it anyway). But then, the project was going quite good. At that time, we realized one thing; 

We communicate through different means. But, your means complements mine. And vice versa.  The parallel lines has become perpendicular. 

And one day, you thought that we had to give a name to the point where the lines met. I said sceptically and quite too logically, "No, it's unnecessary. Why should we give a label in a first place, if later we just throw so much pain to each other in order to take back that label?" 


You replied, "I'm not going to tell you that everything will always be easy. Being together is never a constant bliss. But, think about this; doesn't it sound good to have someone who always get your back?"



To always have my back. That's it. As simple as that. No candy-coated words at all. There's no "I will make you happy forever" or "We will spend the rest of our lives together." It's just "to always have your back".

And that's enough. I looked back to the past few months and yes, you're there. 

****


You stood there in the rain just to handed me painkiller cream and band-aid in the day I almost broke my toe (Cause your new partner was so reckless stepping out her slippery balcony). Or do you remember the day after, you handled 100 of my quantitative research instruments cause I had to see the doctor? 


And yes, we need reciprocity to make it works. So, how about waiting the messenger for more than 4 hours the day you left your key inside your motorcycle baggage? Or how I chose to stay up late to discuss the choices you had to take immediately while I had to attend important meeting at 7am? 


And yeah, you are right; it's nice to have someone who always get our backs. It's nice having someone whom we can have a real interaction, not an atomised and transactional one. So, happy zwölf! May "I got your back" will always be our favorite words to each other. 



Your reckless partner,

D



P.S.: This what-so-called interpersonal relationship will go through the way I've ever known; one of us will walk out of the door at the end of the day. But before one of us pass that door, please have a glance to this words. To the November 12th. To us. 

20151206

Malin Kundang Zaman Digital






Gerimis selalu menjadikan saya melankolis. Padahal, tes-tes kepribadian itu bilang saya koleris. Ya sudahlah, karakter manusia memang harusnya tak diiris-iris (maklum, saya adalah seorang anti-esensialis).

Ketika sedang jadi melankolis seperti ini, saya senang memutar kenangan-kenangan di kepala saya. Iya, persis seperti memainkan film. Ada tema tertentu. Ada kisahnya. Kenapa begitu? Sebab kalau tidak dikelompokkan, saya jadi pusing. Saya kasih tahu saja ya, kenangan yang datang keroyokan itu menyakitkan. 

Saat ini, saya rindu Ibu. Maka, benak saya memutar film ingatan yang tokohnya perempuan yang sudah tidak saya temui selama hampir dua belas bulan itu. 

***

Saya selalu melabeli Ibu sebagai semi-luddite. Luddite sendiri adalah istilah yang disematkan pada orang-orang yang dengan sadar menolak penggunaan teknologi karena tahu dampak negatifnya. Ibu saya tidak menolak seluruh teknologi, ia hanya menolak ponsel pintar. Ibu lebih memilih menggunakan Nokia gendut ber-keyboard QWERTY yang sebenarnya bisa digunakan untuk mengakses internet meski kecepatannya menyedihkan. 

Namun, bukan berarti Ibu gaptek. Berkat Ayah yang sangat kekinian (punya lebih dari satu ponsel pintar, semua aplikasi chatting, dan semua akun sosial media), Ibu tahu Facebook, Twitter, Instagram, Path, BBM, LINE, dan WhatsApp. Ibu mengonsumsi konten-konten media sosial itu lewat gawai dan  akun Ayah. Makanya, ia tahu apa yang terjadi dengan hidup anak-anaknya yang tinggal di dua pulau yang berbeda.

Saya pernah penasaran dan bertanya. Kenapa tak buat akun Facebook sendiri, Mam?  Ia menjawab. Buat apa? Dengan melihat-lihat dari (akun) punya ayahmu saja sudah cukup, kok. Saya tetap memaksanya untuk menjadi bagian dari masyarakat kekinian. Tidak mau bertukar kabar dengan teman-teman SMA di grup Facebook? Katanya: Enggak, aku bisa telepon teman-teman dekatku. Lebih enak ngobrol langsung. Saya cecar lagi. Tapi kan, di Facebook bisa lihat gambar, kalau lewat telepon tidak bisa. Akhirnya ia bilang: Nanti kalau aku ketagihan main Facebook seharian, yang ngurusin Ayah dan adikmu siapa? Hm, benar juga. 



Bertahun-tahun ibu memegang teguh pendiriannya. Saya sih, salut sama Ibu. Kok bisa, tidak tergoda dengan segala macam mainan modern yang ada di sekelilingnya. Dibanding menenggelamkan diri di depan layar gawai, Ibu lebih memilih menemani adik bungsu saya mengerjakan PR, menjemput les, atau sekedar mengobrol dengan tetangga.

Sepengamatan saya, hidup Ibu jadi lebih sederhana. (Tampaknya) juga lebih bahagia. Ketika meninggalkan rumah, Ibu tak perlu memastikan segala macam kabel charger dan powerbank sudah masuk ke dalam tas atau belum. Buat apa? Ponsel Ibu baterainya tahan dua hari. Ketika berkunjung ke rumah orang lain, Ibu akan menyapa si empunya rumah dengan cara yang pantas, bukannya terburu-buru dan menanyakan di mana letak colokan. Rasanya, Ibu selalu hadir. Sepenuhnya. Perhatiannya tak penah terbelah antara dunia offline dan online. 

Without sophisticated gadget, my Mom seems very peaceful. 


Tapi dua bulan belakangan, Ibu memutuskan menggunakan ponsel pintar milik Ayah dulu. Saya heran. Kenapa?

"Supaya aku tetap bisa lihat anak-anakku lagi apa. Dari Path-mu, aku tahu kamu lagi dimana, sama siapa. Di fotomu di Instagram, aku bisa lihat kamu makannya banyak apa gak di sana. Dari status LINE-mu, aku bisa tahu kamu lagi ngerasain apa." 

Ibu menjawab sambil tertawa. Tanda bercanda. Buat saya; itu tamparan keras. Tiba-tiba, saya ingat bagaimana saya lebih sering check-in di Path dibanding memberi kabar kepadanya. Saya lebih sering mengunggah foto di Instagram dibanding menceritakan langsung kegiatan saya. Bagaimana saya mencari jawaban atas permasalahan hidup dengan melemparkan pertanyaan di Quora, bukannya meminta pertimbangan orang tua. 

Saya jadi bertanya-tanya. Siapa sebenarnya orang tua kita? Yang menunggu kabar di rumah atau sosial media? Tiba-tiba, saya merasa jadi Malin Kundang zaman digital. 


****
Untunglah ada Strinati (2004) yang bisa menjawab rasa penasaran saya lewat gagasannya yang bernama atomisasi. Atomisasi adalah sebuah keadaan dalam masyarakat massa ketika individu-individu menjalin hubungan hanya atas dasar kepentingan transaksional. Misal, orang tua yang sudah lelah bekerja seharian hanya sempat bertemu anaknya di meja makan, itupun hanya menanyakan apakah PR si anak sudah selesai atau belum. Si anak pun akhirnya hanya merespon seperlunya, merasa tak perlu berbagi cerita tentang kegiatannya di sekolah atau keresahan apa yang sedang ia hadapi. 

Gejala ini terjadi pada masyarakat modern yang kehilangan komunitas-komunitas organiknya. Gaya hidup modern memaksa orang-orang untuk menjalani hidup dengan produktivitas tinggi, bekerja 9 to 5 untuk mengejar kestabilan finansial hingga akhirnya lupa untuk berinteraksi secara pantas dengan orang-orang di sekelilingnya. 

Strinati juga meramalkan bahwa interaksi yang transaksional ini akhirnya membuat individu kehilangan moral compass sebagai pedoman untuk bertindak. Kekosongan ini membuat kita mencari panduan-panduan lain yang lebih mudah diakses dan rasanya selalu ada; internet. Internet dengan segala macam kontennya mengisi perasaan resah dalam diri masyarakat massa. Mungkin saya pun sudah demikian teratomisasi sehingga mencari jawaban lewat Quora, bukan bertanya pada orang terdekat. 

Well, now you understand why people watch TedX and why Mario Teguh gets so many loyal followers or why some official LINE accounts who share some advices to cope with your galau feeling are getting popular. We are simply craving for moral compass(es). 

Sayangnya, moral compass yang berasal dari internet ini bukan menyelesaikan keresahan di awal. Ia justru memperparah dan semakin memberi jarak dari interaksi yang sebenarnya. Jahatnya lagi, kebutuhan akan "puk-puk" temporer ini dimanfaatkan oleh pelaku industri budaya untuk melakukan komersialisasi konten dengan tujuan profit (ini sangat seru untuk dibahas sebenarnya, tapi mungkin lain kali, ya). 

****

Kembali ke Ibu. 

Setelah Ibu memakai ponsel pintar dan punya beberapa aplikasi chatting, bagi saya Ibu tetap jadi semi-luddite. Asal tahu saja, kontak BBM dan WhatsApp Ibu hanya tiga; Ayah, saya, dan Adik saya. Begitu pula dengan semua media sosial lainnya. Sangat privat. Ibu hanya ingin tahu kabar kami sekeluarga. Bayangkan, seteguh apa Ibu memegang prinsipnya. 


Bagi saya, Ibu sangat cerdas. Upaya Ibu untuk membentengi dirinya dari paparan media digital yang berlebihan sesungguhnya adalah upaya untuk tidak teratomisasi. Untuk tidak kehilangan momen-momen dengan orang-orang di sekitarnya karena tenggelam dalam dunia maya. Dan saya harus mengulang ini; hidup Ibu (tampaknya) lebih damai. Setidaknya dibanding dengan hidup saya yang dibombardir begitu banyak stimulus dunia digital. 


Ah, Mam. I envy you for having that kind of peace. I just hope someday I can acquire your bravery and shut down all these overwhelming gadgets. 


****


06122015
It's heavy rain outside and the storms keep scaring me. 


P.S.: Gagasan Strinati bisa dinikmati di bukunya yang berjudul The Introduction to Theories of Popular Culture. Oh ya, gambar dipinjam dari sini dan sini.











20151205

It's Called "Empowering"

I borrowed the picture from here

I asked him randomly one day.

"What if I, as a woman, don't want to cook or do any household chores when I get married someday and hire people to do those stuffs for me instead?"

Then, he replied,

"It's okay. It's called empowering. You'll give them jobs. You will reduce unemployment in this country. At some certain point, I think we can call it as "entrepreneurship".

****







20151016

Another Girl, Another Guy

I knew that girl
who devoted all of her heart to one guy
Sadly, she was never brave enough to show it
and just dwelled in silence
Then, she guessed, and guessed, and just guessed
Long-story short, she jumped into conclusion that
the guy just perceived her as another girl

I knew that guy
who gave all his heart to one girl
Sadly, he was never brave enough to show it
and just dwelled in silence
Then, he guessed, and guessed, and just guessed
Long-story short, he jumped into conclusion that
the girl just perceived him as another guy

Well,
You think this story is about four people. 


The saddest part is it’s a story about two.


17102015
10:15 WIB

20150713

(Katanya) Kalau Pakaianmu Sopan, Kamu Tidak Akan Diganggu

Nenek saya dulu gemar bercerita. Katanya, di bulan puasa seperti ini, semua setan diikat di neraka. Tak satupun yang bisa berkeliaran di bumi. Kenapa begitu, Nek? tanya saya yang waktu itu masih TK. Supaya manusia bisa khusyuk beribadah dan tidak berbuat jahat, jawabnya. 


Lalu saya-yang saat itu memang tergolong ceriwis-bertanya lagi, kapan mereka dibebaskan? Di malam takbiran, kata Nenek. Itulah sebabnya di hari Lebaran kamu makan kue banyak sekali sampai sakit perut, setan sudah masuk ke perutmu, kata Nenek sambil tertawa. Saya cemberut.

Bertahun-tahun kemudian-bahkan setelah Nenek tiada-saya masih percaya pada kisah itu. Saya bahkan menahan keinginan untuk menghabiskan kue Lebaran di rumah Tante saya karena takut setanlah yang akan menikmati kue-kue lezat itu sambil bersantai di lambung saya.



Sembilan belas tahun bernapas dan saya percaya dunia adalah tempat yang paling aman ketika bulan puasa.  Lalu, keyakinan saya yang dogmatis itu runtuh ketika saya tinggal sendirian.

Begini ceritanya.


Di minggu kedua bulan puasa tahun ini, saya terpaksa harus pergi ke kantor polisi. Bukan karena terlibat kriminalitas, tapi saya harus mengurus surat kehilangan untuk kartu ATM saya. Selesai dari sana, saya memutuskan pulang naik KRL meskipun hanya satu stasiun karena saya kebetulan sedang tak punya uang kecil untuk membayar angkot. 


Ketika saya berjalan melewati ITC Depok menuju stasiun Depok Baru, sekelompok laki-laki tiba-tiba melakukan catcalling. (To catcall: to make a whistle, shout, or comment of a sexual nature to a woman passing by).


"Mau kemana, Neng?" teriak seorang dari mereka.

"Sini, Abang anterin pulang," kata temannya yang lain-padahal jelas dia bukan tukang ojek. 
Yang lain bahkan melontarkan catcall yang lebih melecehkan dengan berteriak, "Pssst, pssst, Neng manis amat sih!"

Saya hanya tertunduk. Berjalan cepat-cepat. Dan takut.


Padahal hari itu saya berpakaian amat sangat layak; celana jeans, baju hampir selutut yang menutupi bokong, dan kerudung. But, they kept catcalling me. 


Itu kejadian pertama.


Yang kedua, terjadi dua hari yang lalu. Saat itu, saya hendak membeli makanan sahur di warung dekat kost. Saya keluar dengan memakai pakaian tidur berupa kaus oblong dan celana selutut, tidak berkerudung. Kenapa? Ya, karena saya ingin saja. 


Di perjalanan pulang, tiba-tiba ada segerombolan laki-laki yang duduk di atas motornya. Entah mereka mau SOTR atau apa, saya tak tahu. Dan lagi, di bulan puasa yang suci ini, di tengah-tengah ayat-ayat yang dikumandangkan untuk membangunkan orang sahur, they catcalled me. Again, in my very decent constume. 


"Abis beli makan apa, Cantik?" 

"Mau Abang temenin gak, makannya?" teriak mereka. 

Saya tertunduk. Berjalan cepat-cepat. Takut dan kesal. Sejak hari itu, saya tak percaya bulan puasa adalah bulan paling aman. Sejak hari itu, saya kepingin sekali bilang pada Nenek, "Nek, peraturan Tuhan sudah ganti! Sekarang setan tak lagi dikurung di bulan puasa."



***


Dua kejadian itulah yang membuat saya selalu meragukan pendapat orang-orang radikal yang menganggap perempuan dilecehkan karena pakaian yang kami kenakan tak senonoh. Like, hey, I got my very very very decent costumes and being catcalled anyway. 



Maka menurut saya-yang kerap kali jadi korban catcalling dan sama sekali tidak bangga karenanya-pakaian bukan variabel penentu. It's on their brain, though. 


Lalu, sebagian dari Anda yang merasa jenius akan berkomentar, "Tuh kan, pakai pakaian sopan aja di-catcalling, apalagi lo pakai rok seksi!"


Sekilas, argumen seperti itu terlihat masuk akal. Tapi, berkata seperti itu sama saja dengan berkata, "Tuh kan, pakai Waze aja masih nyasar, apalagi gak pakai Waze!" Sebuah komentar yang kelihatan logis tapi tak solutif. Pernyataan itu tak menyelesaikan persoalan mengapa Waze masih bisa membuat orang nyasar, atau apa kelemahan Waze sebenarnya sampai bisa membuat orang nyasar. 


Dalam kasus saya, komentar "Tuh kan, pakai pakaian sopan aja di-catcalling, apalagi lo pakai rok seksi!" tidak akan menjawab pertanyaan mengapa saya tetap di-catcalling walaupun saya berpakaian sopan. Atau...apa yang salah dengan laki-laki di masyarakat kita sehingga tetap melakukan catcalling terhadap perempuan, terlepas dari seberapa tertutup busana yang kami pakai. 

Komentar "Tuh kan, pakai pakaian sopan aja di-catcalling, apalagi lo pakai rok seksi!" hanyalah bentuk legitimasi bahwa laki-laki adalah makhluk yang hanya disetir nafsu sehingga tak bisa menahan diri ketika melihat perempuan, makanya perempuan harus mati-matian menutupi. Anda, para laki-laki, merasa seperti itukah? 


Jika Anda tidak merasa seperti itu, yuk, jangan pernah lakukan catcalling. It scares us. Semanis apapun ucapan yang kalian teriakkan di jalan kepada perempuan, percayalah, kami tak pernah merasa tersanjung karenanya. Malah, saya selalu merasa ingin menonjok laki-laki yang melakukan catcalling. Namun, ada perasaan takut nantinya kalian akan melakukan hal yang lebih buruk lagi dari sekedar catcalling jika kami melawan. 


Please, throwing a catcall to a girl in the street is not cool at all. You just make us put a "jerk" label on yourself. Mungkin sebagian laki-laki hanya berdalih "iseng doang", tapi bukankah mash banyak kegiatan iseng lain yang bisa dilakukan sekaligus tidak mengobjektifikasi manusia lain?

And after all, why can't you, men, leave us, women, alone in peace and safe? Is it too much to ask for?


Dan untuk perempuan, let's be brave. I promised myself that next time I get catcalled, I'll throw a heavy stone to them...and run away!




13072015
3:01 pm
I have some articles to be done here in Fabelio, but I can't help myself to write this first. 



20150531

Saya Ingin Menjadi (Seperti) Marissa Mayer!

Gambar diambil dari sini


Perempuan. Muda. CEO. Tiga kata itu melekat pada diri Marissa Mayer, CEO Yahoo! yang menjabat sejak tahun 2012. Selain menduduki posisi sebagai CEO Yahoo!, Marissa juga merupakan seorang istri dari Zachary Bogue dan ibu dari seorang anak laki-laki. Di tangannya, Yahoo! berhasil mengakuisisi Tumblr dan nilai saham Yahoo! meningkat 100% dalam setahun. Menjadi CEO di usia 37 tahun menjadikannya CEO termuda yang masuk dalam jajaran 500 CEO yang dirilis Fortune.

Salah satu langkah yang dilakukan Mayer adalah mengubah budaya organisasi Yahoo! Ia melarang karyawannya untuk bekerja dari rumah. Sebab, ia berpendapat, “Beberapa orang merasa lebih produktif ketika mereka sendirian, tetapi mereka lebih dapat berkolaborasi dan menghasilkan ide-ide yang inovatif ketika mereka bersama. Ide-ide yang hebat datang dari dua ide berbeda yang disatukan.” Meskipun menimbulkan kontroversi, terutama dari working mom yang bekerja dari rumah, hingga kini Marissa tetap mempertahankan peraturan ini.

                Sebelum menjadi CEO Yahoo!, Marissa merupakan Senior Vice President di Google. Di Google, kariernya pun tak kalah cemerlang. Ia sempat mendesain home page Google, menciptakan struktur manajemen produk, dan menjadi lini terdepan Google lewat perannya sebagai juru bicara.

                Marissa Mayer menjadi salah satu tokoh yang cukup menginspirasi saya karena ia dapat mencapai hasil yang cemerlang di bidang IT yang masih didominasi oleh para laki-laki. Hal ini ditunjukkan oleh angka statistik yang mengatakan bahwa di tahun 2003, 84% siswa yang ikut ujian SAT dan memilih jurusan Ilmu Komputer berjenis kelamin laki-laki. Berbicara masalah gender, Marissa dapat menyeimbangkan perannya sebagai CEO sekaligus istri dan ibu bagi anaknya. Di masa depan, I just want to be like her, finding the balance in my roles as a career woman and a good mom and wife.

Hal lain yang saya kagumi, Marissa merupakan seseorang yang menyukai tantangan. Setelah lulus SMA, ia mengambil jurusan Kedokteran di Standford University. Namun, akhirnya ia merasa pelajaran di Kedokteran cenderung fokus pada hapalan. Sementara itu, ia menginginkan jurusan yang melatihnya untuk berpikir kritis dan menjadi problem solver yang hebat. Maka, ia memutuskan untuk ikut kelas programming dan fokus pada bidang programming, terutama tentang artificial intelligence.

                Keberhasilan Marissa tidak diraih lewat jalan keberuntungan. Dari masa SMA, Marissa telah aktif di berbagai kegiatan. Ia menjadi pemimpin di setiap klub yang ia ikuti. Ia sempat menjadi Ketua dari Klub Bahasa Spanyol dan Kapten dari tim debat. Hal ini menginspirasi saya untuk melatih jiwa kepemimpinan sejak dini.
                Profesionalitas juga merupakan sesuatu yang telah mendarah daging dalam diri Marissa. Semasa sekolah, ia dikenal sebagai pekerja keras yang berusaha membuat semua pekerjaannya selesai dengan hasil terbaik. Di mata teman-temannya, Marissa dipandang sebagai anak yang “baik kepada siapa saja,” tetapi ia lebih suka melakukan hal-hal produktif dibanding bercengkrama atau hang out dengan teman-temannya. Saya setuju dengan tindakan ini karena menurut saya, untuk mencapai apa yang diinginkan memang ada hal-hal yang perlu dikorbankan.
                Hal terakhir yang saya kagumi dari Marissa adalah ia senang mengajar. Di tahun pertama ia bekerja di Google, Marissa juga turut mengajar di Stanford University. Ia telah mengajar 3000 mahasiswa ketika ia dipromosikan di Google. Saking sukanya mengajar, ia bahkan  membagikan pengetahuannya lewat program mentoring bernama Associate Product Manager  (APM) yang ia ciptakan. Melalui program ini, Marissa memilih pekerja junior di Google, memberikan mereka tugas, dan membuka kelas untuk mereka. Di akhir program ini, Marissa akan mengajak seluruh “muridnya” di APM untuk mengunjungi kantor Google di seluruh dunia.

                Menurut saya, StudentsxCEOs dapat membantu saya mencapai apa yang saya inginkan dengan mempertemukan saya dengan para CEO yang sudah terlebih dahulu mencicipi kesuksesan. Melalui pengalaman yang mereka bagikan, saya akan memahami bagaimana berlikunya perjalanan untuk mencapai puncak kesuksesan dan mempersiapkan diri menuju ke sana. Selain itu, sebagaimana Marissa yang senang mengajar dan membagi pengetahuannya, saya percaya nilai Share yang dipegang oleh StudentsxCEOs juga telah meresap di diri para alumninya. Dengan demikian, saya tak hanya bisa belajar tentang kepemimpinan dari para CEO, tetapi juga dari para alumni dan teman-teman sesama (InsyaAllah) Core Team di Batch 4 ini. 


Artikel ini disarikan dari sana dan sini. 

20150315

Ketika Saya Menawarkan Pelukan Gratis


Kamis, 26 Februari 2015, saya ditugaskan untuk memakai tulisan berbunyi “Free hug” dan melihat reaksi orang-orang atas pesan itu. Di hari itu, kebetulan saya mengikuti kelas Epistemologi di FIB. Seusai kelas Epistemologi, saya memakai tulisan itu di bagian depan dan belakang tubuh dan berjalan bersama teman saya, Josua, menuju Perpustakaan Pusat.

Dalam perjalanan menuju Perpustakaan, beberapa orang mulai melirik ke arah saya dengan tatapan heran. Beberapa dari mereka yang berjalan bergerombol juga mulai berbisik-bisik dengan temannya sambil sesekali menunjuk ke arah saya. Seorang mahasiswa Korea bahkan berjalan sambil menanyakan, “Free hug?” kepada temannya dengan suara yang cukup keras hingga saya bisa mendengarnya.

Sesampainya di Perpustakaan, saya ikut masuk menemani teman saya yang ingin mengembalikan buku. Saya menunggunya sambil mengecek handphone. Tiba-tiba, dua orang perempuan seusia saya dan juga memakai jilbab, mendekat dan menepuk pundak saya. Saya menoleh dan melihat tatapan kasihan di mata mereka. Kemudian, salah satu dari mereka berkata, “Mbak, ada yang menempelkan ini,” katanya sambil melepas tulisan “Free hug” dari punggung saya. Dari tatapannya, saya tahu mereka mengira saya adalah korban keisengan seseorang. Dalam hati, saya ingin tertawa, tetapi saya hanya tersenyum dan mengatakan, “Terima kasih ya, Mbak.” Ketika saya berkata demikian, mereka berdua melihat tulisan yang sama di perut saya dan merasa lebih heran. Namun, mereka memutuskan pergi. Saat itu, saya melihat mereka saling berbisik satu sama lain sambil melihat ke arah saya.

Kemudian, saya memasang tulisan itu lagi. Kami melewati Starbucks dan melihat Wulan, teman kami yang lain, ada di sana. Kami memutuskan masuk. Ketika masuk, tatapan pelayan di sana langsung mengarah ke punggung saya, begitu pula dengan beberapa pengunjung disana. Wulan bereaksi dengan lebih ekspresif. Ia langsung memeluk saya dan berkata, “Lo pengen banget dipeluk? Gue foto, ah! Ntar gue sebarin ke temen-temen gue. Ini lucu banget! Ada-ada aja sih lo, Dar.” Ia lalu mengambil foto saya dengan handphone-nya. Di saat yang bersamaan, saya mendengar bunyi jepretan kamera dari arah belakang saya. Saya berbalik dan melihat seorang pengunjung buru-buru memasukkan handphone-nya ke kantong. Saya rasa ia pun baru saja melakukan hal yang sama seperti Wulan.

Setelah bertemu dengan Wulan, kami memutuskan untuk ke Mac Room. Disana, saya bertemu Rafly, mahasiswa peminatan Iklan. Ia menyapa saya dan berkomentar, “Anak Kamed pada kenapa sih? Kemarin gue liat Andri pakai ginian, sekarang lo. Kalian pada kalah judi, ya? Nanti gue bikin yang lebih heboh deh di anak Iklan.” Saya hanya tersenyum mendengarnya, lalu ia bertanya lagi, “Bukan tugas dari dosen, kan?” Saya tidak menjawabnya dan mengalihkan pembicaraan.

Lalu, di Mac Room saya juga bertemu dengan Lucky, teman perempuan saya. Melihat saya, Lucky hanya berkomentar kepada Josua, “Tuh, Jo, free hug.” Josua kemudian berkomentar, “Lo buka kerudung dulu, Dar, baru gue peluk.” Lucky tertawa, tetapi ketika kami mengobrol, Lucky kembali bertanya, “Lo ngapain sih? Ini kenapa? Ada apa sih, lo? Pengen banget jadi center of attention?” Lucky menanyakan hal itu berulang-ulang seolah saya baru saja melakukan sesuatu yang melanggar hukum. Namun, saya dan Josua hanya tertawa dan tidak memberitahu Lucky alasan yang sebenarnya. Di tempat yang sama saya juga bertemu dengan Carla. Awalnya ia tak menyadari tulisan itu. Namun, ketika saya, Lucky, dan Josua berbalik pergi, ia sadar dan bertanya, “Free hug banget, Dar?”

Setelah itu, kami bertiga pergi ke Kantin Fasilkom untuk makan siang. Saat berjalan melewati meja-meja di sana, seorang cowo berkata kepada temannya, “Itu apaan, anjir..” sambil menunjuk saya. Orang-orang yang duduk di meja lain pun masih berbisik-bisi dan menujuk-nunjuk.

Karena saya ada kelas pada pukul dua siang, saya memutuskan kembali ke FISIP setelah makan. Di Polay, saya bertemu dengan Harry dan Nikel. Dari kejauhan, mereka berteriak, “Dara, freee huuug!” sambil merentangkan tangan. Mereka bereaksi seperti itu karena telah melihat beberapa teman yang lain memakai tanda yang sama. Di selasar Kopma, saya bertemu dengan Wildan dan Livi. Mereka mengajak saya ke Kancil (Kantin Psikologi) karena mereka belum makan. Dalam perjalanan ke sana, Wildan berkata, “Itu apaan sih yang lo pakai? Alay ih, gue malu jalan sama lo,” katanya setengah bercanda.

Saat itu Kancil sedang ramai karena tepat jam makan siang. Beberapa orang yang sedang makan juga masih melirik ke arah saya. Sambil menemani mereka makan, saya mengecek handphone. Ternyata, Wulan mengirimkan foto yang ia ambil di Starbucks ke grup LINE Pers Suara Mahasiswa yang saya ikuti. Foto itu sontak memancing komentar dari teman-teman saya. Apalagi, di bawah foto itu Wulan memberikan caption “Yang jomblo-jomblo lagi butuh pelukan, nggak? Go find her!” Teman saya ada yang berkomentar, “Ya ampun, Dar, segitunya..” dan ada pula yang berkomentar, “Udah kali, Dar..” Beberapa dari mereka mengirimkan stiker dengan ekspresi terkejut dan beberapa orang berkomentar “Tau, Dar, segitunya..” dengan diberi nomor berurutan. Komentar mereka mengisyaratkan bahwa mereka mengira saya begitu kesepian hanya karena saya tak punya pacar.

Di Kancil, seorang teman saya bernama Luhur yang duduk di belakang saya tiba-tiba memanggil dan bertanya, “Dar, itu ada tempelan apa? Lo sengaja, ya? Free hug? No, thanks.” Luhur yang saya kenal memang seorang yang religious, maka saya paham mengapa ia berkomentar seperti itu. Ketika kembali ke FISIP, saya bertemu Gayatri yang langsung memeluk saya sambil berkata, “Ih, Dara modus, minta dipeluk dengan pakai ginian!” Di selasar itu pula, ada sekelompok mahasiswa jurusan Antropologi yang membahas fenomena banyaknya anak Komunikasi yang memakai tanda yang sama. Penggalan obrolan yang saya dengar adalah, “Itu gimana ya, kalau kita peluk beneran?”

Lalu, saya ke mushola FISIP untuk shalat Zuhur. Ketika menunggu antrian wudhu, seorang perempuan bertanya kepada saya, “Eh, itu apaan sih? Temen-temenku pada ngetawain tuh. Bukan kamu yang diketawain, tapi anak-anak lain yang pakai beginian.” Saya balik bertanya,”Kapan kamu lihat mereka?” Ia menjawab, “Tadi, pas turun dari lift. Mereka pada nunjuk-nunjuk dan ketawa-ketawa gitu. Ini ada apaan sih? Kalian jurusan apa?” Saya hanya menjawab bahwa kami dari jurusan Komunikasi, tetapi tidak memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi.

Selesai shalat, saya merapikan jilbab di toilet mushola dan bertemu dengan Nabila yang langsung memeluk saya sambil berkata, “Mau dong, dipeluk.” Lalu, ada pula Rania yang menyapa saya dan memeluk juga sambil bertanya, “Udah dapat berapa pelukan? Ini Kamed, ya pasti?” Di saat yang sama, beberapa perempuan yang juga berjilbab berbisik-bisik dan menunjuk punggung saya. Mereka berada tepat di belakang saya dan tidak menyadari kalau bayangan mereka jelas terpantul di cermin. Tatapan mereka seperti berkata, “Ini perempuan apa sih, maksudnya? Berjilbab gini, tapi menawarkan free hugs.” Saya hanya tersenyum dan bergegas pergi dari situ.

Di teras mushola, saya bertemu Andika yang juga melontarkan rasa penasarannya. “Itu apaan sih, free hug, free hug. Gue ngeliatnya banyak orang yang make gitu. Eh, by the way, peluk gue doooong,” katanya sambil merentangkan tangan. Saya hanya tertawa melihat tingkahnya dan berjalan ke arah kelas. Namun, di depan gedung Nusantara, saya bertemu dengan Khanif dari jurusan Kriminologi. Dari jauh, ia berteriak, “Daraa, itu apa yang nempel?” sambil merentangkan kedua tangannya. Setelah meletakkan tas di kelas, saya lupa mengambil materi untuk hari itu. Saya ke IT Center dan bertemu dengan Joanna, Margaret, dan Serli yang langsung memeluk saya.

Di kelas, Mas Bestian, dosen Pengantar Ekonomi Media juga heran melihat kami yang rata-rata memakai tulisan yang sama. Ia bertanya apa yang sedang kami lakukan dengan tulisan itu. Erlangga menceritakan bahwa kami sedang mengobservasi tanggapan orang-orang jika kami menjadi medium untuk semua pesan. “Wah, metodenya menarik juga, ya!” kata Mas Bestian. Demikianlah tanggapan orang-orang ketika saya menjadi medium untuk pesan “Free hug”.

Dari pengamatan saya, apa yang saya lakukan membuktikan pernyataan “The medium is the message” yang dilontarkan oleh McLuhan. Reaksi yang dikemukakan orang-orang berbeda terhadap saya karena sebagai medium, saya membawa pesan tambahan, misalnya yang terkandung dalam gaya saya berpakaian dan kerudung saya. Tak satupun orang asing yang berani memeluk saya.

Mereka hanya melemparkan tatapan curiga dan heran seolah-olah berkata, “Kamu itu berjilbab, tidak seharusnya kamu berjalan-jalan dengan tulisan yang menawarkan pelukan ke orang-orang.” Reaksi yang saya terima dari perempuan yang juga berjilbab tentu berbeda dengan reaksi dari mereka yang tidak menggunakan jilbab. Ketika Josua, teman saya sendiri mengatakan, “Buka dulu jilbab lo, baru gue peluk,” saya baru sadar bahwa beberapa lelaki di sekitar saya mungkin sudah memeluk saya jika saya tak memakai jilbab. Hal ini jelas menunjukkan bahwa jilbab saya memberi pesan tambahan meskipun saya hanya berperan sebagai medium. Teman-teman saya juga menerima respon yang berbeda-beda dan hal ini makin memperkuat pernyataan McLuhan sebab pesan yang dikirimkan oleh dosen saya sama persis.


Dari praktik ini, saya juga belajar bahwa usahakan untuk tidak berbicara dan menertawakan orang dari belakang karena setelah saya mengalaminya, hal itu sama sekali tidak nyaman. 

20141120

Gigi Bijak

Pernah dengar istilah "wisdom teeth"?

Istilah ini merujuk pada empat gigi geraham belakang yang tumbuh ketika dewasa. Karena masa dewasa identik dengan kebijakan (sebenarnya tidak juga), maka dinamailah mereka dengan wisdom teeth. Namun, dokter gigi saya lebih suka menyebutnya dengan gigi bungsu karena paling akhir muncul. Bungsu dan bijaksana. Terdengar paradoks, memang. Tapi, keduanya hanya simbol yang maknanya arbitrer, bukan?

Mari beralih dari soal pemberian nama. 

Saya akan bercerita bagaimana empat gigi geraham belakang ini mengajari saya sebuah kebijaksanaan; tentang melepaskan.

Bermula dari sebuah malam yang biasa saja; dengan rutinitas yang sama. Tugas kuliah, kepanitiaan, dan liputan yang menanti untuk diperhatikan. Saya baru ingin membaca bahan untuk tugas kuliah ketika kepala sebelah kanan saya terasa sakit. Rasanya sakit sekali hingga saya tak mampu mencerna kata-kata yang terpampang di layar laptop. Awalnya saya menduga migrain itu disebabkan oleh minus mata saya yang bertambah. Tetapi dugaan itu dipatahkan oleh penglihatan saya yang baik-baik saja ketika memakai softlens dengan minus yang sama. Ditambah lagi, rasa sakitnya tak hanya di kepala bagian kanan, tetapi juga merambat ke leher. Akhirnya, saya memutuskan untuk mengakhiri aktivitas malam itu dan tidur.

Keesokan harinya, saya bangun dan rasa sakit itu masih ada, tetapi intensitasnya jauh berkurang. Dan hal itu membuat saya masih bisa menjalani aktivitas dengan normal. Namun, malamnya, rasa sakit itu datang lagi. Di sebelah kanan dan merambat ke leher. 


Lalu, rasa sakit itu tak pernah absen mengunjungi saya selama tujuh hari setelah  hari pertama ia datang.


Puncaknya kemarin malam. Sedikit berbeda, sakitnya tidak hanya di kepala sebelah kanan dan leher, tetapi juga di bagian gusi sebelah kanan. Sekitar pukul sebelas malam, saya merasa gusi saya membengkak. Orang tua saya berbicara melalui telepon, "Kamu hanya sakit gigi biasa, minumlah Ponstan dan besok pasti sudah hilang sakitnya."

Saya tak terima. 19 tahun ini saya rajin menyikat gigi setiap mandi, sehabis makan, dan sebelum tidur. Diagnosa sakit gigi sama saja dengan menegasikan upaya saya merawat gigi sepanjang hidup. Semacam tuduhan keji bahwa saya tak mampu merawat apa yang saya punya. "Tapi, gigi saya tak berlubang sama sekali," saya bersikeras di telepon sambil menahan sakit. 

Perdebatan malam itu usai dengan keputusan; saya harus pergi ke dokter gigi secepatnya. 

Hari ini, saya pergi ke sebuah rumah sakit dekat dengan pusat kota. Setelah mengantre cukup lama, akhirnya perawat memanggil nama saya. 

Dokter menanyakan keluhan saya. "Gusi saya bengkak dan tiap malam saya migrain parah, Dok," jawab saya kesal. "Padahal saya rajin sikat gigi," saya menambahkan, mengantisipasi ia berasumsi sama seperti orang tua saya. "Ini bukan sakit gigi biasa, Dok. Sampai ke leher sakitnya," saya masih juga bersikeras.


Dokter wanita itu tersenyum sabar, memeriksa sebentar, dan berkata, "Wah, ini gigi bungsunya sudah kelihatan sedikit. Kamu berapa umurnya? (melihat ke catatan pasien) Iya, biasanya gigi bungsu tumbuhnya di umur segini,"

Saya masih tidak mengerti. Saya pernah melihat sendiri sepupu saya yang demam karena gigi bungsunya tumbuh. Tapi, demamnya sehari, bukan migrain berhari-hari. 

"Saya curiga ada yang salah dengan posisinya ini," ujar wanita berkacamata itu. Ia lalu menyuruh saya berfoto di bagian radiologi dan kembali lagi nanti.

15 menit kemudian, saya datang dengan hasil panoramic rontgent gigi dan rahang saya.

"Lihat, empat gigi kamu posisinya miring. Masih berada di bawah gusi memang, tetapi rahangmu kecil, saya takut keempatnya tidak bisa tumbuh ke permukaan," ia memberi penjelasan.

Ya sudah, biarkan saja kalau begitu, saya menggumam dalam hati. Saya sudah hidup hanya dengan 28 gigi selama 19 tahun dan baik-baik saja. Tetapi, saya tetap menunggu penjelasannya.

"Efeknya, (saya lega ia langsung sampai pada bagian ini) migrain itu akan terus datang karena ada saraf yang tertekan. Dibilang berbahaya sih tidak juga, tapi akan sangat mengganggu," ujarnya.

Barulah saya paham. Empat gigi yang bahkan belum pernah saya lihat wujud aslinya ini yang menyebabkan migrain dan sakit leher berkepanjangan itu. "Lalu bagaimana, Dok?"

"Sederhana, yang terpendam harus dikeluarkan. Atau akan melukai," ia berkata sambil tersenyum. "Walaupun cara mengeluarkannya akan jauh lebih sakit," tambahnya.

Saya terdiam lama, antara terperangah dengan kata-katanya dan penasaran dengan kalimat berikutnya.

"Bedah mulut."

Dua kata yang membuat saya bergidik nyeri. "Tidak ada cara lain, Dok?" saya mencoba mencari cara lain.

"Sayangnya, belum ada," jawabnya. "Bedah mulutnya tidak harus sekarang, tunggu kamu siap. Sampai kamu merasa bagian itu memang harus dilepaskan. Sampai kamu merasa akan lebih baik hidup tanpanya," dia melanjutkan.

Entah kenapa, ada bagian dari diri saya yang merasa tersindir dengan perkataan itu sekaligus membenarkannya. Ia melanjutkan sambil menuliskan resep,

"Saya hanya bisa memberi obat pengurang rasa sakit, bukan penyembuh. Dalam kasus kamu, sembuh berarti melepaskan." 

Lalu ia menyuruh saya datang lagi lusa untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis bedah mulut. Dari keempat gigi itu, harus dipilih mana yang akan dibuang terlebih dahulu. 


Saya mengucapkan terima kasih kepada dokter yang baik hati itu dan berjalan meninggalkan ruang prakteknya. Beberapa hal baru terlintas di pikiran saya.

Pertama, ada peristiwa yang memang terjadi di luar kontrol saya dan harus saya terima. Bentuk rahang kecil adalah hasil dari proses evolusi selama jutaan tahun yang tak bisa saya ubah. Upaya rajin menyikat gigi sepanjang hidup tak akan mengubah bentuk rahang saya.

Kedua, apapun yang terpendam, pada akhirnya memang harus dikeluarkan jika tidak ingin melukai diri sendiri, meski prosesnya akan terasa lebih sakit di awal. Entah itu empat gigi bungsu atau hal lain yang masih tertinggal. 

Ketiga, tak perlu takut terhadap hasil yang menanti setelah proses pelepasan itu. At least, we do some efforts to dismiss the continuous pain. Entah bedah mulutnya akan berhasil atau tidak nantinya, namun jawabannya akan diketahui jika dan hanya jika "keputusan bedah mulut" diambil. Mungkin hasilnya baik, mungkin hasilnya buruk. Mungkin pengakuanmu akan diterima, mungkin juga ditolak. Mungkin melepaskannya akan membuatmu makin bahagia, mungkin juga tidak. But, when you decide not to ask, the answer is always "no". 

Be brave, anyway!




20112014
I have confessed to you, right?











20141112

Ditolak

Keterusterangan didasari oleh kejujuran
Kata mereka, muaranya adalah kelegaan
Namun, seberapa kita sanggup merelakan
jika keterusterangan berujung penolakan?




12112014
15:58
My journalism paper waits for me.



20140905

Sepatu

Pagi tadi saya masuk kelas Pengantar Pengolahan Data Kualitatif. Dosen saya, Mbak Nadia, menjelaskan poin penting dari penelitian yang bersifat kualitatif. Ia bilang, "Dalam dunia kualitatif, kalian tidak boleh hanya menggunakan etik, tetapi juga emik."

Hampir 3 bulan libur kuliah, saya lupa apa itu etik dan emik. Untunglah, ia menjelaskan.

"Secara gampang, etik adalah pandangan si peneliti, definisi terhadap segala sesuatu, yang kalian bawa ke lapangan. Sementara itu, emik adalah pandangan subjek yang diteliti, apa isi kepala dia tentang suatu hal." 

Oh. Saya pikir saya paham apa yang ia maksud. Menggunakan emik berarti berusaha masuk ke dalam isi kepala subjek yang diteliti dan melihat sebuah fenomena dengan "kacamata" dia. Keluhan Florence di Path mungkin merupakan sesuatu yang buruk bagi saya yang hanya melihat keadaannya dari luar dan tidak mengalami persis apa yang ia alami. Itu jika saya hanya menggunakan etik. Saya "mengukur" keadaan Florence dengan "mistar" milik saya. Padahal, dalam isi kepala Florence, ia tentu punya alasan untuk melakukan tindakan tersebut. Emik menuntut saya untuk memahami alasan itu dengan melepaskan persepsi-persepsi yang saya bawa dari luar.

"Dan itu sulit," Mbak Nadia memperingatkan kami sekelas.

Sepertinya saya pernah mendengar konsep "berusaha menempatkan diri di tempat orang lain" itu sebelumnya.

Ah, ya! Dosen saya yang lain, Mbak Oci, pernah bercerita tentang ungkapan "Put yourself in other people's shoes." Secara umum, idiom ini biasanya merujuk pada sebuah keadaan ketika kita harus mampu ikut merasakan bagaimana rasanya berada di posisi orang lain. 


"Ungkapan itu tidak tepat. Dan juga sulit dilakukan," kata Mbak Oci di kelas Pengantar Ilmu Komunikasi. 


Ya. Memakai sepatu orang lain di kaki kita tidak sama dengan ikut merasakan apa yang sebenarnya ia rasakan ketika memakai sepatu yang sama. 

Katakanlah, sepatu Anda adalah sepatu untuk lari, bermerk tanda centang, bernomor 39, dan Anda merasa perih ketika memakainya karena ternyata ukuran kaki Anda 39-lebih-tetapi-tidak-sampai-nomor-40 ditambah dengan kaus kaki yang tipis dan bekas luka lecet di tumit karena flatshoes yang baru Anda beli sebelumnya masih terlalu kaku. Kemudian, sepatu yang sama dicobakan ke kaki saya yang berukuran 39 dan memakai kaus kaki yang tipis pula. Apakah saya akan merasa perih juga seperti yang Anda rasakan?

Tidak, saya akan merasa nyaman, tanpa masalah. Padahal yang kita kenakan adalah sepatu yang sama. 

Masalahnya sama sekali bukan pada sepatunya, tetapi bagaimana keadaan kaki si pemakai sepatu. Sama sekali bukan tentang keadaan yang harus dihadapi, tetapi bagaimana masing-masing manusia (yang katanya unik) menghadapi keadaan itu. 

Dalam hal ini, saya setuju dengan Mba Oci dan Mbak Nadia. Ikut merasakan apa yang orang lain rasakan itu bukan pekerjaan mudah. Saya harus membuat luka lecet di tumit saya dan memperbesar ukuran kaki saya menjadi ukuran 39-lebih-tetapi-tidak-sampai-nomor-40 (yang entah bagaimana caranya) untuk dapat tepat merasakan apa yang Anda rasakan ketika memakai sepatu lari itu. 


Sekali lagi, itu tidak mudah. 
Tapi, kedua dosen tersebut tidak pernah mengatakan bahwa hal itu tidak mungkin.





06092014
01:47 WIB
Akhirnya saya mengerti mengapa kamu tak mengerti bagaimana rasanya menjadi saya. 












20140807

Ketidaksadaran, 4 Agustus, dan Kamu

“Komunikasi yang selalu kita lakukan sesungguhnya dikuasai oleh alam bawah sadar. Pesan-pesan yang kita terima dan kirimkan selalu diolah oleh ketidaksadaran terlebih dahulu. Itu sebabnya, manusia akan selalu berubah karena banyaknya pesan-pesan yang ia terima dari lingkungannya, meskipun tanpa ia sadari."

                Kalimat-kalimat itu diucapkan oleh dosen saya di kelas Filsafat Komunikasi. Ia menjelaskan teori ketidaksadaran sambil menunjukkan slide bergambar gunung es. Ya, pikiran manusia diibaratkan sebagai gunung es. Apa yang terlihat di permukaan hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan bongkahan yang ada. Apa yang kita utarakan dalam lisan, sesungguhnya melalui proses panjang bernama ketaksadaran.

                Tidak, saya tidak sedang mencoba menulis review untuk bahan ujian semester. Saya hanya ingin menceritakan bahwa enam bulan kemudian, teori itu terbukti; manusia akan selalu berubah dengan dipengaruhi pesan yang masuk ke dalam ketaksadarannya.

                Baiklah, kita mulai saja cerita ini.

                Jika kamu pernah membuka blog ini sebelumnya, mungkin kamu pernah melihat postingan dengan judul angka tingkatan dalam bahasa Inggris. Diawali dengan The Fourth, The Fifth, dan seterusnya hingga The Ninth. Ya, angka-angka itu merujuk pada lamanya hubungan interpersonal yang saya jalani dengan seseorang. Semacam penanda setiap kali durasi hubungan kami bertambah satu bulan.

Sebab saya rasa, sebatas ucapan “happy sixth mensiversarry, baby” terlalu mainstream. Sebab saya kira, hubungan ini begitu  indah hingga semua orang harus tahu betapa bahagianya kami. Sebab saya pikir, dia dan perasaan saya terhadapnya begitu spesial hingga harus ada semacam memoar yang nantinya akan kami kenang sambil tertawa. Sebab, menuliskan kisah-kisah kami adalah sebuah cara untuk mengingatnya lebih lama.

Dulu, saya berpikir seperti itu. Dan saya tak pernah menyesal menuliskannya. Meskipun pada akhirnya, tepat di hari ulang tahun saya yang kesembilan belas, ia membuat saya tak mungkin lagi menuliskan kisah kami dengan judul angka-angka konyol itu.

Hari itu, tanggal empat Agustus baru berlangsung selama dua belas menit.  Ia menelepon saya. Dan, saya berharap ia menyuruh saya keluar rumah dan dia akan berdiri disana, memegang kue tart dengan lilin yang menyala dan balon warna-warni. Lalu saya akan meniup lilinnya, berfoto dengan senyum lebar-mungkin beberapa selfie,  mengunggahnya ke semua social media yang saya punya, menerbangkan balonnya, dan kemudian tidur nyenyak.

Namun, terlalu lama memandangi akun instagram dan path orang-orang dan terlalu sering menonton film bergenre drama membuat “khayalan tentang kejutan ulang tahun yang ideal” terkonstruksi di benak saya. Saya lupa, ia selalu berkata bahwa kami adalah pasangan yang antimainstream. Seharusnya saya juga paham, dia tak akan melakukan ritual mainstream tiup lilin dan foto unyu itu.

Benarlah. Dia memberi saya kejutan yang lain. Sesuatu yang benar-benar mengejutkan. Satu hal yang tak pernah saya kira akan tega ia lakukan; ucapan “Aku mau kita putus..” setelah ucapan “Selamat ulang tahun, ya.” Ia mengakhiri semuanya, tepat di tanggal spesial yang tertulis di semua kartu identitas saya. Bagaimana saya akan lupa?

                Memang, kami berdua sama-sama paham, hubungan ini memang tak begitu baik sebulan belakangan. Terpisah ratusan kilometer dan sibuk dengan kegiatan masing-masing membuat intensitas komunikasi kami berkurang. Setelah kami berada di satu kota pun, keadaan tak membaik. Saya tahu ada yang salah dalam ini semua. Ia pernah bilang, hubungan ini mulai terasa membosankan, terasa tanpa tantangan.  Mengapa ia tak pergi saja ke Dufan dan mencoba semua wahana yang menantang adrenalin itu, jika benar ia butuh tantangan? Mengapa memutuskan mengakhiri semuanya di tanggal empat Agustus?

                Ada begitu banyak “mengapa” yang berputar-putar di otak saya waktu itu. Dan saya merasa punya kewajiban untuk menanyakannya langsung pada orang yang bersangkutan.

                “Aku gak mau kamu terus-terusan sedih dalam hubungan ini. Ada banyak orang yang bisa bikin kamu lebih bahagia, dibanding aku,” jawabnya.

                Rasanya, saya ingin menceramahinya dengan bahasan logical fallacy-sesat pikir yang saya dapatkan di kelas MPKT A. Bagaimana mungkin ia berpikir bahwa hubungan ini hanya membuat saya sedih? Dan dari premis mana ia bisa menarik kesimpulan bahwa mengakhiri semuanya tepat di hari ulang tahun saya bisa menghentikan kesedihan yang ia asumsikan sendiri itu, bukannya malah membuat saya makin sedih? Silogisme macam apa yang membuatnya menyimpulkan bahwa orang lain akan bisa membuat saya lebih bahagia?

                Tapi, jangankan mendebatnya, lidah saya terasa kelu waktu itu. Bermodal skeptisme, saya nekad memastikan, dia hanya ingin mengerjai saya ala FTV atau tidak. Berkali-kali ia menjawab tidak. Saya ragu hingga ia menjawab dengan nama Tuhan. Saya tahu, saya harus percaya. Inilah pil pahit yang harus saya telan, tanpa bantuan air putih sama sekali. Hanya pil pahit. Dan pilnya semakin pahit ketika saya menyadari, seharusnya tanggal  lima Agustus hubungan ini seharusnya genap empat belas bulan.

                Empat belas bulan yang dijadikan olok-olokan. Empat belas bulan yang kini jadi lelucon. Empat belas bulan yang kini hanya bisa ditertawakan.

                Ini bukan pertama kalinya saya menghadapi hubungan yang berakhir. Tapi, ini jelas pertama kalinya hari ulang tahun saya terasa begitu suram. Walaupun saya merayakan ulang tahun tanpa kehadiran orang tua sejak umur enam belas tahun, merencanakan sendiri dan membeli kue tart sendirian di perayaan ulang tahun saya yang ketujuh belas, serta merayakan ulang tahun kedelapan belas di perantauan saat baru masuk kuliah, itu rasanya lebih baik daripada harus seperti ini.

                Tapi sudahlah.

                Rasanya kita sudah terlalu menyimpang dari pembahasan awal pembuka tulisan ini. Seperti yang saya katakan di awal, orang-orang akan selalu berubah dengan dipengaruhi pesan yang masuk ke dalam ketaksadarannya. Dan lelaki yang dulu saya cintai ini, jelas berubah. Ia bukan lagi orang yang menempuh kemacetan ibu kota selama dua jam dengan sepeda motor hanya karena mendengar saya menangis di telepon. Terakhir kali, ia membiarkan saya menangis di sebelahnya dan hanya menatap lurus ke jalanan, tanpa berniat menghentikan mobilnya atau menghapus air mata saya.

                Ia jelas berubah. Meski saya tak tahu persis pesan-pesan apa yang telah mempengaruhi ketidaksadarannya hingga ia berubah seratus delapan puluh derajat. Namun, jika hipotesis yang sama diajukan ke saya, sedikit banyaknya saya juga pasti mengalami perubahan. Tapi, mengapa perasaan saya tetap sama sementara ia tidak adalah sebuah teka teki.

                Mungkin, pesan-pesan yang masuk mengenai berbagai jenis rangkaian listrik telah merebut tempat kenangan-kenangan kami dalam memori otaknya. Mungkin, bukan hanya kenangan kami yang tergantikan di otaknya, tetapi saya pun tergantikan di hatinya. Entah oleh apa. Entah oleh siapa.

                Mungkin, pesan-pesan yang masuk dari lingkungan sekitarnya telah membuat “kulit bawang” di dirinya menebal, terlalu sulit untuk saya kupas hanya dengan pisau self disclosure. Mungkin, ia mengalami terlalu banyak disonansi kognitif ketika menjalani hubungan ini hingga akhirnya memutuskan saya di hari ulang tahun saya menjadi satu-satunya justifikasi minimal yang dapat melegakan hatinya. Mungkin, saya tak lagi bisa memenuhi harapannya sebagai sosok perempuan ideal (karena saya tak bisa masak dan tak bisa memakai eyeliner dengan benar), hingga saya terlempar ke bawah Comparison Level Alternative-nya dan ditinggalkan begitu saja.

                Namun, jika ditanya bagaimana perasaan saya ketika menuliskan ini, saya dapat mengatakan saya baik-baik saja. Saya sudah berhenti menangis dua jam setelah ia menjatuhkan vonis itu. Dan sampai sekarang, saya tak pernah menangisinya lagi. Bagi saya, ia yang dulu menjadi objek dalam setiap tulisan saya sudah pergi jauh, tergantikan oleh sosok asing yang sama sekali tak saya kenal. Ini mungkin terdengar berlebihan, tetapi dengan cara itulah saya mampu mengikhlaskannya tanpa beban.

                Dan, apa saya membencinya? Tidak.
               
                Bagaimana pun, ia pernah menjadi orang yang paling berarti. ia pernah menjadi alasan saya menunggu kereta datang berjam-jam hanya untuk melihat sosoknya. Ia satu-satunya yang mendengarkan cerita saya, tentang betapa frustrasinya saya ketika harus menghadapi dosen mata kuliah MPKT A. Ialah yang dulu membangunkan saya jam tiga pagi untuk belajar sebelum ujian SBMPTN. Ia yang menemani saya menangis berjam-jam ketika saya tak lulus SNMPTN. Ia yang dulu selalu membelikan es krim, karena ia tahu saya senang makan es krim. Dan masih sangat banyak hal baik lainnya yang pernah ia lakukan kepada saya.

                Dia adalah orang baik. Saya selalu percaya itu. Jika ia berubah, bukan berarti ia langsung menjadi orang yang jahat. Hidup tak selalu harus diisi dengan dikotomi semacam itu. Maka dari itu, orang baik tak layak dibenci. Jika diingat, tanpanya mungkin saya tak akan menjadi seperti ini, menjalani hidup dengan begitu banyak hal yang bisa disyukuri. Pun darinya, saya banyak belajar hal-hal yang tidak diajarkan di bangku kuliah. Tentang kesabaran, penantian, memaklumi, menerima, dan yang paling penting; mencintai.

                Terakhir, apakah saya masih mencintainya? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Jawaban atas pertanyaan itu hanya akan berakhir sebagai sebuah paradoks. Ia memberi saya banyak hal indah yang  bisa dikenang, sekaligus memberi hal-hal terburuk yang akan selalu diingat. Menjalani proses ini dengannya adalah bagian yang saya syukuri, sekaligus saya kutuk di akhir. Dia adalah paradoks. Dia adalah contoh dialektika relasional terbaik dalam hubungan interpersonal saya; saya masih mencintainya dan tidak mencintainya lagi di saat yang bersamaan.


                07082014
                20:04 WIB

                Don’t you dare let our best memories bring you sorrow.