20150315

Ketika Saya Menawarkan Pelukan Gratis


Kamis, 26 Februari 2015, saya ditugaskan untuk memakai tulisan berbunyi “Free hug” dan melihat reaksi orang-orang atas pesan itu. Di hari itu, kebetulan saya mengikuti kelas Epistemologi di FIB. Seusai kelas Epistemologi, saya memakai tulisan itu di bagian depan dan belakang tubuh dan berjalan bersama teman saya, Josua, menuju Perpustakaan Pusat.

Dalam perjalanan menuju Perpustakaan, beberapa orang mulai melirik ke arah saya dengan tatapan heran. Beberapa dari mereka yang berjalan bergerombol juga mulai berbisik-bisik dengan temannya sambil sesekali menunjuk ke arah saya. Seorang mahasiswa Korea bahkan berjalan sambil menanyakan, “Free hug?” kepada temannya dengan suara yang cukup keras hingga saya bisa mendengarnya.

Sesampainya di Perpustakaan, saya ikut masuk menemani teman saya yang ingin mengembalikan buku. Saya menunggunya sambil mengecek handphone. Tiba-tiba, dua orang perempuan seusia saya dan juga memakai jilbab, mendekat dan menepuk pundak saya. Saya menoleh dan melihat tatapan kasihan di mata mereka. Kemudian, salah satu dari mereka berkata, “Mbak, ada yang menempelkan ini,” katanya sambil melepas tulisan “Free hug” dari punggung saya. Dari tatapannya, saya tahu mereka mengira saya adalah korban keisengan seseorang. Dalam hati, saya ingin tertawa, tetapi saya hanya tersenyum dan mengatakan, “Terima kasih ya, Mbak.” Ketika saya berkata demikian, mereka berdua melihat tulisan yang sama di perut saya dan merasa lebih heran. Namun, mereka memutuskan pergi. Saat itu, saya melihat mereka saling berbisik satu sama lain sambil melihat ke arah saya.

Kemudian, saya memasang tulisan itu lagi. Kami melewati Starbucks dan melihat Wulan, teman kami yang lain, ada di sana. Kami memutuskan masuk. Ketika masuk, tatapan pelayan di sana langsung mengarah ke punggung saya, begitu pula dengan beberapa pengunjung disana. Wulan bereaksi dengan lebih ekspresif. Ia langsung memeluk saya dan berkata, “Lo pengen banget dipeluk? Gue foto, ah! Ntar gue sebarin ke temen-temen gue. Ini lucu banget! Ada-ada aja sih lo, Dar.” Ia lalu mengambil foto saya dengan handphone-nya. Di saat yang bersamaan, saya mendengar bunyi jepretan kamera dari arah belakang saya. Saya berbalik dan melihat seorang pengunjung buru-buru memasukkan handphone-nya ke kantong. Saya rasa ia pun baru saja melakukan hal yang sama seperti Wulan.

Setelah bertemu dengan Wulan, kami memutuskan untuk ke Mac Room. Disana, saya bertemu Rafly, mahasiswa peminatan Iklan. Ia menyapa saya dan berkomentar, “Anak Kamed pada kenapa sih? Kemarin gue liat Andri pakai ginian, sekarang lo. Kalian pada kalah judi, ya? Nanti gue bikin yang lebih heboh deh di anak Iklan.” Saya hanya tersenyum mendengarnya, lalu ia bertanya lagi, “Bukan tugas dari dosen, kan?” Saya tidak menjawabnya dan mengalihkan pembicaraan.

Lalu, di Mac Room saya juga bertemu dengan Lucky, teman perempuan saya. Melihat saya, Lucky hanya berkomentar kepada Josua, “Tuh, Jo, free hug.” Josua kemudian berkomentar, “Lo buka kerudung dulu, Dar, baru gue peluk.” Lucky tertawa, tetapi ketika kami mengobrol, Lucky kembali bertanya, “Lo ngapain sih? Ini kenapa? Ada apa sih, lo? Pengen banget jadi center of attention?” Lucky menanyakan hal itu berulang-ulang seolah saya baru saja melakukan sesuatu yang melanggar hukum. Namun, saya dan Josua hanya tertawa dan tidak memberitahu Lucky alasan yang sebenarnya. Di tempat yang sama saya juga bertemu dengan Carla. Awalnya ia tak menyadari tulisan itu. Namun, ketika saya, Lucky, dan Josua berbalik pergi, ia sadar dan bertanya, “Free hug banget, Dar?”

Setelah itu, kami bertiga pergi ke Kantin Fasilkom untuk makan siang. Saat berjalan melewati meja-meja di sana, seorang cowo berkata kepada temannya, “Itu apaan, anjir..” sambil menunjuk saya. Orang-orang yang duduk di meja lain pun masih berbisik-bisi dan menujuk-nunjuk.

Karena saya ada kelas pada pukul dua siang, saya memutuskan kembali ke FISIP setelah makan. Di Polay, saya bertemu dengan Harry dan Nikel. Dari kejauhan, mereka berteriak, “Dara, freee huuug!” sambil merentangkan tangan. Mereka bereaksi seperti itu karena telah melihat beberapa teman yang lain memakai tanda yang sama. Di selasar Kopma, saya bertemu dengan Wildan dan Livi. Mereka mengajak saya ke Kancil (Kantin Psikologi) karena mereka belum makan. Dalam perjalanan ke sana, Wildan berkata, “Itu apaan sih yang lo pakai? Alay ih, gue malu jalan sama lo,” katanya setengah bercanda.

Saat itu Kancil sedang ramai karena tepat jam makan siang. Beberapa orang yang sedang makan juga masih melirik ke arah saya. Sambil menemani mereka makan, saya mengecek handphone. Ternyata, Wulan mengirimkan foto yang ia ambil di Starbucks ke grup LINE Pers Suara Mahasiswa yang saya ikuti. Foto itu sontak memancing komentar dari teman-teman saya. Apalagi, di bawah foto itu Wulan memberikan caption “Yang jomblo-jomblo lagi butuh pelukan, nggak? Go find her!” Teman saya ada yang berkomentar, “Ya ampun, Dar, segitunya..” dan ada pula yang berkomentar, “Udah kali, Dar..” Beberapa dari mereka mengirimkan stiker dengan ekspresi terkejut dan beberapa orang berkomentar “Tau, Dar, segitunya..” dengan diberi nomor berurutan. Komentar mereka mengisyaratkan bahwa mereka mengira saya begitu kesepian hanya karena saya tak punya pacar.

Di Kancil, seorang teman saya bernama Luhur yang duduk di belakang saya tiba-tiba memanggil dan bertanya, “Dar, itu ada tempelan apa? Lo sengaja, ya? Free hug? No, thanks.” Luhur yang saya kenal memang seorang yang religious, maka saya paham mengapa ia berkomentar seperti itu. Ketika kembali ke FISIP, saya bertemu Gayatri yang langsung memeluk saya sambil berkata, “Ih, Dara modus, minta dipeluk dengan pakai ginian!” Di selasar itu pula, ada sekelompok mahasiswa jurusan Antropologi yang membahas fenomena banyaknya anak Komunikasi yang memakai tanda yang sama. Penggalan obrolan yang saya dengar adalah, “Itu gimana ya, kalau kita peluk beneran?”

Lalu, saya ke mushola FISIP untuk shalat Zuhur. Ketika menunggu antrian wudhu, seorang perempuan bertanya kepada saya, “Eh, itu apaan sih? Temen-temenku pada ngetawain tuh. Bukan kamu yang diketawain, tapi anak-anak lain yang pakai beginian.” Saya balik bertanya,”Kapan kamu lihat mereka?” Ia menjawab, “Tadi, pas turun dari lift. Mereka pada nunjuk-nunjuk dan ketawa-ketawa gitu. Ini ada apaan sih? Kalian jurusan apa?” Saya hanya menjawab bahwa kami dari jurusan Komunikasi, tetapi tidak memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi.

Selesai shalat, saya merapikan jilbab di toilet mushola dan bertemu dengan Nabila yang langsung memeluk saya sambil berkata, “Mau dong, dipeluk.” Lalu, ada pula Rania yang menyapa saya dan memeluk juga sambil bertanya, “Udah dapat berapa pelukan? Ini Kamed, ya pasti?” Di saat yang sama, beberapa perempuan yang juga berjilbab berbisik-bisik dan menunjuk punggung saya. Mereka berada tepat di belakang saya dan tidak menyadari kalau bayangan mereka jelas terpantul di cermin. Tatapan mereka seperti berkata, “Ini perempuan apa sih, maksudnya? Berjilbab gini, tapi menawarkan free hugs.” Saya hanya tersenyum dan bergegas pergi dari situ.

Di teras mushola, saya bertemu Andika yang juga melontarkan rasa penasarannya. “Itu apaan sih, free hug, free hug. Gue ngeliatnya banyak orang yang make gitu. Eh, by the way, peluk gue doooong,” katanya sambil merentangkan tangan. Saya hanya tertawa melihat tingkahnya dan berjalan ke arah kelas. Namun, di depan gedung Nusantara, saya bertemu dengan Khanif dari jurusan Kriminologi. Dari jauh, ia berteriak, “Daraa, itu apa yang nempel?” sambil merentangkan kedua tangannya. Setelah meletakkan tas di kelas, saya lupa mengambil materi untuk hari itu. Saya ke IT Center dan bertemu dengan Joanna, Margaret, dan Serli yang langsung memeluk saya.

Di kelas, Mas Bestian, dosen Pengantar Ekonomi Media juga heran melihat kami yang rata-rata memakai tulisan yang sama. Ia bertanya apa yang sedang kami lakukan dengan tulisan itu. Erlangga menceritakan bahwa kami sedang mengobservasi tanggapan orang-orang jika kami menjadi medium untuk semua pesan. “Wah, metodenya menarik juga, ya!” kata Mas Bestian. Demikianlah tanggapan orang-orang ketika saya menjadi medium untuk pesan “Free hug”.

Dari pengamatan saya, apa yang saya lakukan membuktikan pernyataan “The medium is the message” yang dilontarkan oleh McLuhan. Reaksi yang dikemukakan orang-orang berbeda terhadap saya karena sebagai medium, saya membawa pesan tambahan, misalnya yang terkandung dalam gaya saya berpakaian dan kerudung saya. Tak satupun orang asing yang berani memeluk saya.

Mereka hanya melemparkan tatapan curiga dan heran seolah-olah berkata, “Kamu itu berjilbab, tidak seharusnya kamu berjalan-jalan dengan tulisan yang menawarkan pelukan ke orang-orang.” Reaksi yang saya terima dari perempuan yang juga berjilbab tentu berbeda dengan reaksi dari mereka yang tidak menggunakan jilbab. Ketika Josua, teman saya sendiri mengatakan, “Buka dulu jilbab lo, baru gue peluk,” saya baru sadar bahwa beberapa lelaki di sekitar saya mungkin sudah memeluk saya jika saya tak memakai jilbab. Hal ini jelas menunjukkan bahwa jilbab saya memberi pesan tambahan meskipun saya hanya berperan sebagai medium. Teman-teman saya juga menerima respon yang berbeda-beda dan hal ini makin memperkuat pernyataan McLuhan sebab pesan yang dikirimkan oleh dosen saya sama persis.


Dari praktik ini, saya juga belajar bahwa usahakan untuk tidak berbicara dan menertawakan orang dari belakang karena setelah saya mengalaminya, hal itu sama sekali tidak nyaman. 

20141120

Gigi Bijak

Pernah dengar istilah "wisdom teeth"?

Istilah ini merujuk pada empat gigi geraham belakang yang tumbuh ketika dewasa. Karena masa dewasa identik dengan kebijakan (sebenarnya tidak juga), maka dinamailah mereka dengan wisdom teeth. Namun, dokter gigi saya lebih suka menyebutnya dengan gigi bungsu karena paling akhir muncul. Bungsu dan bijaksana. Terdengar paradoks, memang. Tapi, keduanya hanya simbol yang maknanya arbitrer, bukan?

Mari beralih dari soal pemberian nama. 

Saya akan bercerita bagaimana empat gigi geraham belakang ini mengajari saya sebuah kebijaksanaan; tentang melepaskan.

Bermula dari sebuah malam yang biasa saja; dengan rutinitas yang sama. Tugas kuliah, kepanitiaan, dan liputan yang menanti untuk diperhatikan. Saya baru ingin membaca bahan untuk tugas kuliah ketika kepala sebelah kanan saya terasa sakit. Rasanya sakit sekali hingga saya tak mampu mencerna kata-kata yang terpampang di layar laptop. Awalnya saya menduga migrain itu disebabkan oleh minus mata saya yang bertambah. Tetapi dugaan itu dipatahkan oleh penglihatan saya yang baik-baik saja ketika memakai softlens dengan minus yang sama. Ditambah lagi, rasa sakitnya tak hanya di kepala bagian kanan, tetapi juga merambat ke leher. Akhirnya, saya memutuskan untuk mengakhiri aktivitas malam itu dan tidur.

Keesokan harinya, saya bangun dan rasa sakit itu masih ada, tetapi intensitasnya jauh berkurang. Dan hal itu membuat saya masih bisa menjalani aktivitas dengan normal. Namun, malamnya, rasa sakit itu datang lagi. Di sebelah kanan dan merambat ke leher. 


Lalu, rasa sakit itu tak pernah absen mengunjungi saya selama tujuh hari setelah  hari pertama ia datang.


Puncaknya kemarin malam. Sedikit berbeda, sakitnya tidak hanya di kepala sebelah kanan dan leher, tetapi juga di bagian gusi sebelah kanan. Sekitar pukul sebelas malam, saya merasa gusi saya membengkak. Orang tua saya berbicara melalui telepon, "Kamu hanya sakit gigi biasa, minumlah Ponstan dan besok pasti sudah hilang sakitnya."

Saya tak terima. 19 tahun ini saya rajin menyikat gigi setiap mandi, sehabis makan, dan sebelum tidur. Diagnosa sakit gigi sama saja dengan menegasikan upaya saya merawat gigi sepanjang hidup. Semacam tuduhan keji bahwa saya tak mampu merawat apa yang saya punya. "Tapi, gigi saya tak berlubang sama sekali," saya bersikeras di telepon sambil menahan sakit. 

Perdebatan malam itu usai dengan keputusan; saya harus pergi ke dokter gigi secepatnya. 

Hari ini, saya pergi ke sebuah rumah sakit dekat dengan pusat kota. Setelah mengantre cukup lama, akhirnya perawat memanggil nama saya. 

Dokter menanyakan keluhan saya. "Gusi saya bengkak dan tiap malam saya migrain parah, Dok," jawab saya kesal. "Padahal saya rajin sikat gigi," saya menambahkan, mengantisipasi ia berasumsi sama seperti orang tua saya. "Ini bukan sakit gigi biasa, Dok. Sampai ke leher sakitnya," saya masih juga bersikeras.


Dokter wanita itu tersenyum sabar, memeriksa sebentar, dan berkata, "Wah, ini gigi bungsunya sudah kelihatan sedikit. Kamu berapa umurnya? (melihat ke catatan pasien) Iya, biasanya gigi bungsu tumbuhnya di umur segini,"

Saya masih tidak mengerti. Saya pernah melihat sendiri sepupu saya yang demam karena gigi bungsunya tumbuh. Tapi, demamnya sehari, bukan migrain berhari-hari. 

"Saya curiga ada yang salah dengan posisinya ini," ujar wanita berkacamata itu. Ia lalu menyuruh saya berfoto di bagian radiologi dan kembali lagi nanti.

15 menit kemudian, saya datang dengan hasil panoramic rontgent gigi dan rahang saya.

"Lihat, empat gigi kamu posisinya miring. Masih berada di bawah gusi memang, tetapi rahangmu kecil, saya takut keempatnya tidak bisa tumbuh ke permukaan," ia memberi penjelasan.

Ya sudah, biarkan saja kalau begitu, saya menggumam dalam hati. Saya sudah hidup hanya dengan 28 gigi selama 19 tahun dan baik-baik saja. Tetapi, saya tetap menunggu penjelasannya.

"Efeknya, (saya lega ia langsung sampai pada bagian ini) migrain itu akan terus datang karena ada saraf yang tertekan. Dibilang berbahaya sih tidak juga, tapi akan sangat mengganggu," ujarnya.

Barulah saya paham. Empat gigi yang bahkan belum pernah saya lihat wujud aslinya ini yang menyebabkan migrain dan sakit leher berkepanjangan itu. "Lalu bagaimana, Dok?"

"Sederhana, yang terpendam harus dikeluarkan. Atau akan melukai," ia berkata sambil tersenyum. "Walaupun cara mengeluarkannya akan jauh lebih sakit," tambahnya.

Saya terdiam lama, antara terperangah dengan kata-katanya dan penasaran dengan kalimat berikutnya.

"Bedah mulut."

Dua kata yang membuat saya bergidik nyeri. "Tidak ada cara lain, Dok?" saya mencoba mencari cara lain.

"Sayangnya, belum ada," jawabnya. "Bedah mulutnya tidak harus sekarang, tunggu kamu siap. Sampai kamu merasa bagian itu memang harus dilepaskan. Sampai kamu merasa akan lebih baik hidup tanpanya," dia melanjutkan.

Entah kenapa, ada bagian dari diri saya yang merasa tersindir dengan perkataan itu sekaligus membenarkannya. Ia melanjutkan sambil menuliskan resep,

"Saya hanya bisa memberi obat pengurang rasa sakit, bukan penyembuh. Dalam kasus kamu, sembuh berarti melepaskan." 

Lalu ia menyuruh saya datang lagi lusa untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis bedah mulut. Dari keempat gigi itu, harus dipilih mana yang akan dibuang terlebih dahulu. 


Saya mengucapkan terima kasih kepada dokter yang baik hati itu dan berjalan meninggalkan ruang prakteknya. Beberapa hal baru terlintas di pikiran saya.

Pertama, ada peristiwa yang memang terjadi di luar kontrol saya dan harus saya terima. Bentuk rahang kecil adalah hasil dari proses evolusi selama jutaan tahun yang tak bisa saya ubah. Upaya rajin menyikat gigi sepanjang hidup tak akan mengubah bentuk rahang saya.

Kedua, apapun yang terpendam, pada akhirnya memang harus dikeluarkan jika tidak ingin melukai diri sendiri, meski prosesnya akan terasa lebih sakit di awal. Entah itu empat gigi bungsu atau hal lain yang masih tertinggal. 

Ketiga, tak perlu takut terhadap hasil yang menanti setelah proses pelepasan itu. At least, we do some efforts to dismiss the continuous pain. Entah bedah mulutnya akan berhasil atau tidak nantinya, namun jawabannya akan diketahui jika dan hanya jika "keputusan bedah mulut" diambil. Mungkin hasilnya baik, mungkin hasilnya buruk. Mungkin pengakuanmu akan diterima, mungkin juga ditolak. Mungkin melepaskannya akan membuatmu makin bahagia, mungkin juga tidak. But, when you decide not to ask, the answer is always "no". 

Be brave, anyway!




20112014
I have confessed to you, right?











20141112

Ditolak

Keterusterangan didasari oleh kejujuran
Kata mereka, muaranya adalah kelegaan
Namun, seberapa kita sanggup merelakan
jika keterusterangan berujung penolakan?




12112014
15:58
My journalism paper waits for me.



20140905

Sepatu

Pagi tadi saya masuk kelas Pengantar Pengolahan Data Kualitatif. Dosen saya, Mbak Nadia, menjelaskan poin penting dari penelitian yang bersifat kualitatif. Ia bilang, "Dalam dunia kualitatif, kalian tidak boleh hanya menggunakan etik, tetapi juga emik."

Hampir 3 bulan libur kuliah, saya lupa apa itu etik dan emik. Untunglah, ia menjelaskan.

"Secara gampang, etik adalah pandangan si peneliti, definisi terhadap segala sesuatu, yang kalian bawa ke lapangan. Sementara itu, emik adalah pandangan subjek yang diteliti, apa isi kepala dia tentang suatu hal." 

Oh. Saya pikir saya paham apa yang ia maksud. Menggunakan emik berarti berusaha masuk ke dalam isi kepala subjek yang diteliti dan melihat sebuah fenomena dengan "kacamata" dia. Keluhan Florence di Path mungkin merupakan sesuatu yang buruk bagi saya yang hanya melihat keadaannya dari luar dan tidak mengalami persis apa yang ia alami. Itu jika saya hanya menggunakan etik. Saya "mengukur" keadaan Florence dengan "mistar" milik saya. Padahal, dalam isi kepala Florence, ia tentu punya alasan untuk melakukan tindakan tersebut. Emik menuntut saya untuk memahami alasan itu dengan melepaskan persepsi-persepsi yang saya bawa dari luar.

"Dan itu sulit," Mbak Nadia memperingatkan kami sekelas.

Sepertinya saya pernah mendengar konsep "berusaha menempatkan diri di tempat orang lain" itu sebelumnya.

Ah, ya! Dosen saya yang lain, Mbak Oci, pernah bercerita tentang ungkapan "Put yourself in other people's shoes." Secara umum, idiom ini biasanya merujuk pada sebuah keadaan ketika kita harus mampu ikut merasakan bagaimana rasanya berada di posisi orang lain. 


"Ungkapan itu tidak tepat. Dan juga sulit dilakukan," kata Mbak Oci di kelas Pengantar Ilmu Komunikasi. 


Ya. Memakai sepatu orang lain di kaki kita tidak sama dengan ikut merasakan apa yang sebenarnya ia rasakan ketika memakai sepatu yang sama. 

Katakanlah, sepatu Anda adalah sepatu untuk lari, bermerk tanda centang, bernomor 39, dan Anda merasa perih ketika memakainya karena ternyata ukuran kaki Anda 39-lebih-tetapi-tidak-sampai-nomor-40 ditambah dengan kaus kaki yang tipis dan bekas luka lecet di tumit karena flatshoes yang baru Anda beli sebelumnya masih terlalu kaku. Kemudian, sepatu yang sama dicobakan ke kaki saya yang berukuran 39 dan memakai kaus kaki yang tipis pula. Apakah saya akan merasa perih juga seperti yang Anda rasakan?

Tidak, saya akan merasa nyaman, tanpa masalah. Padahal yang kita kenakan adalah sepatu yang sama. 

Masalahnya sama sekali bukan pada sepatunya, tetapi bagaimana keadaan kaki si pemakai sepatu. Sama sekali bukan tentang keadaan yang harus dihadapi, tetapi bagaimana masing-masing manusia (yang katanya unik) menghadapi keadaan itu. 

Dalam hal ini, saya setuju dengan Mba Oci dan Mbak Nadia. Ikut merasakan apa yang orang lain rasakan itu bukan pekerjaan mudah. Saya harus membuat luka lecet di tumit saya dan memperbesar ukuran kaki saya menjadi ukuran 39-lebih-tetapi-tidak-sampai-nomor-40 (yang entah bagaimana caranya) untuk dapat tepat merasakan apa yang Anda rasakan ketika memakai sepatu lari itu. 


Sekali lagi, itu tidak mudah. 
Tapi, kedua dosen tersebut tidak pernah mengatakan bahwa hal itu tidak mungkin.





06092014
01:47 WIB
Akhirnya saya mengerti mengapa kamu tak mengerti bagaimana rasanya menjadi saya. 












20140807

Ketidaksadaran, 4 Agustus, dan Kamu

“Komunikasi yang selalu kita lakukan sesungguhnya dikuasai oleh alam bawah sadar. Pesan-pesan yang kita terima dan kirimkan selalu diolah oleh ketidaksadaran terlebih dahulu. Itu sebabnya, manusia akan selalu berubah karena banyaknya pesan-pesan yang ia terima dari lingkungannya, meskipun tanpa ia sadari."

                Kalimat-kalimat itu diucapkan oleh dosen saya di kelas Filsafat Komunikasi. Ia menjelaskan teori ketidaksadaran sambil menunjukkan slide bergambar gunung es. Ya, pikiran manusia diibaratkan sebagai gunung es. Apa yang terlihat di permukaan hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan bongkahan yang ada. Apa yang kita utarakan dalam lisan, sesungguhnya melalui proses panjang bernama ketaksadaran.

                Tidak, saya tidak sedang mencoba menulis review untuk bahan ujian semester. Saya hanya ingin menceritakan bahwa enam bulan kemudian, teori itu terbukti; manusia akan selalu berubah dengan dipengaruhi pesan yang masuk ke dalam ketaksadarannya.

                Baiklah, kita mulai saja cerita ini.

                Jika kamu pernah membuka blog ini sebelumnya, mungkin kamu pernah melihat postingan dengan judul angka tingkatan dalam bahasa Inggris. Diawali dengan The Fourth, The Fifth, dan seterusnya hingga The Ninth. Ya, angka-angka itu merujuk pada lamanya hubungan interpersonal yang saya jalani dengan seseorang. Semacam penanda setiap kali durasi hubungan kami bertambah satu bulan.

Sebab saya rasa, sebatas ucapan “happy sixth mensiversarry, baby” terlalu mainstream. Sebab saya kira, hubungan ini begitu  indah hingga semua orang harus tahu betapa bahagianya kami. Sebab saya pikir, dia dan perasaan saya terhadapnya begitu spesial hingga harus ada semacam memoar yang nantinya akan kami kenang sambil tertawa. Sebab, menuliskan kisah-kisah kami adalah sebuah cara untuk mengingatnya lebih lama.

Dulu, saya berpikir seperti itu. Dan saya tak pernah menyesal menuliskannya. Meskipun pada akhirnya, tepat di hari ulang tahun saya yang kesembilan belas, ia membuat saya tak mungkin lagi menuliskan kisah kami dengan judul angka-angka konyol itu.

Hari itu, tanggal empat Agustus baru berlangsung selama dua belas menit.  Ia menelepon saya. Dan, saya berharap ia menyuruh saya keluar rumah dan dia akan berdiri disana, memegang kue tart dengan lilin yang menyala dan balon warna-warni. Lalu saya akan meniup lilinnya, berfoto dengan senyum lebar-mungkin beberapa selfie,  mengunggahnya ke semua social media yang saya punya, menerbangkan balonnya, dan kemudian tidur nyenyak.

Namun, terlalu lama memandangi akun instagram dan path orang-orang dan terlalu sering menonton film bergenre drama membuat “khayalan tentang kejutan ulang tahun yang ideal” terkonstruksi di benak saya. Saya lupa, ia selalu berkata bahwa kami adalah pasangan yang antimainstream. Seharusnya saya juga paham, dia tak akan melakukan ritual mainstream tiup lilin dan foto unyu itu.

Benarlah. Dia memberi saya kejutan yang lain. Sesuatu yang benar-benar mengejutkan. Satu hal yang tak pernah saya kira akan tega ia lakukan; ucapan “Aku mau kita putus..” setelah ucapan “Selamat ulang tahun, ya.” Ia mengakhiri semuanya, tepat di tanggal spesial yang tertulis di semua kartu identitas saya. Bagaimana saya akan lupa?

                Memang, kami berdua sama-sama paham, hubungan ini memang tak begitu baik sebulan belakangan. Terpisah ratusan kilometer dan sibuk dengan kegiatan masing-masing membuat intensitas komunikasi kami berkurang. Setelah kami berada di satu kota pun, keadaan tak membaik. Saya tahu ada yang salah dalam ini semua. Ia pernah bilang, hubungan ini mulai terasa membosankan, terasa tanpa tantangan.  Mengapa ia tak pergi saja ke Dufan dan mencoba semua wahana yang menantang adrenalin itu, jika benar ia butuh tantangan? Mengapa memutuskan mengakhiri semuanya di tanggal empat Agustus?

                Ada begitu banyak “mengapa” yang berputar-putar di otak saya waktu itu. Dan saya merasa punya kewajiban untuk menanyakannya langsung pada orang yang bersangkutan.

                “Aku gak mau kamu terus-terusan sedih dalam hubungan ini. Ada banyak orang yang bisa bikin kamu lebih bahagia, dibanding aku,” jawabnya.

                Rasanya, saya ingin menceramahinya dengan bahasan logical fallacy-sesat pikir yang saya dapatkan di kelas MPKT A. Bagaimana mungkin ia berpikir bahwa hubungan ini hanya membuat saya sedih? Dan dari premis mana ia bisa menarik kesimpulan bahwa mengakhiri semuanya tepat di hari ulang tahun saya bisa menghentikan kesedihan yang ia asumsikan sendiri itu, bukannya malah membuat saya makin sedih? Silogisme macam apa yang membuatnya menyimpulkan bahwa orang lain akan bisa membuat saya lebih bahagia?

                Tapi, jangankan mendebatnya, lidah saya terasa kelu waktu itu. Bermodal skeptisme, saya nekad memastikan, dia hanya ingin mengerjai saya ala FTV atau tidak. Berkali-kali ia menjawab tidak. Saya ragu hingga ia menjawab dengan nama Tuhan. Saya tahu, saya harus percaya. Inilah pil pahit yang harus saya telan, tanpa bantuan air putih sama sekali. Hanya pil pahit. Dan pilnya semakin pahit ketika saya menyadari, seharusnya tanggal  lima Agustus hubungan ini seharusnya genap empat belas bulan.

                Empat belas bulan yang dijadikan olok-olokan. Empat belas bulan yang kini jadi lelucon. Empat belas bulan yang kini hanya bisa ditertawakan.

                Ini bukan pertama kalinya saya menghadapi hubungan yang berakhir. Tapi, ini jelas pertama kalinya hari ulang tahun saya terasa begitu suram. Walaupun saya merayakan ulang tahun tanpa kehadiran orang tua sejak umur enam belas tahun, merencanakan sendiri dan membeli kue tart sendirian di perayaan ulang tahun saya yang ketujuh belas, serta merayakan ulang tahun kedelapan belas di perantauan saat baru masuk kuliah, itu rasanya lebih baik daripada harus seperti ini.

                Tapi sudahlah.

                Rasanya kita sudah terlalu menyimpang dari pembahasan awal pembuka tulisan ini. Seperti yang saya katakan di awal, orang-orang akan selalu berubah dengan dipengaruhi pesan yang masuk ke dalam ketaksadarannya. Dan lelaki yang dulu saya cintai ini, jelas berubah. Ia bukan lagi orang yang menempuh kemacetan ibu kota selama dua jam dengan sepeda motor hanya karena mendengar saya menangis di telepon. Terakhir kali, ia membiarkan saya menangis di sebelahnya dan hanya menatap lurus ke jalanan, tanpa berniat menghentikan mobilnya atau menghapus air mata saya.

                Ia jelas berubah. Meski saya tak tahu persis pesan-pesan apa yang telah mempengaruhi ketidaksadarannya hingga ia berubah seratus delapan puluh derajat. Namun, jika hipotesis yang sama diajukan ke saya, sedikit banyaknya saya juga pasti mengalami perubahan. Tapi, mengapa perasaan saya tetap sama sementara ia tidak adalah sebuah teka teki.

                Mungkin, pesan-pesan yang masuk mengenai berbagai jenis rangkaian listrik telah merebut tempat kenangan-kenangan kami dalam memori otaknya. Mungkin, bukan hanya kenangan kami yang tergantikan di otaknya, tetapi saya pun tergantikan di hatinya. Entah oleh apa. Entah oleh siapa.

                Mungkin, pesan-pesan yang masuk dari lingkungan sekitarnya telah membuat “kulit bawang” di dirinya menebal, terlalu sulit untuk saya kupas hanya dengan pisau self disclosure. Mungkin, ia mengalami terlalu banyak disonansi kognitif ketika menjalani hubungan ini hingga akhirnya memutuskan saya di hari ulang tahun saya menjadi satu-satunya justifikasi minimal yang dapat melegakan hatinya. Mungkin, saya tak lagi bisa memenuhi harapannya sebagai sosok perempuan ideal (karena saya tak bisa masak dan tak bisa memakai eyeliner dengan benar), hingga saya terlempar ke bawah Comparison Level Alternative-nya dan ditinggalkan begitu saja.

                Namun, jika ditanya bagaimana perasaan saya ketika menuliskan ini, saya dapat mengatakan saya baik-baik saja. Saya sudah berhenti menangis dua jam setelah ia menjatuhkan vonis itu. Dan sampai sekarang, saya tak pernah menangisinya lagi. Bagi saya, ia yang dulu menjadi objek dalam setiap tulisan saya sudah pergi jauh, tergantikan oleh sosok asing yang sama sekali tak saya kenal. Ini mungkin terdengar berlebihan, tetapi dengan cara itulah saya mampu mengikhlaskannya tanpa beban.

                Dan, apa saya membencinya? Tidak.
               
                Bagaimana pun, ia pernah menjadi orang yang paling berarti. ia pernah menjadi alasan saya menunggu kereta datang berjam-jam hanya untuk melihat sosoknya. Ia satu-satunya yang mendengarkan cerita saya, tentang betapa frustrasinya saya ketika harus menghadapi dosen mata kuliah MPKT A. Ialah yang dulu membangunkan saya jam tiga pagi untuk belajar sebelum ujian SBMPTN. Ia yang menemani saya menangis berjam-jam ketika saya tak lulus SNMPTN. Ia yang dulu selalu membelikan es krim, karena ia tahu saya senang makan es krim. Dan masih sangat banyak hal baik lainnya yang pernah ia lakukan kepada saya.

                Dia adalah orang baik. Saya selalu percaya itu. Jika ia berubah, bukan berarti ia langsung menjadi orang yang jahat. Hidup tak selalu harus diisi dengan dikotomi semacam itu. Maka dari itu, orang baik tak layak dibenci. Jika diingat, tanpanya mungkin saya tak akan menjadi seperti ini, menjalani hidup dengan begitu banyak hal yang bisa disyukuri. Pun darinya, saya banyak belajar hal-hal yang tidak diajarkan di bangku kuliah. Tentang kesabaran, penantian, memaklumi, menerima, dan yang paling penting; mencintai.

                Terakhir, apakah saya masih mencintainya? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Jawaban atas pertanyaan itu hanya akan berakhir sebagai sebuah paradoks. Ia memberi saya banyak hal indah yang  bisa dikenang, sekaligus memberi hal-hal terburuk yang akan selalu diingat. Menjalani proses ini dengannya adalah bagian yang saya syukuri, sekaligus saya kutuk di akhir. Dia adalah paradoks. Dia adalah contoh dialektika relasional terbaik dalam hubungan interpersonal saya; saya masih mencintainya dan tidak mencintainya lagi di saat yang bersamaan.


                07082014
                20:04 WIB

                Don’t you dare let our best memories bring you sorrow.